Posts

​Ilmu Falak dalam Sejarah Islam dan Batasannya dalam Penentuan Awal Ramadhan

Image
(Menempatkan Hisab sebagai Ilmu, Bukan sebagai Pengganti Nash Syar‘i) Baca juga  Sejarah singkat perkembangan ilmu Falak dalam dunia Islam Pendahuluan Perbedaan pendapat tentang penentuan awal dan akhir Ramadhan sering kali muncul karena tidak dibedakannya antara dua hal yang sangat berbeda, yaitu: 1. sejarah berkembangnya ilmu falak (astronomi) dalam peradaban Islam, dan 2. hukum syar‘i tentang sebab dimulainya ibadah puasa. Sebagian orang beranggapan bahwa karena umat Islam telah lama menguasai ilmu falak, maka penentuan awal Ramadhan pun selayaknya dapat ditetapkan dengan hisab. Tulisan ini berupaya menjelaskan secara singkat namun utuh: bagaimana sebenarnya sejarah berkembangnya ilmu falak dalam dunia Islam, apa fungsi hakikinya bagi umat, serta mengapa para ulama tidak menjadikan hisab sebagai pengganti nash syar‘i dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan. Baca juga  penjelasan singkat perbedaan waktu magrib Sejarah Singkat Berkembangnya Ilmu Falak di D...

Sejarah Singkat Perkembangan Ilmu Falak dalam Peradaban Islam

Image
​ Baca juga  penentuan awal Ramadhan apakah pada masa Nabi pernah menggunakan Hisab? Pendahuluan Pembahasan tentang penggunaan hisab dalam penentuan awal Ramadhan sering kali tidak dibedakan antara dua hal yang sangat penting, yaitu: 1. sejarah berkembangnya ilmu falak dalam peradaban Islam, dan 2. kedudukan hisab dalam hukum syariat penetapan ibadah. Karena itu, sebelum membahas batas syar‘i penggunaan hisab, penting untuk terlebih dahulu menempatkan ilmu falak dalam konteks sejarahnya secara proporsional. Awal berkembangnya ilmu falak secara sistematis Para sejarawan Muslim menjelaskan bahwa perkembangan ilmu falak secara sistematis dan terlembaga dalam dunia Islam terjadi pada masa Daulah Abbasiyah, terutama di kota Baghdad . Di kota inilah berdiri pusat penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang sangat terkenal, yaitu Bayt al-Hikma . Di lembaga ini dilakukan penerjemahan besar-besaran karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani, Persia, dan India ke dalam...

Penjelasan singkat perbedaan waktu Maghrib antara jadwal edaran Purbalingga (PCNU atau Kemenag yang di jadikan pedoman Masjid, Mushola, Radio/TV) dan aplikasi ASR berpedoman BMKG

Image
Baca juga  penentuan awal Ramadhan apakah pada masa Nabi menggunakan Hisab? Pada prinsipnya, semua jadwal sholat yang kita gunakan sama-sama bersumber dari ilmu falak (hisab astronomi), yaitu ilmu yang menghitung posisi matahari untuk menentukan masuknya waktu sholat. Dalam ilmu falak dijelaskan bahwa: Masuk waktu Maghrib adalah ketika matahari benar-benar terbenam di ufuk (ghurūb al-syams). Inilah dasar yang dipakai oleh para ulama dan para ahli falak. Secara ilmiah, perhitungan tersebut dilakukan dengan menggunakan: • lintang tempat (latitude), • bujur tempat (longitude), • ketinggian lokasi, • serta data posisi matahari (ephemeris). Baca juga :  ketika ilmu dikalahkan nafsu 1. Jadwal edaran waktu sholat Purbalingga (PCNU atau Kemenag) Jadwal edaran yang biasa digunakan oleh takmir dan masyarakat di wilayah Purbalingga disusun dengan titik koordinat acuan wilayah kabupaten. Artinya: • satu titik koordinat mewakili wilayah Purbalingga secara um...

Penentuan Awal Ramadhan: Apakah Pada Masa Nabi ﷺ Pernah Berpuasa dengan Hisab Tanpa Rukyat? Dan Bagaimana Menilai Klaim Bid‘ah dalam Penggunaan Hisab?

Image
Baca juga  ramadhan bukan tentang siapa Pendahuluan Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang diwajibkan atas setiap muslim yang telah mukallaf. Ibadah ini memiliki sebab (sabab) syar‘i yang jelas, yaitu masuknya bulan Ramadhan. Karena ia termasuk ibadah mahdhah, maka cara penetapan awal waktunya tidak boleh dilepaskan dari nash. Pertanyaan yang sering muncul di tengah umat adalah: Apakah pada masa Nabi ﷺ pernah memulai puasa Ramadhan dengan metode hisab tanpa rukyat? Dan jika tidak, bagaimana kedudukan penggunaan hisab dalam perspektif syariat? 1. Apakah pada masa Nabi ﷺ pernah memulai puasa dengan hisab tanpa rukyat? Baca juga  musibah yang menggerakkan langit dan bumi Jawabannya: Tidak pernah terdapat satu pun riwayat sahih yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ atau para sahabat memulai puasa Ramadhan dengan hisab. Justru yang diriwayatkan secara mutawatir makna adalah perintah rukyat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena meli...

Ramadhan Bukan Tentang Siapa yang Paling Rajin Ibadah, Tapi Siapa yang Paling Ikhlas Berubah

Image
Baca juga  musibah yang menggerakkan langit dan bumi Ramadhan selalu datang dengan wajah yang indah. Masjid menjadi lebih ramai, lantunan tilawah terdengar di banyak sudut, dan media sosial dipenuhi dengan nasihat kebaikan. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri: Apakah Ramadhan ini benar-benar mengubah hati kita… atau hanya mengubah rutinitas kita? Sering kali kita sibuk menghitung berapa rakaat yang sudah kita kerjakan, berapa juz yang sudah kita baca, dan berapa agenda ibadah yang sudah kita penuhi. Tetapi kita lupa menengok ke dalam diri. Ramadhan bukan tentang siapa yang terlihat paling rajin beribadah. Ramadhan adalah tentang siapa yang paling jujur ingin berubah. Ketika ibadah perlahan berubah menjadi ajang penilaian Baca juga  qolb bahasa yang mulai asing Tanpa kita sadari, suasana Ramadhan terkadang membuat kita mudah membandingkan diri dengan orang lain. Kita mulai merasa lebih baik karena lebih sering ke masjid. ...

“Musibah yang Menggerakkan Langit dan Hati Manusia”

Image
Tulisan ini terinspirasi dari dawuh  Ketua Ranting NU Desa Serang (Pak Tarno) dalam sambutannya saat kunjungan saya dan teman-teman pengurus MWCNU Karangreja ke salah satu korban bencana banjir bandang dan longsor di lereng Gunung Slamet, Desa Serang. Jagongan ini adalah ikhtiar kecil untuk menangkap hikmah yang beliau sampaikan, agar bisa kita renungkan bersama. Baca juga  ikhlas di zaman pamer Malam itu hujan masih turun pelan. Serambi masjid basah tipis, bau kopi hitam bercampur tanah lembap. Empat orang duduk melingkar. Kiai Dul Kamid, Kang Dul Hadi (santri sepuh, langganan nyela), Kang Nur, dan Rizal — anak muda yang sejak kemarin pulang dari lokasi bencana. Rizal (menarik napas panjang): “Yai… kulo mau cerita. Kemarin kami sowan ke korban banjir bandang di lereng Slamet. Di tempat terakhir, Ketua Ranting NU-nya dawuh begini…” Rizal menirukan perlahan, ‘Musibah ini juga perlu kita syukuri… kita kehilangan harta, tapi Allah mengganti dengan berlipa...

**Episode 5 Jagongan Serambi Masjid: Ikhlas di Zaman Pamer**

Image
Jagongan Serambi Masjid – Episode 5 Baca juga  episode 4 episode 3 Hujan sudah reda malam itu. Tinggal sisa dingin yang menempel di lantai serambi, dan bau tanah basah yang belum sepenuhnya pergi. Jagongan kemarin menyisakan banyak diam. Bukan karena kehabisan kata, tetapi karena masing-masing pulang membawa cermin kecil di dadanya. Tentang adab saat berbeda. Tentang suara yang terlalu ramai. Tentang hati yang sering lebih sibuk membenarkan diri daripada membenahi diri. Malam ini, mereka kembali duduk melingkar. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk belajar satu hal yang sering terlupa: bagaimana menjaga hati agar tetap jujur di hadapan Allah, saat dunia terus meminta kita untuk terlihat benar di hadapan manusia. Dari sinilah jagongan Episode 5 dimulai. Baca juga  qolb bahasa yang mulai asing di zaman ramai ​ Malam itu serambi masjid lebih sepi dari biasanya. Hujan sudah berhenti sejak Magrib. Yang tersisa hanya dingin tipis dan suara dedaun...