Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

baca: Langkah tergesa-gesa sang kiyai

menunggu kehancuran perusak NU

Dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita menjumpai orang-orang yang menjauh dari ahli ilmu. Bukan karena ahli ilmu tersebut melakukan kesalahan, melanggar syariat, atau menyimpang dari norma agama, tetapi semata-mata karena rasa tidak suka, benci, atau faktor subjektif tertentu. Ketidaksukaan ini kemudian berkembang menjadi sikap tidak respek terhadap ilmu dan nasihat yang disampaikan.

Fenomena ini bukan perkara sepele. Dalam pandangan agama, sikap seperti ini dapat menyeret seseorang pada dosa, bahkan mengeraskan hati hingga sulit menerima kebenaran.

Membenci Tanpa Alasan yang Benar

Islam adalah agama yang adil. Ia memerintahkan umatnya untuk menilai sesuatu berdasarkan kebenaran, bukan perasaan pribadi. Ketika seseorang membenci atau menjauhi ahli ilmu tanpa alasan syar’i, padahal ahli ilmu tersebut tidak berbuat zalim dan tidak melanggar agama, maka kebencian itu lahir dari hawa nafsu.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menegaskan bahwa kebencian tidak boleh menjadi alasan untuk menolak kebenaran atau bersikap tidak adil, terlebih kepada orang yang membawa ilmu dan nasihat.

Menjauh dari Ahli Ilmu, Menjauh dari Cahaya

Ahli ilmu dalam Islam bukan sekadar orang pintar, tetapi pewaris para nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Menjauh dari mereka tanpa alasan yang benar sama artinya dengan menjauh dari warisan kenabian: ilmu, hikmah, dan petunjuk. Bukan berarti ahli ilmu itu ma’shum (terjaga dari salah), tetapi selama mereka berada di atas jalan kebenaran dan syariat, maka ilmu mereka tetap bernilai.

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:

“Ilmu adalah kehidupan bagi hati, cahaya bagi penglihatan batin, dan kekuatan bagi jiwa.”

Jika seseorang menutup diri dari ilmu karena kebencian personal, maka sejatinya ia sedang memadamkan cahaya bagi hatinya sendiri.

Bahaya Hati yang Tertutup dari Nasihat

Salah satu dampak paling berbahaya dari sikap tidak respek terhadap ahli ilmu adalah tertutupnya hati dari nasihat. Padahal, nasihat adalah bentuk kasih sayang dalam agama.

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami?” (QS. Al-Hajj: 46)

Hati yang menolak nasihat bukan karena kebenaran isinya, melainkan karena siapa yang menyampaikannya, adalah tanda hati yang mulai sakit. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga: ketika ilmu dikalahkan oleh nafsu

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu tanda rusaknya hati adalah sulit menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu jelas dan datang dari orang saleh.

Mati Hati karena Menolak Kebenaran

Menolak ilmu dan nasihat karena kebencian pribadi dapat mengantarkan seseorang pada kondisi yang disebut “mati hati”. Bukan mati secara fisik, tetapi mati dari rasa takut kepada Allah dan kepekaan terhadap kebenaran.

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata:

“Binasalah seseorang bukan karena ia tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena ia membenci kebenaran ketika kebenaran itu datang kepadanya.”

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله juga menegaskan:

“Hati yang hidup adalah hati yang menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya, sedangkan hati yang mati adalah hati yang menolak kebenaran karena hawa nafsu.”

Sikap yang Seharusnya Dimiliki Seorang Muslim

Seorang Muslim yang sehat imannya akan menilai ilmu berdasarkan dalil dan kebenarannya, bukan berdasarkan rasa suka atau tidak suka kepada penyampainya. Jika ada kekeliruan, maka diluruskan dengan adab, bukan dengan kebencian dan pengingkaran total.

Imam Syafi’i رحمه الله berkata dengan penuh hikmah:

“Pendapatku benar, tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin benar.”

Ucapan ini mengajarkan kerendahan hati dan keterbukaan terhadap ilmu, siapa pun yang menyampaikannya.

Penutup

Membenci ahli ilmu tanpa alasan syar’i, lalu menolak ilmu dan nasihatnya, adalah perbuatan yang berbahaya bagi iman dan hati. Sikap ini dilarang dalam agama karena mengantarkan pada ketidakadilan, dosa, dan kerasnya hati. Seorang Muslim hendaknya senantiasa membersihkan niat, menundukkan ego, dan membuka hati untuk menerima kebenaran, selama kebenaran itu sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang hidup, lembut menerima nasihat, mencintai ilmu dan ahlinya, serta dijauhkan dari kebencian yang menutup pintu hidayah. Aamiin.

Wallahua'lam

Penafsir Jalanan 

Baca : batas kesabaran seorang istri menahan

Comments

Popular posts from this blog

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU