“Musibah yang Menggerakkan Langit dan Hati Manusia”
Tulisan ini terinspirasi dari dawuh Ketua Ranting NU Desa Serang (Pak Tarno) dalam sambutannya saat kunjungan saya dan teman-teman pengurus MWCNU Karangreja ke salah satu korban bencana banjir bandang dan longsor di lereng Gunung Slamet, Desa Serang. Jagongan ini adalah ikhtiar kecil untuk menangkap hikmah yang beliau sampaikan, agar bisa kita renungkan bersama. Baca juga ikhlas di zaman pamer Malam itu hujan masih turun pelan. Serambi masjid basah tipis, bau kopi hitam bercampur tanah lembap. Empat orang duduk melingkar. Kiai Dul Kamid, Kang Dul Hadi (santri sepuh, langganan nyela), Kang Nur, dan Rizal — anak muda yang sejak kemarin pulang dari lokasi bencana. Rizal (menarik napas panjang): “Yai… kulo mau cerita. Kemarin kami sowan ke korban banjir bandang di lereng Slamet. Di tempat terakhir, Ketua Ranting NU-nya dawuh begini…” Rizal menirukan perlahan, ‘Musibah ini juga perlu kita syukuri… kita kehilangan harta, tapi Allah mengganti dengan berlipa...