Galuh Purba: Antara Narasi Sejarah, Tradisi Lisan, dan Temuan Megalitik
Baca juga: carang lembayung dan Wong Pajajaran Kata Pengantar Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan manusia ke bumi dengan bekal akal, rasa, dan ingatan. Sejarah, pada hakikatnya, adalah bagian dari amanah tersebut: upaya manusia memahami jejak masa lalu agar tidak terputus dari akar asal-usulnya. Tulisan ini disusun sebagai ikhtiar kecil untuk membaca ulang narasi tentang Galuh Purba, khususnya yang sering dikutip dari tulisan para sejarawan kolonial dan penafsiran populer di masyarakat. Ikhtiar ini bukan untuk membantah secara gegabah, tetapi untuk mengajak pembaca lebih tabayyun, tidak menelan sejarah secara mentah, dan tidak pula menolaknya dengan emosi. Di wilayah Purbalingga, Banyumas, dan lereng Gunung Slamet, kita mendapati banyak batu-batu kuno dan tinggalan megalitik yang tidak disertai prasasti tertulis. Ketiadaan tulisan bukan berarti ketiadaan peradaban. Sebagaimana firman Allah, banyak tanda-tanda di bumi yang hanya da...