Episode 2... Hujan, Hati, dan Bahasa yang Pelan-Pelan Menyatu
(Jagongan Malam Jumat di Serambi Masjid) Baca juga: episode 1 QOLB bahasa yang mulai asing Rajab Menanam Sya'ban merawat Hujan turun pelan sejak selepas Isya. Rintiknya mengetuk genting masjid, tek… tek… tek…, seperti irama dzikir yang tak putus. Serambi masjid malam itu lebih hidup. Tikar digelar, kopi panas mengepul dan sepiring singkong goreng, dan empat sosok kembali duduk melingkar. Kyai Dul Kamid datang lebih awal. Sarungnya sedikit terangkat, peci tetap rapi. Kang Dul Hadi menyusul sambil mengibas-ngibaskan sarungnya yang basah. Kang Dul Hadi: Hujane iki berkah, Kyai. Nanging sarung kulo kok dadi berkah kanggo nyamuk… Semua tertawa. Kyai Dul Kamid (tersenyum): Hujan iku rahmat, Dul. Nek nyamuk melu seneng, yo ben—sing penting atimu ojo melu gatel. Kang Nur datang membawa gelas-gelas kecil. Kang Nur: Kopi panas sama singkong goreng siap, Kyai. Biar obrolan tambah anget. Tak lama, Rizal duduk bersila, matanya berbinar—jelas masih membawa pertanyaan dari mala...