Posts

**Episode 5 Jagongan Serambi Masjid: Ikhlas di Zaman Pamer**

Image
Jagongan Serambi Masjid – Episode 5 Baca juga  episode 4 episode 3 Hujan sudah reda malam itu. Tinggal sisa dingin yang menempel di lantai serambi, dan bau tanah basah yang belum sepenuhnya pergi. Jagongan kemarin menyisakan banyak diam. Bukan karena kehabisan kata, tetapi karena masing-masing pulang membawa cermin kecil di dadanya. Tentang adab saat berbeda. Tentang suara yang terlalu ramai. Tentang hati yang sering lebih sibuk membenarkan diri daripada membenahi diri. Malam ini, mereka kembali duduk melingkar. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk belajar satu hal yang sering terlupa: bagaimana menjaga hati agar tetap jujur di hadapan Allah, saat dunia terus meminta kita untuk terlihat benar di hadapan manusia. Dari sinilah jagongan Episode 5 dimulai. Baca juga  qolb bahasa yang mulai asing di zaman ramai ​ Malam itu serambi masjid lebih sepi dari biasanya. Hujan sudah berhenti sejak Magrib. Yang tersisa hanya dingin tipis dan suara dedaun...

**Episode 4 Jagongan Serambi Masjid: Adab Ikhtilaf & Merawat Hati di Zaman Bising**

Image
Baca juga :  episode 3 ngopi hujan dan ujian Hujan masih turun pelan, mengetuk genting masjid seperti dzikir yang tidak putus. Empat orang duduk melingkar di serambi, kopi mengepul, suasana hangat selepas Isya. “Yai,” Rizal membuka jagongan, “kok sekarang ini orang-orang pinter gampang ribut, terutama di media sosial?” Kiai Dul Kamid tersenyum tipis. “Itu bukan soal dalilnya, Le. Itu soal wadahnya.”¹ “Wadah maksudnya, Yai?” tanya Kang Nur. “Nggeh,” jawab Kiai pelan. “Ilmu itu seperti kopi. Kalau gelasnya bersih, wanginya keluar. Kalau gelasnya kotor, kopinya tetap kopi, tapi rasanya rusak.”⁵ Kang Dul Hadi langsung nyeletuk sambil mengangkat cangkirnya, “Berarti masalahnya bukan kopinya, tapi gelasnya ya, Yai?” Kiai tersenyum. “Nah… itulah hati.” Rizal mengangguk pelan. “Berarti ikhtilaf sekarang ini bukan sekadar beda pendapat, tapi beda kondisi hati?” “Persis,” jawab Kiai. “Dulu para ulama berbeda pendapat, tapi hatinya tetap tenang dan saling menjaga ad...

Episode 3 Ngopi, Hujan, dan Ujian Kejujuran Hati

Image
​ (Jagongan Serambi Masjid – Bahasa Hati, Bagian Ketiga) Baca juga :  QOLB bahasa yang mulai asing di zaman ramai episode 2 bahasa qolb yang mulai terlupa Hujan belum juga berhenti. Rintiknya kini lebih halus, namun lebih rapat. Selepas jamaah Isya, serambi masjid kembali ramai—kali ini oleh aroma kopi tubruk yang mengepul dari gelas-gelas kecil. Kang Dul Hadi sibuk mengaduk kopi. Kang Dul Hadi: Ngopi niki penting, Kyai. Biar obrolan niku melek. Nek ora, sing melek mung hujane. Tawa kecil menyebar. Kyai Dul Kamid tersenyum sambil merapatkan sarung. Kyai Dul Kamid: Kopi iku kaya ilmu, Dul. Nek kakehan, deg-degan. Nek pas, dadi terang. Rizal tak menunggu lama. Wajahnya tampak lebih serius dari malam-malam sebelumnya. Pertanyaan yang Mulai Menusuk Baca juga:  Rajab menanam Sya'ban merawat Ramadhan menuai Rizal: Kyai… menawi basa ati iku penting, napa kathah wong sing rumangsa “sudah tulus”, nanging isih gawe lara ati wong liya? Kyai Dul Kamid terdiam sejenak. Tasbih d...

Episode 2... Hujan, Hati, dan Bahasa yang Pelan-Pelan Menyatu

Image
(Jagongan Malam Jumat di Serambi Masjid) Baca juga: episode 1  QOLB bahasa yang mulai asing Rajab Menanam Sya'ban merawat Hujan turun pelan sejak selepas Isya. Rintiknya mengetuk genting masjid, tek… tek… tek…, seperti irama dzikir yang tak putus. Serambi masjid malam itu lebih hidup. Tikar digelar, kopi panas mengepul dan sepiring singkong goreng, dan empat sosok kembali duduk melingkar. Kyai Dul Kamid datang lebih awal. Sarungnya sedikit terangkat, peci tetap rapi. Kang Dul Hadi menyusul sambil mengibas-ngibaskan sarungnya yang basah. Kang Dul Hadi: Hujane iki berkah, Kyai. Nanging sarung kulo kok dadi berkah kanggo nyamuk… Semua tertawa. Kyai Dul Kamid (tersenyum): Hujan iku rahmat, Dul. Nek nyamuk melu seneng, yo ben—sing penting atimu ojo melu gatel. Kang Nur datang membawa gelas-gelas kecil. Kang Nur: Kopi panas sama singkong  goreng siap, Kyai. Biar obrolan tambah anget. Tak lama, Rizal duduk bersila, matanya berbinar—jelas masih membawa pertanyaan dari mala...

QOLB: BAHASA YANG MULAI ASING DIZAMAN RAMAI KITA

Image
Obrolan Malam Jumat selepas Isya Baca juga:  Rajab menanam Sya'ban merawat Ramadhan menuai Malam Jumat itu angin berembus pelan. Lampu serambi masjid menyala kekuningan. Empat orang duduk melingkar di atas tikar pandan yang sudah agak pudar warnanya. Di tengah, Kyai Dul Kamid, bersarung coklat tua dan peci hitam, duduk bersila sambil memegang tasbih. Di sampingnya, Kang Dul Hadi, santri sepuh yang sudah ubanan, matanya sipit tapi wajahnya selalu cerah—meski sering kurang mudeng kalau soal istilah berat. Tak jauh dari mereka, Kang Nur, santri aktif yang tenang dan jarang bicara panjang. Dan satu lagi, Anak Muda, sebut saja Rizal, wajahnya penuh rasa ingin tahu. Setelah wirid Isya selesai, Rizal membuka obrolan. Rizal: Kyai… niki kulo enten bingung setunggal. Zaman sakniki niki, kok kadosipun tiyang-tiyang gampang debat, gampang nyalahke, tapi angel tenan nek diajak ngomong dari ati? Kyai Dul Kamid tersenyum kecil. Tasbihnya berhenti sesaat. Kyai Dul Kamid: Nak Rizal, per...

Rajab Menanam, Sya’ban Merawat, Ramadhan Menuai

Image
Hikmah Maqolah Ulama dalam Cerita Serambi Masjid Di tengah tradisi keislaman Nusantara, kita sering mendengar ungkapan penuh makna: Rajab wulan nandur, Sya’ban wulan ngrumat, Ramadhan wulan panen. Ungkapan ini kerap disangka sebagai hadits Nabi ﷺ. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa ia adalah maqolah (ungkapan hikmah) ulama salaf , bukan hadits shahih. Meski demikian, maknanya sangat dalam dan sejalan dengan ajaran Islam tentang tahapan memperbaiki diri menjelang Ramadhan. Untuk memahaminya dengan lebih hidup, mari kita menyimak sebuah kisah kecil yang terjadi di serambi masjid, selepas shalat Isya. Baca juga:  ketika lidah melukai namun tangan tak mampu mengobati Kisah di Serambi Masjid Malam itu, hujan turun perlahan. Setelah shalat Isya berjamaah, jamaah masjid satu per satu pulang. Namun tiga orang masih bertahan di serambi masjid. Mereka adalah Kiyai Dul Kamid , seorang kiai sepuh yang tutur katanya tenang; Kang Dul Hadi , santri sepuh yang kritis dan ...

Apa Itu Batu Megalitik? Memahami Jejak Peradaban Purba dengan Contoh di Purbalingga

Image
Gambar hanya ilustrasi   Apa Itu Batu Megalitik? Pengertian, Ciri, dan Contohnya di Purbalingga Baca juga:  carang lembayung dan Wong Pajajaran Mukadimah Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Jejak sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk prasasti bertulis atau catatan kerajaan yang rapi. Dalam banyak peradaban tua, khususnya pada masa pra-aksara, manusia meninggalkan tanda-tanda keberadaannya melalui batu-batu besar yang disusun, ditegakkan, atau dimanfaatkan dengan cara tertentu. Batu-batu inilah yang dalam kajian arkeologi dikenal sebagai batu megalitik . Tulisan ini mengajak pembaca memahami apa yang dimaksud dengan batu megalitik, bagaimana ciri-cirinya, serta bagaimana contoh-contohnya dapat dijumpai di wilayah Purbalingga dan sekitarnya , tanpa tergesa-gesa menarik kesimpulan, namun dengan sikap ilmiah yang terbuka dan beradab. Apa yang Dimaksud Batu Megalitik? Baca juga:  jejak megalitik lereng Gunung Slamet Secara sederhana, megalitik berasal dari dua kata Yunan...