Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kesadaran Batin

“Musibah yang Menggerakkan Langit dan Hati Manusia”

Gambar
Tulisan ini terinspirasi dari dawuh  Ketua Ranting NU Desa Serang (Pak Tarno) dalam sambutannya saat kunjungan saya dan teman-teman pengurus MWCNU Karangreja ke salah satu korban bencana banjir bandang dan longsor di lereng Gunung Slamet, Desa Serang. Jagongan ini adalah ikhtiar kecil untuk menangkap hikmah yang beliau sampaikan, agar bisa kita renungkan bersama. Baca juga  ikhlas di zaman pamer Malam itu hujan masih turun pelan. Serambi masjid basah tipis, bau kopi hitam bercampur tanah lembap. Empat orang duduk melingkar. Kiai Dul Kamid, Kang Dul Hadi (santri sepuh, langganan nyela), Kang Nur, dan Rizal — anak muda yang sejak kemarin pulang dari lokasi bencana. Rizal (menarik napas panjang): “Yai… kulo mau cerita. Kemarin kami sowan ke korban banjir bandang di lereng Slamet. Di tempat terakhir, Ketua Ranting NU-nya dawuh begini…” Rizal menirukan perlahan, ‘Musibah ini juga perlu kita syukuri… kita kehilangan harta, tapi Allah mengganti dengan berlipa...

Episode 2... Hujan, Hati, dan Bahasa yang Pelan-Pelan Menyatu

Gambar
(Jagongan Malam Jumat di Serambi Masjid) Baca juga: episode 1  QOLB bahasa yang mulai asing Rajab Menanam Sya'ban merawat Hujan turun pelan sejak selepas Isya. Rintiknya mengetuk genting masjid, tek… tek… tek…, seperti irama dzikir yang tak putus. Serambi masjid malam itu lebih hidup. Tikar digelar, kopi panas mengepul dan sepiring singkong goreng, dan empat sosok kembali duduk melingkar. Kyai Dul Kamid datang lebih awal. Sarungnya sedikit terangkat, peci tetap rapi. Kang Dul Hadi menyusul sambil mengibas-ngibaskan sarungnya yang basah. Kang Dul Hadi: Hujane iki berkah, Kyai. Nanging sarung kulo kok dadi berkah kanggo nyamuk… Semua tertawa. Kyai Dul Kamid (tersenyum): Hujan iku rahmat, Dul. Nek nyamuk melu seneng, yo ben—sing penting atimu ojo melu gatel. Kang Nur datang membawa gelas-gelas kecil. Kang Nur: Kopi panas sama singkong  goreng siap, Kyai. Biar obrolan tambah anget. Tak lama, Rizal duduk bersila, matanya berbinar—jelas masih membawa pertanyaan dari mala...

QOLB: BAHASA YANG MULAI ASING DIZAMAN RAMAI KITA

Gambar
Obrolan Malam Jumat selepas Isya Baca juga:  Rajab menanam Sya'ban merawat Ramadhan menuai Malam Jumat itu angin berembus pelan. Lampu serambi masjid menyala kekuningan. Empat orang duduk melingkar di atas tikar pandan yang sudah agak pudar warnanya. Di tengah, Kyai Dul Kamid, bersarung coklat tua dan peci hitam, duduk bersila sambil memegang tasbih. Di sampingnya, Kang Dul Hadi, santri sepuh yang sudah ubanan, matanya sipit tapi wajahnya selalu cerah—meski sering kurang mudeng kalau soal istilah berat. Tak jauh dari mereka, Kang Nur, santri aktif yang tenang dan jarang bicara panjang. Dan satu lagi, Anak Muda, sebut saja Rizal, wajahnya penuh rasa ingin tahu. Setelah wirid Isya selesai, Rizal membuka obrolan. Rizal: Kyai… niki kulo enten bingung setunggal. Zaman sakniki niki, kok kadosipun tiyang-tiyang gampang debat, gampang nyalahke, tapi angel tenan nek diajak ngomong dari ati? Kyai Dul Kamid tersenyum kecil. Tasbihnya berhenti sesaat. Kyai Dul Kamid: Nak Rizal, per...