RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS
(Dialog di Rumah Kiyai Desa part 2) Baca: Empat Malaikat penjaga manusia Kadang Allah tidak menurunkan jawaban lewat mimpi atau kitab tebal. Ia menghadirkannya lewat obrolan sederhana, di sela asap rokok lintingan, kopi pahit, dan ketela goreng yang masih mengepul. Malam itu, selepas Isya, tiga orang duduk di rumah Kiyai Dul Kamid masing-masing membawa keresahan, dan pulang dengan sedikit ketenangan. Di Serambi Rumah Kiyai Kang Dulhadi baru saja mengeluarkan tembakau dari saku sarungnya. Tangannya cekatan melinting rokok, tapi pikirannya terlihat ruwet. Kang Paiman (nyengir): “Lintinganmu kok ora rampung-rampung, Kang. Iki nglinting rokok opo mikir?” Kang Dulhadi: “Yo mikir, Man. Nek uripku iki iso dilinting rapi koyok rokok, mbok menawa ora buyar.” Kiyai Dul Kamid tersenyum sambil menyulut korek. Kiyai Dul Kamid: “Lintingan kuwi nek kesusu malah mbrodol. Urip yo ngono. Kesusu pengin rampung, pengin cepet sukses opo sugeh, malah buyar.” Asap rokok mulai naik pelan, me...