Postingan

Kritik Ilmiah terhadap Argumentasi Hisab dalam Penentuan Awal Ramadhan

Gambar
Baca juga  Ilmu Falak dalam sejarah Islam dan penggunaannya Pendahuluan Penentuan awal bulan hijriah merupakan masalah penting dalam syariat Islam karena berkaitan langsung dengan ibadah seperti puasa Ramadan, Idul Fitri, dan haji. Sejak masa Nabi ﷺ hingga generasi salaf, metode yang digunakan adalah rukyat al-hilal (melihat hilal). Metode ini didasarkan pada hadis-hadis sahih yang sangat jelas dan diamalkan secara konsisten oleh para sahabat dan ulama setelahnya. Namun pada masa modern muncul pandangan yang mengutamakan hisab astronomi sebagai metode utama. Oleh karena itu penting untuk mengkaji apakah argumentasi tersebut selaras dengan dalil syariat dan metodologi fiqih para ulama. 1. Kritik terhadap Dalil “Semangat Al-Qur’an adalah Hisab” Muhammadiyah menggunakan dua ayat: QS Ar-Rahman:5 QS Yunus:5 Bantahan Ayat tersebut tidak berbicara tentang metode penetapan awal bulan ibadah, melainkan fungsi kosmik matahari dan bulan sebagai penentu waktu secara umum. ...

Asal Usul Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha dalam Islam: Bagaimana Islam Menggantikan Tradisi Jahiliyah dengan Syariat yang Lebih Mulia

Gambar
Baca juga  Penentuan Awal Ramadhan: Apakah pada masa Nabi pernah berpuasa dengan Hisab tanpa Rukyat? Pendahuluan Setiap umat memiliki hari raya yang menjadi simbol kebersamaan dan identitas budaya mereka. Demikian pula masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Mereka memiliki beberapa hari perayaan yang diisi dengan permainan, pesta, dan berbagai hiburan. Namun ketika Islam datang, Nabi Muhammad ﷺ tidak membiarkan umat Islam larut dalam tradisi tersebut. Islam tidak hanya melarang tradisi jahiliyah, tetapi menggantinya dengan syariat yang lebih baik dan lebih bernilai ibadah, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Tulisan ini akan mengulas secara mendalam: asal-usul hari raya sebelum Islam dalil Qur'an dan hadis tentang Idul Fitri dan Idul Adha penjelasan para ulama salaf bagaimana Islam memperbaiki tradisi lama 1. Hari Raya di Madinah Sebelum Datangnya Islam Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka ray...

“Bagaimana Nabi Muhammad ﷺ Pertama Kali Melaksanakan Shalat Id di Madinah? Sejarah, Praktik Sahabat, dan Sunnah Hari Raya”

Gambar
Baca juga  asal usul hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha kisah para Ulama Salaf dalam mencari dan Menghidupkan Lailatul Qadar Pendahuluan Setelah Islam menetapkan dua hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha sebagai pengganti perayaan jahiliyah, Nabi Muhammad ﷺ kemudian mengajarkan kepada umatnya bagaimana cara merayakan hari raya tersebut sesuai dengan tuntunan syariat. Hari raya dalam Islam bukan sekadar hari libur atau pesta, tetapi merupakan ibadah dan syiar agama yang memiliki aturan dan sunnah tersendiri. Tulisan ini akan membahas: bagaimana Nabi pertama kali melaksanakan shalat Id di Madinah praktik hari raya pada masa sahabat atsar sahabat tentang hari raya hikmah syariat Idul Fitri dan Idul Adha 1. Kapan Shalat Id Pertama Kali Dilaksanakan? Para ulama sejarah menjelaskan bahwa shalat Id pertama kali disyariatkan pada tahun kedua hijriyah. Ini adalah tahun yang sama dengan disyariatkannya: puasa Ramadhan zakat fitrah Penjelasan Ibnu Qudamah قال ابن قدامة: أَوَّلُ...

Kisah Para Salaf dalam Mencari dan Mendapatkan Lailatul Qadar Para ulama dan generasi salaf sangat bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar

Gambar
Baca juga  Lailatul Qadar keutamaan hikmah dan cara menghidupkannya Para ulama dan generasi salaf sangat bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Banyak riwayat dalam kitab klasik yang menggambarkan kesungguhan mereka. 1. Kisah Umar bin Khattab Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu sangat bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Ibnu Rajab meriwayatkan: كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ اجْتِهَادًا شَدِيدًا Artinya: “Umar bin Khattab bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan yang besar.” Referensi Ibn Rajab, Lathaif Al-Ma'arif, hlm 338. 2. Kisah Ibnu Abbas Ibnu Abbas pernah menafsirkan bahwa Lailatul Qadar kemungkinan besar terjadi pada malam ke-27. هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ Artinya: “Lailatul Qadar adalah malam ke-27.” Referensi Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz 4 hlm 260. 3. Kisah Ubay bin Ka'ab Ubay bin Ka...

Lailatul Qadar: Keutamaan, Hikmah, dan Cara Menghidupkannya Menurut Al-Qur'an dan Ulama

Gambar
Baca juga  puasa dan budaya nyinyir Muqaddimah Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan rahmat Allah. Di antara keistimewaan terbesar bulan ini adalah adanya Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam tersebut Allah menurunkan Al-Qur'an dan melimpahkan berbagai rahmat serta ampunan kepada hamba-Nya yang beribadah. Karena itu Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan dengan ibadah. Beliau bersabda: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”¹ Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”² Oleh karena itu para ulama menegaskan bahwa m...

Puasa dan Budaya Nyinyir (Ketika Lapar Ditahan, tapi Hati Masih Gemar Merendahkan)

Gambar
Baca juga  batal wudhu ketika shalat berjamaah Pendahuluan Budaya nyinyir adalah kebiasaan mengomentari orang lain dengan nada meremehkan, mencibir, atau merasa lebih tinggi—baik secara lisan, tulisan, maupun isyarat. Di era media sosial, nyinyir sering dibungkus humor, kritik, atau “sekadar bercanda”, padahal melukai hati dan merusak ukhuwah. Puasa hadir untuk menyucikan hati, bukan sekadar mengosongkan perut. Maka ketika puasa masih ditemani nyinyir, sesungguhnya ada ruh puasa yang belum sampai ke hati. Allah ﷻ berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11) Ayat ini adalah tamparan halus bagi budaya nyinyir yang sering kita anggap remeh. Baca juga  puasa dan menjaga ukhuwah di media sosial 1. Puasa dan Penyakit Merasa Lebih Baik Nyinyir sering lahir b...

"Batal Wudhu Saat Shalat Berjamaah, Haruskah Keluar dari Shaf? Ini Penjelasan Fiqih Mazhab Syafi'i”

Gambar
Batal Wudhu di Tengah Shalat Berjamaah, Haruskah Menunggu Sampai Shalat Selesai? Baca juga  puasa dan menjaga ukhuwah di media sosial Pendahuluan Dalam sebuah pengajian, seorang jamaah pernah bertanya tentang masalah yang cukup sering terjadi di masjid: Bagaimana jika seseorang batal wudhunya di tengah shalat berjamaah, sementara posisinya berada di tengah barisan shaf? Apakah ia harus menunggu sampai shalat selesai baru keluar, atau langsung keluar untuk berwudhu? Pertanyaan ini muncul karena sebelumnya ia mendapatkan penjelasan dari seseorang yang mengatakan: Jika wudhu batal di tengah shalat berjamaah, maka sebaiknya tetap berada di tempat sampai shalat selesai, demi menjaga adab berjamaah. Alasannya: “datang tampak muka dan pulang tampak punggung.” Sekilas nasihat ini terdengar baik karena mengatasnamakan adab berjamaah. Namun jika diteliti lebih dalam, penjelasan tersebut tidak memiliki dasar dalil dalam fiqih, bahkan bertentangan dengan hukum shalat itu sendi...