Puasa dan Budaya Nyinyir (Ketika Lapar Ditahan, tapi Hati Masih Gemar Merendahkan)
Baca juga batal wudhu ketika shalat berjamaah Pendahuluan Budaya nyinyir adalah kebiasaan mengomentari orang lain dengan nada meremehkan, mencibir, atau merasa lebih tinggi—baik secara lisan, tulisan, maupun isyarat. Di era media sosial, nyinyir sering dibungkus humor, kritik, atau “sekadar bercanda”, padahal melukai hati dan merusak ukhuwah. Puasa hadir untuk menyucikan hati, bukan sekadar mengosongkan perut. Maka ketika puasa masih ditemani nyinyir, sesungguhnya ada ruh puasa yang belum sampai ke hati. Allah ﷻ berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11) Ayat ini adalah tamparan halus bagi budaya nyinyir yang sering kita anggap remeh. Baca juga puasa dan menjaga ukhuwah di media sosial 1. Puasa dan Penyakit Merasa Lebih Baik Nyinyir sering lahir b...