Sejarah Singkat Perkembangan Ilmu Falak dalam Peradaban Islam


Baca juga 

penentuan awal Ramadhan apakah pada masa Nabi pernah menggunakan Hisab?


Pendahuluan

Pembahasan tentang penggunaan hisab dalam penentuan awal Ramadhan sering kali tidak dibedakan antara dua hal yang sangat penting, yaitu:

1. sejarah berkembangnya ilmu falak dalam peradaban Islam, dan

2. kedudukan hisab dalam hukum syariat penetapan ibadah.

Karena itu, sebelum membahas batas syar‘i penggunaan hisab, penting untuk terlebih dahulu menempatkan ilmu falak dalam konteks sejarahnya secara proporsional.

Awal berkembangnya ilmu falak secara sistematis

Para sejarawan Muslim menjelaskan bahwa perkembangan ilmu falak secara sistematis dan terlembaga dalam dunia Islam terjadi pada masa Daulah Abbasiyah, terutama di kota

Baghdad.

Di kota inilah berdiri pusat penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang sangat terkenal, yaitu

Bayt al-Hikma.

Di lembaga ini dilakukan penerjemahan besar-besaran karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab, termasuk karya-karya astronomi (ilmu falak).

Baca juga 

penjelasan singkat perbedaan waktu magrib

Keterangan al-Mas‘udi tentang berkembangnya ilmu falak

Sejarawan besar:

Ali ibn al-Husayn al-Mas’udi

menjelaskan bahwa pada masa kekhalifahan Abbasiyah, ilmu-ilmu rasional seperti kedokteran, matematika, dan ilmu nujūm (astronomi) berkembang pesat di kalangan kaum Muslimin, sebagai bagian dari gerakan penerjemahan dan pengembangan ilmu.

Rujukan:

Muruj adh-Dhahab wa Ma’adin al-Jawhar,

jilid 2, pada pembahasan tentang kegiatan ilmiah dan penerjemahan pada masa Abbasiyah.

Di dalam pembahasan tersebut, al-Mas‘udi memasukkan ilmu falak sebagai salah satu cabang ilmu yang berkembang di lingkungan ilmiah kaum Muslimin.

Keterangan Ibnu an-Nadim tentang kitab-kitab falak

Catatan yang sangat penting mengenai kitab-kitab falak dan para tokohnya terdapat dalam karya bibliografi klasik milik:

Ibn al-Nadim

yaitu:

Al-Fihrist

Dalam kitab ini, pada maqālah khusus tentang ilmu ta‘līm (ilmu hitung, geometri dan astronomi), Ibnu an-Nadim mencatat:

kitab-kitab falak yang beredar,

kitab-kitab zij (tabel astronomi),

serta nama-nama para ilmuwan falak Muslim generasi awal.

Kitab Al-Fihrist menjadi rujukan primer untuk mengetahui secara historis kapan dan oleh siapa karya-karya falak mulai berkembang di dunia Islam.

Contoh tokoh awal ilmu falak: al-Khawarizmi

Salah satu tokoh terawal dalam perkembangan ilmu falak di dunia Islam adalah:

Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi

Beliau menulis kitab falak yang sangat terkenal, yaitu:

Zij al-Sindhind

Kitab ini berisi tabel-tabel perhitungan astronomi mengenai posisi matahari, bulan dan planet, dan digunakan sebagai dasar perhitungan dalam ilmu falak.

Penyebutan kitab dan peran al-Khawarizmi ini dicatat oleh Ibnu an-Nadim dalam Al-Fihrist pada bagian ilmu ta‘līm.

Baca juga 

Rizki Antara janji langit dan kenyataan

Contoh tokoh besar berikutnya: al-Battani

Tokoh besar falak setelah generasi al-Khawarizmi adalah:

Al-Battani

Beliau menulis karya falak yang sangat berpengaruh, yaitu:

Kitab az-Zij

Kitab ini berisi hasil pengamatan astronomi yang sangat teliti tentang peredaran matahari dan bulan, serta data astronomi yang kemudian banyak dijadikan rujukan oleh para ilmuwan setelahnya.

Biografi al-Battani dan karya-karyanya disebutkan oleh sejarawan ilmu:

Ibn al-Qifti

dalam kitab:

Tarikh al-Hukama

Pada bagian biografi al-Battani, disebutkan bahwa ia melakukan pengamatan astronomi secara langsung dan menyusun data falak dengan metode ilmiah.

Penegasan fase sejarahnya

Berdasarkan keterangan kitab-kitab turats di atas dapat disimpulkan bahwa:

perkembangan ilmu falak secara terstruktur, melalui karya-karya ilmiah dan lembaga penerjemahan, terjadi pada masa Daulah Abbasiyah, khususnya di Baghdad.

Hal ini ditegaskan oleh:

Muruj adh-Dhahab karya al-Mas‘udi,

Al-Fihrist karya Ibnu an-Nadim,

dan Tarikh al-Hukama karya Ibnu al-Qifti.

Dengan demikian, secara historis dapat ditegaskan bahwa:

ilmu falak sebagai disiplin ilmiah berkembang setelah masa Nabi ﷺ, para sahabat, dan para tabi‘in, dan tumbuh dalam konteks pengembangan sains dan ilmu pengetahuan.

Contoh fungsi nyata ilmu falak pada masa itu

Dari karya-karya para ahli falak tersebut dapat dipahami bahwa fungsi utama ilmu falak pada masa itu adalah:

menghitung posisi matahari dan bulan,

menyusun tabel peredaran benda langit (zij),

membantu penentuan arah kiblat secara lebih akurat,

serta membantu pengaturan waktu dan kalender.

Misalnya, melalui kitab Zij al-Sindhind karya al-Khawarizmi dan Kitab az-Zij karya al-Battani, umat Islam memiliki data astronomi untuk membantu:

mengetahui posisi bulan saat akan melakukan rukyat,

memperkirakan terjadinya ijtimak,

dan menyiapkan waktu pengamatan hilal.

Namun perlu ditekankan bahwa seluruh aktivitas ini berada pada fungsi “membantu” dan “menunjang”, bukan sebagai pengganti sebab syar‘i dalam penetapan ibadah.

Baca juga 

langkah tergesa-gesa sang kiyai

Para tokoh falak yang disebutkan dalam pembahasan ini seluruhnya hidup pada masa setelah generasi sahabat dan tabi‘in. Al-Khawarizmi wafat tahun 232 H, al-Battani wafat tahun 317 H, Ibnu an-Nadim wafat sekitar 385 H, al-Mas‘udi wafat tahun 346 H, dan Ibnu al-Qifti wafat tahun 646 H. Hal ini menunjukkan bahwa berkembangnya ilmu falak sebagai disiplin ilmiah terjadi pada fase peradaban Islam yang jauh setelah masa tasyri‘, sehingga secara historis tidak dapat dijadikan dasar bahwa hisab pernah menjadi sebab syar‘i penetapan awal Ramadhan pada masa Nabi ﷺ dan generasi awal umat.

Penutup

Dari uraian sejarah ini dapat dipahami dengan jelas bahwa:

ilmu falak merupakan khazanah ilmu yang sangat berharga dalam peradaban Islam dan berkembang pesat pada masa Abbasiyah melalui para ilmuwan Muslim.

Akan tetapi, secara sejarah pula dapat ditegaskan bahwa:

ilmu falak sejak awal dikembangkan sebagai sarana ilmiah untuk membantu pengamatan, penataan waktu, dan keperluan-keperluan teknis umat Islam, bukan untuk menggantikan nash syar‘i dalam penetapan ibadah mahdhah seperti penentuan awal dan akhir Ramadhan.

Dengan memahami sejarah ini, umat dapat menempatkan ilmu falak secara adil:

menghargai ilmunya, memanfaatkan fungsinya, dan tetap menjaga batas-batas syariat dalam urusan ibadah.

Wallahua’lam bishawab

Baca juga 

Ramadhan bukan tentang siapa yang rajin ibadah


Periode Tokoh-Tokoh Ilmu Falak yang Disebut dalam Artikel

Ali ibn al-Husayn al-Mas’udi

Wafat: 346 H / 956 M

(Sejarawan besar abad ke-4 Hijriyah)

Ibn al-Nadim

Wafat: sekitar 385 H / 995 M

(Penyusun Al-Fihrist, hidup pada abad ke-4 Hijriyah)

Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi

Wafat: sekitar 232 H / 847 M

(Tokoh falak dan matematika generasi awal Abbasiyah, abad ke-3 Hijriyah)

Al-Battani

Wafat: 317 H / 929 M

(Ahli falak besar abad ke-3–4 Hijriyah)

Ibn al-Qifti

Wafat: 646 H / 1248 M

(Sejarawan dan penulis biografi ilmuwan, abad ke-7 Hijriyah)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU