Postingan

Puasa dan Budaya Nyinyir (Ketika Lapar Ditahan, tapi Hati Masih Gemar Merendahkan)

Gambar
Baca juga  batal wudhu ketika shalat berjamaah Pendahuluan Budaya nyinyir adalah kebiasaan mengomentari orang lain dengan nada meremehkan, mencibir, atau merasa lebih tinggi—baik secara lisan, tulisan, maupun isyarat. Di era media sosial, nyinyir sering dibungkus humor, kritik, atau “sekadar bercanda”, padahal melukai hati dan merusak ukhuwah. Puasa hadir untuk menyucikan hati, bukan sekadar mengosongkan perut. Maka ketika puasa masih ditemani nyinyir, sesungguhnya ada ruh puasa yang belum sampai ke hati. Allah ﷻ berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11) Ayat ini adalah tamparan halus bagi budaya nyinyir yang sering kita anggap remeh. Baca juga  puasa dan menjaga ukhuwah di media sosial 1. Puasa dan Penyakit Merasa Lebih Baik Nyinyir sering lahir b...

"Batal Wudhu Saat Shalat Berjamaah, Haruskah Keluar dari Shaf? Ini Penjelasan Fiqih Mazhab Syafi'i”

Gambar
Batal Wudhu di Tengah Shalat Berjamaah, Haruskah Menunggu Sampai Shalat Selesai? Baca juga  puasa dan menjaga ukhuwah di media sosial Pendahuluan Dalam sebuah pengajian, seorang jamaah pernah bertanya tentang masalah yang cukup sering terjadi di masjid: Bagaimana jika seseorang batal wudhunya di tengah shalat berjamaah, sementara posisinya berada di tengah barisan shaf? Apakah ia harus menunggu sampai shalat selesai baru keluar, atau langsung keluar untuk berwudhu? Pertanyaan ini muncul karena sebelumnya ia mendapatkan penjelasan dari seseorang yang mengatakan: Jika wudhu batal di tengah shalat berjamaah, maka sebaiknya tetap berada di tempat sampai shalat selesai, demi menjaga adab berjamaah. Alasannya: “datang tampak muka dan pulang tampak punggung.” Sekilas nasihat ini terdengar baik karena mengatasnamakan adab berjamaah. Namun jika diteliti lebih dalam, penjelasan tersebut tidak memiliki dasar dalil dalam fiqih, bahkan bertentangan dengan hukum shalat itu sendi...

Puasa dan Menjaga Ukhuwah di Media Sosial (Ketika Persaudaraan Diuji di Ruang Digital)

Gambar
Baca juga  Nuzulul Qur'an dan sejarah kitab-kitab Allah Pendahuluan Puasa bukan hanya ibadah personal antara hamba dan Allah, tetapi juga ibadah sosial yang berdampak pada cara kita memperlakukan sesama. Salah satu buah puasa yang paling penting—namun sering terlupakan—adalah terjaganya ukhuwah (persaudaraan). Di era media sosial, ukhuwah sering diuji bukan lewat pertengkaran fisik, tetapi melalui: Komentar pedas Sindiran halus Salah paham tulisan Debat tanpa adab Puasa hadir sebagai rem hati agar hubungan persaudaraan tidak rusak hanya karena dunia maya. 1. Ukhuwah: Nilai Agung dalam Islam Allah ﷻ berfirman: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)¹ Ayat ini menunjukkan bahwa ukhuwah bukan pilihan, tetapi identitas orang beriman. Maka merusak ukhuwah—baik sengaja atau tidak—adalah perkara yang serius. 🪞 Tamsil Sederhana Ukhuwah itu se...

Nuzulul Qur’an dan Sejarah Kitab-Kitab Allah

Gambar
Baca juga  kafarat bagi orang yang sengaja membatalkan puasa Pendahuluan Peringatan Nuzulul Qur’an merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk menengok kembali perjalanan wahyu Allah dalam sejarah kenabian. Al-Qur’an tidak hadir dalam ruang kosong, melainkan sebagai puncak dari rangkaian panjang kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada para nabi-Nya. Allah berfirman: ﴿وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا﴾ “Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat).” (QS. Asy-Syura: 51)[2] Sebagian wahyu dihimpun dalam bentuk kitab suci. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa semua kitab Allah membawa misi utama tauhid, meskipun rincian syariatnya berbeda sesuai kondisi umat dan zamannya. Kitab-Kitab Allah dalam Lintasan Sejarah 1. Shuhuf Ibrahim Tentang Shuhuf Ibrahim, Allah berf...

KAFARAT BAGI ORANG YANG SENGAJA MEMBATALKAN PUASA RAMADHAN

Gambar
(Mengapa Jima’ Ada Kafarat, Sedangkan Makan & Minum Tidak? – Kajian Fikih Mazhab Syafi’i) Baca juga  puasa dan etika bermedia sosial KATA PENGANTAR Alhamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn, segala puji bagi Allah Ta‘ala yang telah memberikan nikmat iman, Islam, serta kesempatan untuk terus belajar dan mendalami agama-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Makalah sederhana ini disusun sebagai respon atas pertanyaan yang muncul dalam salah satu majelis pengajian Ramadhan. Pertanyaan tersebut sangat mendasar namun penting: “Mengapa orang yang sengaja berjima’ di siang hari Ramadhan dikenai kafarat, sedangkan orang yang sengaja makan dan minum tidak, padahal keduanya sama-sama membatalkan puasa?” Penulis memandang bahwa pertanyaan ini bukan sekadar bentuk rasa ingin tahu, melainkan tanda hidupnya semangat tafaqquh fid-dīn (pendalaman agama) di tengah jamaah. Oleh k...

Puasa dan Etika Bermedia Sosial (Menjaga Lisan Digital dalam Madrasah Ramadhan)

Gambar
Baca juga  peristiwa manusia setelah kematian Pendahuluan Di zaman ini, lisan manusia tidak hanya berada di mulut, tetapi juga di ujung jari. Apa yang ditulis, dibagikan, dikomentari, dan diviralkan di media sosial adalah bagian dari ucapan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Puasa hadir bukan hanya untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga untuk mendidik etika berinteraksi, termasuk di ruang digital. Jika lisan wajib dijaga saat puasa, maka jari dan pikiran pun lebih-lebih lagi. Allah ﷻ berfirman: مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tidak satu pun ucapan yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18) Para ulama menjelaskan bahwa qaul (ucapan) mencakup segala bentuk ekspresi makna, termasuk tulisan. Baca juga  bantahan ilmiah terhadap klaim shalat 3 rakaat witir yang paling sahih 1. Puasa dan Menahan Lisan Digital Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَ...

Peristiwa Manusia Setelah Kematian Di Alam Kubur

Gambar
Baca juga  bantahan ilmiah terhadap klaim pembatasan kaifiyah witir tiga rakaat Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Tulisan ini berawal dari sebuah pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang jamaah dalam sebuah majelis pengajian. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan apa saja yang dialami manusia setelah kematian, khususnya ketika berada di alam kubur. Saat itu, penulis berusaha menjawab sebatas kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, dengan mengacu pada dalil-dalil yang diingat dan penjelasan para ulama secara ringkas. Namun, penulis menyadari bahwa persoalan alam kubur, fitnah kubur, serta azab dan nikmatnya adalah perkara akidah yang agung dan termasuk bagian dari iman kepada perkara ghaib. Oleh karena itu, jawaban lisan yang singkat dirasa belum cukup untuk menjelaskan permasalahan ini secara utuh, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Atas dasar itulah, tulisan ini disusun sebagai bentuk apresiasi kepada penanya, sekaligus ikhtiar p...