Ramadhan Bukan Tentang Siapa yang Paling Rajin Ibadah, Tapi Siapa yang Paling Ikhlas Berubah

Baca juga 

musibah yang menggerakkan langit dan bumi

Ramadhan selalu datang dengan wajah yang indah.

Masjid menjadi lebih ramai, lantunan tilawah terdengar di banyak sudut, dan media sosial dipenuhi dengan nasihat kebaikan.

Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri:

Apakah Ramadhan ini benar-benar mengubah hati kita… atau hanya mengubah rutinitas kita?

Sering kali kita sibuk menghitung berapa rakaat yang sudah kita kerjakan, berapa juz yang sudah kita baca, dan berapa agenda ibadah yang sudah kita penuhi.

Tetapi kita lupa menengok ke dalam diri.

Ramadhan bukan tentang siapa yang terlihat paling rajin beribadah.

Ramadhan adalah tentang siapa yang paling jujur ingin berubah.

Ketika ibadah perlahan berubah menjadi ajang penilaian

Baca juga 

qolb bahasa yang mulai asing

Tanpa kita sadari, suasana Ramadhan terkadang membuat kita mudah membandingkan diri dengan orang lain.

Kita mulai merasa lebih baik karena lebih sering ke masjid.

Lebih bangga karena lebih rajin mengikuti kajian.

Lebih puas karena ibadah kita tampak lebih rapi daripada orang lain.

Padahal Allah sudah mengingatkan agar kita tidak sibuk merendahkan dan menilai sesama.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain… dan jangan pula kamu mencela dirimu sendiri serta memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”

(QS. Al-Ḥujurāt: 11)¹

Ayat ini seolah mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan bukan terletak pada tampilan lahiriah ibadah, tetapi pada keadaan hati di hadapan Allah.

Baca juga 

jagongan serambi Masjid episode 5

Ibadah yang banyak belum tentu menghadirkan perubahan

Tidak sedikit dari kita yang:

  • rajin tarawih, tetapi masih mudah menyakiti dengan lisan,
  • rajin sedekah, tetapi masih meremehkan orang lain,
  • rajin membaca Al-Qur’an, tetapi masih sulit memaafkan.

Padahal Rasulullah ﷺ telah menegaskan bahwa yang paling Allah nilai dari diri kita bukanlah penampilan dan bentuk lahiriah.

Beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”²

Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim.

Artinya, ibadah yang benar seharusnya meninggalkan bekas.

Bukan hanya di sajadah, tetapi juga di sikap hidup.

Ramadhan bukan lomba, tetapi latihan keikhlasan

Baca juga 

jagongan serambi masjid episode 4

Ramadhan bukan ajang siapa yang paling cepat khatam, siapa yang paling penuh agenda kajian, atau siapa yang paling sibuk berbagi konten kebaikan.

Ramadhan adalah latihan untuk meluruskan niat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”³

Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.

Jika niat kita beribadah hanyalah untuk terlihat baik, maka Ramadhan hanya akan memperindah citra diri.

Namun jika niat kita adalah benar-benar ingin berubah, maka Ramadhan akan memperbaiki hati.

Perubahan kecil yang paling dicintai Allah

Perubahan yang dicari Ramadhan sering kali bukan perubahan besar yang mengundang pujian.

Tetapi perubahan yang sunyi:

  • belajar menahan emosi,
  • belajar meminta maaf meski gengsi,
  • belajar lebih lembut kepada pasangan dan anak,
  • belajar menjaga lisan di saat lelah dan lapar.

Inilah perubahan yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.

Nasehat ulama tentang kejujuran hati

Seorang ulama besar generasi tabi‘in, Hasan al-Basri, pernah menasihati:

“Bukanlah iman itu dengan angan-angan dan hiasan, tetapi iman adalah sesuatu yang menetap di dalam hati dan dibenarkan oleh amal.”

Kalimat ini mengingatkan kita bahwa keindahan Ramadhan tidak terletak pada tampilan luar, tetapi pada kejujuran batin.

Baca juga 

Rajab Menanam Sya'ban merawat

Penutup: Ramadhan dan pertanyaan yang perlu kita ajukan

Pada akhirnya, Ramadhan tidak meminta kita menjadi manusia yang terlihat paling saleh.

Ramadhan hanya mengajak kita menjadi manusia yang lebih jujur kepada diri sendiri.

Lebih jujur pada amarah yang masih sering meledak.

Lebih jujur pada hati yang masih mudah iri.

Lebih jujur pada lisan yang masih sering melukai.

Jika Ramadhan ini membuat kita sedikit lebih sabar,

sedikit lebih lembut kepada keluarga,

sedikit lebih mudah memaafkan,

dan sedikit lebih rendah hati,

maka mungkin, itulah tanda bahwa Ramadhan benar-benar sedang bekerja di dalam diri kita.

Bukan tentang seberapa banyak ibadah yang kita tampilkan,

tetapi seberapa ikhlas kita membiarkan diri kita diubah oleh Allah.

Wallahua'lam 

Baca juga 

cermin yang berdebu


Catatan Kaki (Footnote)

  1. Al-Qur’an, Surah Al-Ḥujurāt ayat 11.
    Sumber: Al-Qur’an.
  2. HR. Muslim, no. 2564.
    Kitab: Shahih Muslim, Kitāb al-Birr wa ash-Shilah.
  3. HR. Bukhari, no. 1.
    Kitab: Shahih al-Bukhari, Kitāb Bad’ul Waḥy.


Comments

Popular posts from this blog

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU