Postingan

Ramadhan Berlalu, Tapi Dosa Masih Jalan: Refleksi Keras yang Sering Kita Hindari

Gambar
Baca juga  shalat kafarat Jum'at terakhir Ramadhan: kritik Fikih,bahaya aqidah,dsn jalan taubat yang benar Pendahuluan: Kita Berpuasa… atau Sekadar Tidak Makan? Setiap Ramadhan kita merasa lebih baik. Tapi setelahnya, banyak yang kembali seperti semula. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ... لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Agar kalian bertakwa.”¹ Kalau tidak ada perubahan nyata, maka yang perlu dikaji bukan puasanya—tapi cara kita menjalani puasa. 1. Puasa Tanpa Menjaga Lisan = Latihan yang Gagal مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ... فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ... “Allah tidak butuh puasanya orang yang tidak meninggalkan dusta.”² “Hakikat puasa adalah menahan dari maksiat.”³ Ilustrasi nyata: Seorang karyawan: siang hari puasa sore hari update status: sindiran, nyinyir, membicarakan teman kantor Dia merasa sudah “taat” karena tidak makan. Padahal sepanjang hari lisannya aktif menyakiti. Analogi: Seperti orang puasa tapi minum racun sedikit dem...

“Shalat Kafarat Jumat Akhir Ramadhan: Kritik Fiqih, Bahaya Aqidah, dan Jalan Taubat yang Benar”

Gambar
Baca juga  bagaimana Nabi Muhammad pertama kali melaksanakan shalat id di Madinah? pelajaran dari pondok antara Ilmu dan ketaatan pada pemerintah Pendahuluan Di penghujung bulan Ramadhan, sebagian masyarakat Muslim mengenal satu amalan yang disebut shalat kafarat pada Jumat terakhir. Amalan ini sering diyakini sebagai jalan pintas untuk menebus seluruh shalat yang pernah ditinggalkan, bahkan selama bertahun-tahun. Tidak sedikit yang berkata: “Cukup sekali shalat ini, maka gugurlah semua kewajiban shalat yang pernah ditinggalkan.” Ucapan ini terdengar menenangkan. Namun dalam timbangan fiqih dan aqidah, ia menyimpan problem yang sangat serius. Tulisan ini akan mengupas persoalan tersebut secara mendalam, dengan merujuk kepada kitab-kitab mu’tabarah dalam mazhab Syafi’i, agar menjadi pencerahan bagi umat, sekaligus bahan kajian ilmiah yang kuat. Hakikat Kewajiban Shalat dan Konsekuensi Meninggalkannya Shalat adalah rukun Islam yang paling utama setelah syahadat. Ia...

“Pelajaran dari Pondok: Antara Ilmu Tinggi dan Taat pada Pemerintah”

Gambar
Baca juga  Analisis mantik (logika) terhadap argumentasi hisab Saya masih ingat betul masa-masa mondok di daerah  Kediri . Seperti kebanyakan santri, saya sering melewati hari raya di pondok—jauh dari keluarga, tapi dekat dengan pelajaran hidup yang tak ternilai. Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika terjadi perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri pada tahun 1995. Saat itu, pemerintah telah mengumumkan bahwa Idul Fitri jatuh pada hari Jumat. Namun, di sisi lain, ada sebagian organisasi dan beberapa pondok yang memiliki hasil hisab berbeda. Di pondok saya, ada seorang ustadz ahli ilmu falak. Keilmuannya luar biasa—seolah-olah perhitungan langit itu sudah di luar kepala beliau. Beliau ikut menghitung penentuan Idul Fitri saat itu, dan hasilnya berbeda: menurut hisab beliau, Idul Fitri jatuh pada hari Kamis. Secara ilmiah, hitungan itu kuat. Secara logika, bisa dipertanggungjawabkan. Namun, cerita tidak berhenti di situ. Hasil tersebut kemudian sampai k...

Analisis Mantik (Logika) terhadap Argumentasi Hisab Modern dalam Penetapan Awal Bulan Hijriyah

Gambar
Baca juga  kritik Ilmiah terhadap Argumentasi Hisab dalam penentuan awal Ramadhan Pendahuluan Dalam kajian ilmu mantik, suatu kesimpulan dinilai sah apabila: Premisnya benar (ṣaḥīḥ) Susunan logikanya valid (ṣūrah al-qiyās ṣaḥīḥah) Tidak mengandung kekeliruan (mughālaṭah) Argumentasi hisab modern dalam penentuan awal bulan sering menggunakan pendekatan rasional-astronomis. Namun jika diuji dengan kaidah mantik klasik, terdapat beberapa titik kelemahan yang perlu dikaji secara ilmiah. 1. Kesalahan Equivocation (Iltibās al-Ma‘nā) (Pergeseran Makna “Ru’yah”) Struktur Argumen: Premis 1: Syariat menetapkan awal bulan dengan “ru’yah” Premis 2: Ru’yah bisa dimaknai “mengetahui” Kesimpulan: Maka hisab termasuk ru’yah Analisis Mantik Ini termasuk kesalahan: مغالطة الاشتراك اللفظي (equivocation) ➡️ Satu kata dipakai dalam dua makna berbeda: “Ru’yah” dalam hadis = melihat dengan mata “Ru’yah” dalam tafsir rasional = mengetahui secara ilmiah ➡️ Pergeseran makna ini...

FATWA ULAMA LINTAS MADZHAB: Tentang Penetapan Awal Ramadhan dengan Hisab Tanpa Rukyat dan Sikap terhadap Keputusan Penguasa

Gambar
Baca juga  kritik Ilmiah terhadap Argumentasi Hisab untuk penentuan Awal Ramadhan Pendahuluan Penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal merupakan salah satu persoalan penting dalam kehidupan umat Islam yang selalu berulang setiap tahun. Ia bukan sekadar perkara teknis penanggalan, melainkan berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah besar seperti puasa dan hari raya. Karena itu, sejak masa para ulama salaf, persoalan ini mendapatkan perhatian serius dan dibahas secara mendalam dalam berbagai kitab fiqih lintas madzhab. Dalam praktiknya, mayoritas ulama klasik berpegang pada metode rukyat (melihat hilal) sebagai dasar penetapan, sebagaimana dipahami dari nash-nash syar’i. Sementara hisab (perhitungan astronomi) lebih banyak ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu utama secara mandiri. Namun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan, muncul kembali wacana penggunaan hisab secara independen tanpa rukyat, yang kemudian diangkat oleh sebagian k...

“Bagaimana Nabi Muhammad ﷺ Pertama Kali Melaksanakan Shalat Id di Madinah? Sejarah, Praktik Sahabat, dan Sunnah Hari Raya”

Gambar
Baca juga  asal usul hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha kisah para Ulama Salaf dalam mencari dan Menghidupkan Lailatul Qadar Pendahuluan Setelah Islam menetapkan dua hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha sebagai pengganti perayaan jahiliyah, Nabi Muhammad ﷺ kemudian mengajarkan kepada umatnya bagaimana cara merayakan hari raya tersebut sesuai dengan tuntunan syariat. Hari raya dalam Islam bukan sekadar hari libur atau pesta, tetapi merupakan ibadah dan syiar agama yang memiliki aturan dan sunnah tersendiri. Tulisan ini akan membahas: bagaimana Nabi pertama kali melaksanakan shalat Id di Madinah praktik hari raya pada masa sahabat atsar sahabat tentang hari raya hikmah syariat Idul Fitri dan Idul Adha 1. Kapan Shalat Id Pertama Kali Dilaksanakan? Para ulama sejarah menjelaskan bahwa shalat Id pertama kali disyariatkan pada tahun kedua hijriyah. Ini adalah tahun yang sama dengan disyariatkannya: puasa Ramadhan zakat fitrah Penjelasan Ibnu Qudamah قال ابن قدامة: أَوَّلُ...

** DEFINISI FAKIR DAN MISKIN DALAM FIQIH ZAKAT: Analisis Qaul Mu’tamad dan Relevansinya dalam Konteks Sosial Ekonomi Modern**

Gambar
Baca juga  kritik ilmiah terhadap argumentasi penggunaan Hisab Abstrak Penentuan status fakir dan miskin merupakan aspek krusial dalam distribusi zakat. Namun, perkembangan kondisi sosial ekonomi modern menimbulkan pertanyaan tentang relevansi definisi klasik terhadap realitas kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji definisi fakir dan miskin berdasarkan Al-Qur’an, hadits, serta pandangan ulama dalam mazhab Syafi’i, dengan menelaah qaul mu’tamad dan khilaf yang ada. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) terhadap kitab-kitab fiqih mu’tabar. Hasil kajian menunjukkan bahwa ukuran utama dalam menentukan fakir dan miskin adalah konsep kifayah (kecukupan hidup), bukan sekadar kepemilikan aset. Dengan demikian, dalam konteks modern, seseorang tetap dapat dikategorikan sebagai miskin meskipun memiliki rumah atau mampu makan, selama belum mencapai kecukupan hidup yang layak. Kata kunci: fakir, miskin, zakat, kifayah, fiqih Syafi’i Baca jug...