“Musibah yang Menggerakkan Langit dan Hati Manusia”

Tulisan ini terinspirasi dari dawuh  Ketua Ranting NU Desa Serang (Pak Tarno) dalam sambutannya saat kunjungan saya dan teman-teman pengurus MWCNU Karangreja ke salah satu korban bencana banjir bandang dan longsor di lereng Gunung Slamet, Desa Serang. Jagongan ini adalah ikhtiar kecil untuk menangkap hikmah yang beliau sampaikan, agar bisa kita renungkan bersama.

Baca juga 

ikhlas di zaman pamer

Malam itu hujan masih turun pelan.

Serambi masjid basah tipis, bau kopi hitam bercampur tanah lembap.

Empat orang duduk melingkar.

Kiai Dul Kamid,

Kang Dul Hadi (santri sepuh, langganan nyela),

Kang Nur,

dan Rizal — anak muda yang sejak kemarin pulang dari lokasi bencana.

Rizal (menarik napas panjang):

“Yai… kulo mau cerita. Kemarin kami sowan ke korban banjir bandang di lereng Slamet.

Di tempat terakhir, Ketua Ranting NU-nya dawuh begini…”

Rizal menirukan perlahan,

‘Musibah ini juga perlu kita syukuri…

kita kehilangan harta, tapi Allah mengganti dengan berlipat melalui para donatur.

Yang hilang satu, bisa diganti lima, sepuluh.

Dan yang lebih penting, hati manusia jadi terketuk untuk menolong.’

Rizal terdiam.

Kang Nur mengangguk pelan.

“Jujur, Yai… kalimat ‘musibah disyukuri’ itu nempel terus di kepala saya.

Takut salah paham juga.”

Kang Dul Hadi langsung nyelutuk,

“Lha iya… piye to?

Wong wong lagi kelangan omah, kelangan sawah, kok disyukuri?

Nanti dikira kita seneng ana musibah, Yai…”

Kiai Dul Kamid tersenyum tipis.

Kiai Dul Kamid:

“Nderekke… iki penting diluruske pelan-pelan.”

Beliau menyeruput kopi.

Baca juga : qolb bahasa yang mulai asing di zaman ramai kita

🌿 Syukur itu bukan senang pada musibah

Kiai Dul Kamid:

“Syukur itu bukan berarti senang ada banjir, senang ada longsor.

Yang disyukuri bukan lukanya…

tapi rahmat Allah yang muncul setelah luka itu terjadi.”

Beliau menatap Rizal.

“Dalam Al-Qur’an Allah dawuh:

‘La-in syakartum la-azīdannakum…’

‘Jika kalian bersyukur, sungguh Aku akan menambah (nikmat kalian).’

(QS. Ibrāhīm: 7)”

Kiai Dul Kamid melanjutkan,

“Yang disyukuri itu tambahannya, Rizal…

bukan bencananya.”

Kang Dul Hadi menggaruk kepala.

“Berarti… sing disyukuri kuwi dudu banyune, Yai…

tapi tangan-tangan sing teka nulungi?”

Kiai tersenyum.

“Leres…”

🌿 Musibah kadang membuka pintu yang lama tertutup

Baca juga: Rajab Menanam Sya'ban merawat Ramadhan Menuai

Kiai Dul Kamid:

“Kadang, sebelum ada musibah,

orang hidup sebelahan desa…

tapi hatinya berjauhan.

Baru ketika ada bencana,

Allah bukakan satu pintu besar: pintu empati.”

Kang Nur menimpali,

“Bener Yai… kemarin pejabat, kiai, relawan, mahasiswa, semua tumplek blek.”

Kiai Dul Kamid mengangguk.

“Padahal Rasulullah ﷺ dawuh:

‘Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi,

seperti satu tubuh. Jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan.’

(HR. Bukhari dan Muslim)”

Beliau tersenyum kecil.

“Kadang, tubuh umat ini…

baru terasa satu,

kalau sudah ada yang kesakitan.”

Kang Dul Hadi nyeletuk pelan,

“Berarti… musibah iki kok yo kaya alarm, nggeh Yai?”

Kiai tertawa kecil.

“Nggeh… alarm langit.”

🌿 Tentang ‘Allah mengganti berlipat-lipat’

Baca juga : empat malaikat penjaga manusia

Rizal lalu bertanya pelan,

“Yai…

Pak Tarno kemarin dawuh,

yang hilang satu miliar bisa diganti lima atau sepuluh miliar.

Apakah itu tidak terlalu… duniawi, Yai?”

Kiai tersenyum lebih lebar.

Kiai Dul Kamid:

“Bagus pertanyaannya.”

Beliau lalu mencondongkan badan.

“Allah memang menjanjikan penggantian.

Tapi cara Allah mengganti itu luas,

tidak selalu hanya lewat angka.”

Beliau mengutip,

‘Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar,

dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.’

(QS. ath-Thalāq: 2–3)

“Kadang Allah mengganti harta,

kadang mengganti rasa aman,

kadang mengganti persaudaraan,

kadang mengganti dengan hati yang lebih lembut.”

Kang Nur mengangguk dalam.

“Jadi bisa jadi…

yang lebih mahal itu bukan bangunan yang berdiri lagi,

tapi rasa saling memiliki?”

Kiai mengangguk pelan.

“Nggeh…”

🌿 Musibah bisa menjadi sebab turunnya rahmat

Kiai Dul Kamid kemudian berkata lirih,

“Imam Ibn ‘Aṭā’illāh pernah dawuh:

‘Terkadang Allah membuka pemahaman bagimu lewat musibah,

yang tidak dibukakan-Nya lewat kenikmatan.’”

Kang Dul Hadi spontan nyeletuk,

“Wah… berarti enak-enak kuwi malah ora mesti nggawe ngerti, nggeh Yai?”

Kiai tertawa ringan.

“Lha… kenyataannya begitu, Kang.”

🌿 Yang berbahaya: salah membaca hikmah

Rizal tampak berpikir.

“Yai…

berarti kita harus hati-hati ya…

jangan sampai mengatasnamakan hikmah, tapi melukai perasaan korban?”

Kiai mengangguk pelan.

“Leres sekali.”

Kiai Dul Kamid:

“Hikmah itu untuk dirimu sendiri,

bukan untuk menekan orang yang sedang menangis.

Yang sedang kehilangan rumah,

jangan kita ceramahi: ‘iki hikmah, iki syukur’.

Tugas kita saat itu: menemani, menolong, dan mendoakan.”

Beliau menambahkan lembut,

“Rasulullah ﷺ tidak pernah menyuruh orang yang sedang sedih untuk cepat-cepat tegar.

Beliau justru mendekat.”

🌿 Musibah menggerakkan langit dan manusia

Kang Nur berkata lirih,

“Yai…

kemarin saya merasa…

seolah-olah musibah itu mengetuk dua pintu sekaligus.

Pintu langit dan pintu hati manusia.”

Kiai tersenyum.

“MasyaAllah… itu bahasa yang bagus.”

Kiai Dul Kamid:

“Boleh jadi, doa orang-orang yang terzalimi, yang kehilangan, yang bingung…

menjadi sebab Allah menggerakkan banyak hati untuk datang.”

Beliau menambahkan perlahan,

“Dalam tasawuf kita diajari,

bisa jadi satu tangis yang ikhlas…

lebih cepat sampai ke langit,

daripada seribu pidato.”

Kang Dul Hadi nyengir,

“Wah… berarti ojo kesuwen pidato, Yai.

Ngopi wae sing akeh…”

Semua tertawa kecil.

🌿 Penutup kecil dari Kiai

Hujan masih turun.

Kiai Dul Kamid menutup pelan,

“Musibah tetap musibah.

Ia pahit.

Tapi orang beriman tidak berhenti pada pahitnya.

Ia bertanya pelan dalam hati:

‘Ya Allah… lewat peristiwa ini, apa yang Engkau ingin hidupkan di dalam diriku?’”

Beliau menatap tiga orang di depannya.

“Kalau setelah melihat bencana,

hati kita lebih lembut,

tangan kita lebih ringan menolong,

dan doa kita lebih jujur…

Maka benar…

musibah itu telah berubah menjadi jalan rahmat.”

Serambi kembali sunyi.

Tinggal suara hujan.

Dan sisa kopi yang mulai dingin.

Rizal menatap lantai, lalu berkata pelan,

“Yai…

sepertinya bukan hanya korban bencana yang perlu dibantu…

tapi juga hati kita sendiri.”

Kiai tersenyum.

“Nggeh, Le…

hati kita juga sering jadi korban…

ramainya dunia.”

 wallahua’lam

Baca jugaa:

istidraj Bergelimang Harta

Comments

Popular posts from this blog

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU