Posts

Showing posts with the label Ilmu

Cermin Yang Berdebu

Image
baca :  ketika Ilmu dikalahkan oleh Nafsu Hati bukan sekadar daging bernama qalb,
ia cermin Tuhan, tempat nur dan adab.
Namun ia sakit tanpa terasa sebab,
sombong, riya’, hasad—racun yang senyap. Kata Ghazali, awal penyakit bermula,
saat diri dipuja, Tuhan terlupa.
Ilmu dipakai untuk tangga kuasa,
bukan untuk tunduk, tapi untuk merasa mulia. Hasad membakar amal tanpa suara,
bagai api memakan kayu pahala.
Riya’ memoles ibadah semata rupa,
dipersembahkan pada manusia, bukan Yang Esa. Cinta dunia akar segala luka,
jabatan, harta, sanjungan fana.
Hati terikat, ruh pun merana,
lupa bahwa kubur tak bertanya pangkat apa. Lalu apa obatnya? tanya jiwa gelisah,
Ghazali menjawab dengan hikmah yang jelas:
Ilmu yang menghidupkan, bukan membanggakan,
amal yang ikhlas, bukan dipertontonkan. Obat sombong: kenali asal kejadian,
dari tanah hina menuju kefanaan.
Obat hasad: ridha pada pembagian,
yakini Tuhan Maha Adil dalam ketetapan. Obat riya’: sembunyikan amal dan doa,
biarkan hanya Al...

Rois 'Am Terburuk Sepanjang Perjalanan

Image
langkah tergesa-gesa sang kiyai baca :   tabayun sang kiyai Sebuah organisasi keagamaan yang telah melampaui usia satu abad bukanlah bangunan biasa. Ia lahir dari peluh para ulama, tumbuh dari kesabaran para pendahulu, dan bertahan karena adab, ilmu, serta keikhlasan yang diwariskan lintas generasi. Dalam perjalanan panjang itu, organisasi ini dikenal sebagai rumah besar umat: santun dalam sikap, teduh dalam perbedaan, dan matang dalam menyikapi konflik. Sejak awal berdirinya hingga masa-masa sebelum kepemimpinan hari ini, struktur tertinggi organisasi ini bertumpu pada Syuriah—sebuah majelis luhur yang berfungsi sebagai penjaga arah keagamaan dan moral. Dipimpin oleh Rois ‘Aam, Syuriah bukan sekadar simbol, melainkan penjaga marwah, penimbang kebijakan, dan peneduh ketika badai konflik datang. Ia ibarat majelis syura, laksana senator ruhani, yang memastikan setiap langkah organisasi selaras dengan nilai agama, adab keulamaan, dan maslahat jama’ah. Dalam sejarahnya...

Langkah Tergesa Sang Kiyai

Image
baca:  menunggu kehancuran perusak NU Ia disebut alim, berjubah sunyi Namun lisannya melangkah tanpa tabayuni Keputusan dijatuhkan tergesa dan tinggi Tanpa mendengar denyut hati santri Satu kalimat memecah barisan rapi Umat gaduh, saling curiga dan membenci Organisasi yang dahulu teduh berseri Kini muram oleh sikap sepihak sang pemimpin sendiri Ada yang memilih menahan emosi Mengharap damai demi maslahat organisasi Namun sekelompok berdiri membabi buta membela posisi Bukan karena kebenaran, tapi kepentingan pribadi dan koleksi kuasa duniawi Ironi datang dalam selembar edaran resmi Seruan tabayun setelah bara menyala tinggi Padahal tabayun mestinya hadir di awal peristiwa ini Bukan penenang luka setelah umat terbelah dan tersakiti Lebih afdol tabayun dengan silaturahmi Bertatap wajah, menyambung hati, menundukkan ego diri Satu kantor, satu ruang, satu jalan rohani Namun langkah terhenti seakan takut atau benci Jika ilmu tak disertai adab hakiki Maka ia berubah menjadi pi...