Posts

Showing posts with the label Kalam Hikmah

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Image
(Dialog di Rumah Kiyai Desa part 2) Baca:  Empat Malaikat penjaga manusia Kadang Allah tidak menurunkan jawaban lewat mimpi atau kitab tebal. Ia menghadirkannya lewat obrolan sederhana, di sela asap rokok lintingan, kopi pahit, dan ketela goreng yang masih mengepul. Malam itu, selepas Isya, tiga orang duduk di rumah Kiyai Dul Kamid masing-masing membawa keresahan, dan pulang dengan sedikit ketenangan. Di Serambi Rumah Kiyai Kang Dulhadi baru saja mengeluarkan tembakau dari saku sarungnya. Tangannya cekatan melinting rokok, tapi pikirannya terlihat ruwet. Kang Paiman (nyengir): “Lintinganmu kok ora rampung-rampung, Kang. Iki nglinting rokok opo mikir?” Kang Dulhadi: “Yo mikir, Man. Nek uripku iki iso dilinting rapi koyok rokok, mbok menawa ora buyar.” Kiyai Dul Kamid tersenyum sambil menyulut korek. Kiyai Dul Kamid: “Lintingan kuwi nek kesusu malah mbrodol. Urip yo ngono. Kesusu pengin rampung, pengin cepet sukses opo sugeh, malah buyar.” Asap rokok mulai naik pelan, me...

RIZKI ANTARA JANJI LANGIT DAN KENYATAAN BUMI

Image
baca:  Istidraj bergelimang Harta Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tak ada tema yang lebih sering mengusik hati manusia selain rizki.
Ada orang yang rajin sholat, puasa, doa tak pernah putus, tapi hidupnya tetap sederhana, bahkan pas-pasan.
Ada pula yang jarang ke masjid, sholat pun bolong-bolong, tapi hartanya melimpah, usahanya lancar, rumahnya bertingkat. Lalu manusia mulai bertanya dalam hati atau dengan suara keras:
“Bukankah Allah sudah menjamin rizki setiap makhluk?”
“Kalau begitu, kenapa hidup tidak adil?”
“Atau jangan-jangan janji Allah itu… tidak sepenuhnya nyata?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering tidak muncul di mimbar besar, tapi lahir di teras masjid, warung kopi, atau ruang tamu sederhana seperti malam itu, seusai sholat Isya berjamaah di sebuah masjid desa. Awal Percakapan Malam itu angin berembus pelan. Jamaah Isya mulai bubar.
Kiyai Dul Kamid seorang kiyai kampung yang dikenal kalem dan ndak neko-neko melangkah keluar masjid sambil membetulka...

Cermin Yang Berdebu

Image
baca :  ketika Ilmu dikalahkan oleh Nafsu Hati bukan sekadar daging bernama qalb,
ia cermin Tuhan, tempat nur dan adab.
Namun ia sakit tanpa terasa sebab,
sombong, riya’, hasad—racun yang senyap. Kata Ghazali, awal penyakit bermula,
saat diri dipuja, Tuhan terlupa.
Ilmu dipakai untuk tangga kuasa,
bukan untuk tunduk, tapi untuk merasa mulia. Hasad membakar amal tanpa suara,
bagai api memakan kayu pahala.
Riya’ memoles ibadah semata rupa,
dipersembahkan pada manusia, bukan Yang Esa. Cinta dunia akar segala luka,
jabatan, harta, sanjungan fana.
Hati terikat, ruh pun merana,
lupa bahwa kubur tak bertanya pangkat apa. Lalu apa obatnya? tanya jiwa gelisah,
Ghazali menjawab dengan hikmah yang jelas:
Ilmu yang menghidupkan, bukan membanggakan,
amal yang ikhlas, bukan dipertontonkan. Obat sombong: kenali asal kejadian,
dari tanah hina menuju kefanaan.
Obat hasad: ridha pada pembagian,
yakini Tuhan Maha Adil dalam ketetapan. Obat riya’: sembunyikan amal dan doa,
biarkan hanya Al...

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

Image
baca:  Langkah tergesa-gesa sang kiyai menunggu kehancuran perusak NU Dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita menjumpai orang-orang yang menjauh dari ahli ilmu. Bukan karena ahli ilmu tersebut melakukan kesalahan, melanggar syariat, atau menyimpang dari norma agama, tetapi semata-mata karena rasa tidak suka, benci, atau faktor subjektif tertentu. Ketidaksukaan ini kemudian berkembang menjadi sikap tidak respek terhadap ilmu dan nasihat yang disampaikan. Fenomena ini bukan perkara sepele. Dalam pandangan agama, sikap seperti ini dapat menyeret seseorang pada dosa, bahkan mengeraskan hati hingga sulit menerima kebenaran. Membenci Tanpa Alasan yang Benar Islam adalah agama yang adil. Ia memerintahkan umatnya untuk menilai sesuatu berdasarkan kebenaran, bukan perasaan pribadi. Ketika seseorang membenci atau menjauhi ahli ilmu tanpa alasan syar’i, padahal ahli ilmu tersebut tidak berbuat zalim dan tidak melanggar agama, maka kebencian itu lahir dari hawa nafsu. Allah Ta’al...