QOLB: BAHASA YANG MULAI ASING DIZAMAN RAMAI KITA
Obrolan Malam Jumat selepas Isya Baca juga: Rajab menanam Sya'ban merawat Ramadhan menuai Malam Jumat itu angin berembus pelan. Lampu serambi masjid menyala kekuningan. Empat orang duduk melingkar di atas tikar pandan yang sudah agak pudar warnanya. Di tengah, Kyai Dul Kamid, bersarung coklat tua dan peci hitam, duduk bersila sambil memegang tasbih. Di sampingnya, Kang Dul Hadi, santri sepuh yang sudah ubanan, matanya sipit tapi wajahnya selalu cerah—meski sering kurang mudeng kalau soal istilah berat. Tak jauh dari mereka, Kang Nur, santri aktif yang tenang dan jarang bicara panjang. Dan satu lagi, Anak Muda, sebut saja Rizal, wajahnya penuh rasa ingin tahu. Setelah wirid Isya selesai, Rizal membuka obrolan. Rizal: Kyai… niki kulo enten bingung setunggal. Zaman sakniki niki, kok kadosipun tiyang-tiyang gampang debat, gampang nyalahke, tapi angel tenan nek diajak ngomong dari ati? Kyai Dul Kamid tersenyum kecil. Tasbihnya berhenti sesaat. Kyai Dul Kamid: Nak Rizal, per...