Posts

Showing posts with the label ilmu

Ketika Lidah Tajam, Namun Tangan Tak Mampu Mengobati

Image
Baca:  ketika ilmu dikalahkan oleh Nafsu Crita Serambi Masjid Malam Ahad Wengi wis rada sepi. Angin alon-alon ngelus serambi masjid. Lampu bohlam kuning madhangi telung wong sing lungguh jejeg ana serambi masjid sawise sholat Isya. Malam Ahad, wong desa wis padha bali omah, ning telung wong iki isih kober lungguh-duduk. Kiyai Dul Kamid lungguh tengah, sarungé dilipet rapi, tasbih isih muter alon. Ana sisih kiwa, Mbah Dulhadi, wong sepuh sing remen mikir jero. Sisih tengen, Kang Parman, wong enom, jujur ning kadhang rada telmi. Sawise suwe meneng, Mbah Dulhadi ngresula alon. Mbah Dulhadi: “Yai… inyong kie kepikiran terus. Ana wong, cangkeme pinter nasehati wong liya. Kabeh kesalahan wong liya katon. Ning pas awake dhewek ketiban masalah, kok ya bingung dhewek. Kuwe kepriwe sejatine, Yai?” Kiyai Dul Kamid mesem tipis. Tasbihé mandeg sedela. Kiyai Dul Kamid: “Hehehe… Mbah, kuwe wis saka jaman mbiyen. Wong kayak kuwe ibaraté nyebar peso landhep nang wong liya, ning pas dice...

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Image
(Dialog di Rumah Kiyai Desa part 2) Baca:  Empat Malaikat penjaga manusia Kadang Allah tidak menurunkan jawaban lewat mimpi atau kitab tebal. Ia menghadirkannya lewat obrolan sederhana, di sela asap rokok lintingan, kopi pahit, dan ketela goreng yang masih mengepul. Malam itu, selepas Isya, tiga orang duduk di rumah Kiyai Dul Kamid masing-masing membawa keresahan, dan pulang dengan sedikit ketenangan. Di Serambi Rumah Kiyai Kang Dulhadi baru saja mengeluarkan tembakau dari saku sarungnya. Tangannya cekatan melinting rokok, tapi pikirannya terlihat ruwet. Kang Paiman (nyengir): “Lintinganmu kok ora rampung-rampung, Kang. Iki nglinting rokok opo mikir?” Kang Dulhadi: “Yo mikir, Man. Nek uripku iki iso dilinting rapi koyok rokok, mbok menawa ora buyar.” Kiyai Dul Kamid tersenyum sambil menyulut korek. Kiyai Dul Kamid: “Lintingan kuwi nek kesusu malah mbrodol. Urip yo ngono. Kesusu pengin rampung, pengin cepet sukses opo sugeh, malah buyar.” Asap rokok mulai naik pelan, me...

RIZKI ANTARA JANJI LANGIT DAN KENYATAAN BUMI

Image
baca:  Istidraj bergelimang Harta Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tak ada tema yang lebih sering mengusik hati manusia selain rizki.
Ada orang yang rajin sholat, puasa, doa tak pernah putus, tapi hidupnya tetap sederhana, bahkan pas-pasan.
Ada pula yang jarang ke masjid, sholat pun bolong-bolong, tapi hartanya melimpah, usahanya lancar, rumahnya bertingkat. Lalu manusia mulai bertanya dalam hati atau dengan suara keras:
“Bukankah Allah sudah menjamin rizki setiap makhluk?”
“Kalau begitu, kenapa hidup tidak adil?”
“Atau jangan-jangan janji Allah itu… tidak sepenuhnya nyata?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering tidak muncul di mimbar besar, tapi lahir di teras masjid, warung kopi, atau ruang tamu sederhana seperti malam itu, seusai sholat Isya berjamaah di sebuah masjid desa. Awal Percakapan Malam itu angin berembus pelan. Jamaah Isya mulai bubar.
Kiyai Dul Kamid seorang kiyai kampung yang dikenal kalem dan ndak neko-neko melangkah keluar masjid sambil membetulka...

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

Image
baca:  Langkah tergesa-gesa sang kiyai menunggu kehancuran perusak NU Dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita menjumpai orang-orang yang menjauh dari ahli ilmu. Bukan karena ahli ilmu tersebut melakukan kesalahan, melanggar syariat, atau menyimpang dari norma agama, tetapi semata-mata karena rasa tidak suka, benci, atau faktor subjektif tertentu. Ketidaksukaan ini kemudian berkembang menjadi sikap tidak respek terhadap ilmu dan nasihat yang disampaikan. Fenomena ini bukan perkara sepele. Dalam pandangan agama, sikap seperti ini dapat menyeret seseorang pada dosa, bahkan mengeraskan hati hingga sulit menerima kebenaran. Membenci Tanpa Alasan yang Benar Islam adalah agama yang adil. Ia memerintahkan umatnya untuk menilai sesuatu berdasarkan kebenaran, bukan perasaan pribadi. Ketika seseorang membenci atau menjauhi ahli ilmu tanpa alasan syar’i, padahal ahli ilmu tersebut tidak berbuat zalim dan tidak melanggar agama, maka kebencian itu lahir dari hawa nafsu. Allah Ta’al...

Tabayun Sang Kiyai

Image
baca: menemukan titik temu islah Di serambi zikir ia duduk sunyi Tasbih berputar, hati entah ke mana bersembunyi Nama Tuhan terucap berulang kali Namun sesama hamba terlewat diselami Ia meminum cahaya dari kitab suci Tapi menumpahkannya sebelum jernih di hati Palu fatwa diketuk terlalu dini Padahal hikmah belum sempat bertanya diri Umat pun terbelah seperti kaca cermin diri Sebagiannya memunguti serpih untuk berdamai kembali Sebagiannya sibuk mengagungkan bayang kursi Menyebutnya kebenaran, padahal nafsu yang diberkati Lalu datanglah sepucuk warkah resmi Berisi ajakan tabayun yang suci Seperti menutup sumur setelah bayi jatuh ke bumi Seperti menyalakan pelita ketika fajar telah mati Padahal jalan menuju pintu tak sejauh mimpi Satu lorong, satu atap, satu sajadah sufi Mengapa huruf dipilih mengganti silaturahmi? Apakah takut wajah sendiri tak sanggup ditatapi? Wahai kiyai, ilmu bukan sekadar bunyi Ia adab yang lebih dulu bersemi Tabayun bukan akhir drama diri Ia awal fana se...

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU

Image
Baca:  ketika ilmu dikalahkan oleh nafsu Nahdlatul Ulama (NU) bukanlah sekadar organisasi kemasyarakatan biasa. Ia adalah sebuah Jam’iyyah yang berdiri di atas pondasi spiritual yang sangat kokoh. Didirikan melalui tirakat, istikharah, dan restu para wali Allah serta ulama-ulama besar, NU menyandang status sebagai organisasi "keramat". Kelahirannya bukan sekadar respons terhadap dinamika politik zaman itu, melainkan sebuah amanah langit untuk kemaslahatan umat di dunia hingga akhirat. Benteng Keikhlasan dan Keberkahan Tujuan utama didirikannya NU adalah untuk menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah dan memastikan umat tetap berada dalam koridor bimbingan ulama. Oleh karena itu, NU adalah ladang pengabdian yang dasarnya adalah keikhlasan. Para pendiri NU, seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, telah mewariskan sebuah institusi yang disirami dengan doa dan air mata spiritual. Barangsiapa yang berkhidmat di NU dengan nia...

Ketika Ilmu Dikalahkan oleh Nafsu

Image
Transformasi 'Alim Menuju Hubb ad-Dunya Seorang 'alim, yang secara harfiah berarti orang yang berpengetahuan, memegang kedudukan mulia dalam Islam. Namun, status ini bisa runtuh ketika pengetahuan yang dimiliki tidak lagi membimbing tindakannya, melainkan tunduk pada bisikan hawa nafsu. Berikut adalah poin-poin penting mengenai proses dan manifestasinya: 1. Ilmu Hanya di Lisan, Bukan di Hati Ilmu yang seharusnya menjadi lentera penerang jalan ke akhirat, hanya berhenti di tenggorokan atau lisan. Pengetahuan tersebut digunakan untuk berdebat, mencari popularitas, atau mengumpulkan pengikut, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hati tetap kering dari ketakwaan ( taqwa ). 2. Menggunakan Ilmu sebagai Alat Mencari Keuntungan Duniawi Ini adalah salah satu tanda paling nyata. 'Alim tersebut mulai memanfaatkan ilmunya untuk meraih materi, jabatan, atau kedudukan sosial. Fatwa atau pandangannya bisa "disesuaikan" demi menyenangkan penguasa, orang ka...

Imam Syafi'I Dituduh Makar

Image
Baca topik ini juga:  • Malam Jumat Baca Yasin apa al Kahfi? • Akibat Hasutan Laurens of Arabian • Kewalian Seorang Ibu Siapapun tidak bisa terlepas dari tuduhan, apalagi tuduhan yang hanya berdasarkan hoaks (kabar yang tidak berdasar), termasuk para ulama besar, salah satunya adalah Imam Syafi'i. Pendiri Mazhab Syafii yang dianut oleh mayoritas penduduk Asia Tenggara hususnya indonesia ini pernah dituduh makar dan berkomplot dengan para oposisi Syiah.  Ketika Imam Syafi’i menjadi mufti di Yaman, fitnah kejam melanda dirinya. Saat itu ia difitnah sebagai pendukung Syi`ah oleh pendengkinya, Mutharrif bin Mâzin. Bahkan dia memprovokasi Khalifah Harun Ar Rasyid untuk menangkap Imam Syafi`i dan orang² Alawiyyin (العلويّن, sebutan bagi kaum atau sekelompok orang memiliki pertalian darah dengan Nabi Muhammad). Diutuslah Hammad Barbari untuk menangkap Imam Syafi`i dan orang² alawiyin. Ia dirantai dengan besi bersama orang alawiyin dari Yaman hingga Raqqah, kediaman Harun Ar Rasyid. Bayan...