Puasa dan Etika Bermedia Sosial (Menjaga Lisan Digital dalam Madrasah Ramadhan)
Baca juga peristiwa manusia setelah kematian Pendahuluan Di zaman ini, lisan manusia tidak hanya berada di mulut, tetapi juga di ujung jari. Apa yang ditulis, dibagikan, dikomentari, dan diviralkan di media sosial adalah bagian dari ucapan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Puasa hadir bukan hanya untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga untuk mendidik etika berinteraksi, termasuk di ruang digital. Jika lisan wajib dijaga saat puasa, maka jari dan pikiran pun lebih-lebih lagi. Allah ﷻ berfirman: مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tidak satu pun ucapan yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18) Para ulama menjelaskan bahwa qaul (ucapan) mencakup segala bentuk ekspresi makna, termasuk tulisan. Baca juga bantahan ilmiah terhadap klaim shalat 3 rakaat witir yang paling sahih 1. Puasa dan Menahan Lisan Digital Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَ...