Galuh Purba: Antara Narasi Sejarah, Tradisi Lisan, dan Temuan Megalitik


Kata Pengantar
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan manusia ke bumi dengan bekal akal, rasa, dan ingatan. Sejarah, pada hakikatnya, adalah bagian dari amanah tersebut: upaya manusia memahami jejak masa lalu agar tidak terputus dari akar asal-usulnya.
Tulisan ini disusun sebagai ikhtiar kecil untuk membaca ulang narasi tentang Galuh Purba, khususnya yang sering dikutip dari tulisan para sejarawan kolonial dan penafsiran populer di masyarakat. Ikhtiar ini bukan untuk membantah secara gegabah, tetapi untuk mengajak pembaca lebih tabayyun, tidak menelan sejarah secara mentah, dan tidak pula menolaknya dengan emosi.
Di wilayah Purbalingga, Banyumas, dan lereng Gunung Slamet, kita mendapati banyak batu-batu kuno dan tinggalan megalitik yang tidak disertai prasasti tertulis. Ketiadaan tulisan bukan berarti ketiadaan peradaban. Sebagaimana firman Allah, banyak tanda-tanda di bumi yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang mau berpikir dan merenung.
Namun demikian, penulis juga menyadari bahwa tidak semua tinggalan purba dapat langsung dimaknai sebagai kerajaan dalam pengertian politik. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba berdiri di tengah: menghormati jejak leluhur, sambil tetap berhati-hati dalam menarik kesimpulan.
Semoga catatan ini menjadi wasilah pencerahan, bukan bahan perdebatan, serta menumbuhkan sikap rendah hati dalam membaca sejarah.
Wallāhu a‘lam.

Pendahuluan

Narasi mengenai Galuh Purba yang dikaitkan dengan wilayah lereng Gunung Slamet semakin banyak beredar dalam tulisan sejarah populer. Narasi ini umumnya merujuk pada interpretasi sejarawan Belanda W.J. van der Meulen, khususnya dalam karyanya Indonesia di Ambang Sejarah, yang menempatkan wilayah tersebut sebagai pusat peradaban awal yang berpengaruh luas di Tanah Jawa.

Tulisan-tulisan tersebut memiliki nilai penting dalam membangkitkan kesadaran sejarah lokal. Namun, agar tidak terjadi pemahaman yang berlebihan atau penafsiran yang bersifat mutlak, diperlukan narasi pembanding yang menempatkan tradisi, temuan arkeologis, dan kajian akademis secara proporsional.

Naskah ini disusun sebagai upaya pencerahan, bukan pembantahan, dengan tujuan menjembatani sejarah populer, tradisi lisan, dan kaidah akademik.


Galuh Purba dalam Perspektif Sejarah

Karya W.J. van der Meulen ditulis pada masa ketika penelitian arkeologi di pedalaman Jawa masih terbatas. Pendekatan yang digunakan banyak memanfaatkan tradisi lisan, toponimi, dan perbandingan budaya. Oleh sebab itu, pandangan tentang Galuh Purba lebih tepat dipahami sebagai hipotesis sejarah awal, bukan kesimpulan final yang telah diverifikasi melalui prasasti atau ekskavasi sistematis.

Dalam historiografi modern, hipotesis semacam ini lazim dan sah, selama disertai penjelasan mengenai keterbatasan data.


Temuan Bebatuan Kuno dan Budaya Megalitik

Baca: cermin yang Berdebu

Wilayah Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara, dan sekitarnya menunjukkan adanya temuan bebatuan kuno seperti batu tegak, batu datar, susunan batu alam, serta punden sederhana. Secara arkeologis, temuan-temuan ini lebih tepat dikaitkan dengan budaya megalitik, yakni kebudayaan masyarakat pra-Hindu yang telah mengenal sistem kepercayaan dan ritus leluhur, tetapi belum mengenal tradisi tulis-menulis.

Hingga kini, belum ditemukan prasasti atau artefak bertulisan di wilayah tersebut yang dapat memastikan keberadaan kerajaan tertulis pada masa pra-Hindu. Dengan demikian, bebatuan megalitik menjadi bukti adanya peradaban tua, namun belum dapat dijadikan bukti keberadaan negara atau kerajaan formal.


Peradaban Tua dan Batasan Istilah Kerajaan

Perlu dibedakan secara tegas antara peradaban tua dan kerajaan tertulis. Peradaban tua merujuk pada masyarakat yang telah mapan secara budaya, sementara kerajaan tertulis mensyaratkan adanya administrasi, struktur politik, dan bukti tertulis.

Dalam konteks ini, istilah Galuh Purba dapat dipahami sebagai penanda wilayah peradaban awal atau ingatan budaya kolektif, bukan sebagai kerajaan tertulis dalam pengertian akademis.


Bahasa, Tradisi Lisan, dan Ingatan Budaya

Bahasa Banyumasan yang bersifat konservatif serta legenda-legenda tentang tokoh Pajajaran dan petilasan di sekitar Gunung Slamet menunjukkan adanya kesinambungan budaya jangka panjang. Tradisi lisan ini memiliki nilai penting sebagai identitas dan memori kolektif, namun dalam penulisan sejarah perlu dibaca berdampingan dengan data arkeologis agar tidak terjadi pencampuran antara simbol, mitos, dan fakta.


Kesimpulan

Berdasarkan data yang tersedia hingga saat ini, posisi yang paling adil dan akademis adalah bahwa wilayah lereng Gunung Slamet merupakan salah satu kawasan peradaban tua pra-Hindu di Jawa, yang ditandai oleh temuan bebatuan megalitik dan tradisi leluhur yang kuat. Narasi tentang Galuh Purba dapat dipahami sebagai hipotesis dan ingatan budaya, namun belum dapat dibuktikan sebagai kerajaan tertulis karena ketiadaan prasasti dan bukti administrasi kuno.


GLOSARIUM ISTILAH

Artefak

Benda peninggalan masa lalu yang berkaitan dengan aktivitas manusia.

Contoh lokal: Batu-batu yang oleh masyarakat Purbalingga dan Banyumas diyakini sebagai peninggalan leluhur.


Budaya Megalitik

Kebudayaan pra-Hindu yang memanfaatkan batu besar atau batu alam untuk keperluan ritual.

Contoh lokal: Susunan batu sederhana di lereng Gunung Slamet.


Dolmen

Batu datar yang disangga batu lain sebagai sarana ritual.

Contoh lokal: Batu datar yang oleh warga Banyumas disebut sebagai batu sajen.


Hipotesis Sejarah

Dugaan sejarah yang belum diverifikasi secara penuh.

Contoh lokal: Pandangan tentang Galuh Purba sebagai kerajaan induk.


Kerajaan Tertulis

Entitas politik yang dibuktikan oleh prasasti atau catatan tertulis.

Contoh lokal: Tidak ditemukannya prasasti di wilayah Purbalingga.


Megalitik

Penggunaan batu besar atau batu alam dalam kehidupan religius masyarakat prasejarah.

Contoh lokal: Batu wingit di sekitar Sungai Serayu.


Menhir

Batu tegak sebagai simbol ritual atau leluhur.

Contoh lokal: Batu tegak tunggal di wilayah perbukitan Purbalingga.


Narasi Sejarah Populer

Penyajian sejarah dengan bahasa ringan untuk masyarakat luas.

Contoh lokal: Artikel daring tentang Galuh Purba.


Peradaban Tua

Masyarakat mapan yang belum mengenal tulisan.

Contoh lokal: Komunitas agraris Banyumas pra-Hindu.


Petilasan

Tempat yang diyakini secara tradisi sebagai bekas singgah tokoh tertentu.

Contoh lokal: Goa dan situs keramat di Purbalingga.


Prasasti

Tulisan kuno sebagai bukti sejarah utama.

Contoh lokal: Ketiadaan prasasti kuno di wilayah lereng Gunung Slamet.


Proto-sejarah

Masa peralihan antara prasejarah dan sejarah tertulis.

Contoh lokal: Budaya megalitik di kawasan Serayu–Slamet.


Toponimi

Kajian nama tempat sebagai petunjuk sejarah.

Contoh lokal: Nama sungai dan desa di Banyumas.


Tradisi Lisan

Cerita turun-temurun sebagai memori kolektif.

Contoh lokal: Legenda Prabu Siliwangi di wilayah Banyumas.


Wilayah Peradaban

Kawasan dengan kesinambungan budaya jangka panjang.

Contoh lokal: Lereng Gunung Slamet sebagai wilayah peradaban tua.


Disusun sebagai bahan pencerahan sejarah lokal yang proporsional, terbuka, dan akademis.

Penafsir Jalanan 

Baca juga: ketika lidah melukai namun tangan tak mampu mengobati

ketika kebencian menutup pintu Ilmu

Comments

  1. Menjadi referensi cara mengikuti dan menguak sejarah budaya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU