Langkah Tergesa Sang Kiyai

baca: menunggu kehancuran perusak NU

Ia disebut alim, berjubah sunyi

Namun lisannya melangkah tanpa tabayuni

Keputusan dijatuhkan tergesa dan tinggi

Tanpa mendengar denyut hati santri

Satu kalimat memecah barisan rapi

Umat gaduh, saling curiga dan membenci

Organisasi yang dahulu teduh berseri

Kini muram oleh sikap sepihak sang pemimpin sendiri

Ada yang memilih menahan emosi

Mengharap damai demi maslahat organisasi

Namun sekelompok berdiri membabi buta membela posisi

Bukan karena kebenaran, tapi kepentingan pribadi dan koleksi kuasa duniawi

Ironi datang dalam selembar edaran resmi

Seruan tabayun setelah bara menyala tinggi

Padahal tabayun mestinya hadir di awal peristiwa ini

Bukan penenang luka setelah umat terbelah dan tersakiti

Lebih afdol tabayun dengan silaturahmi

Bertatap wajah, menyambung hati, menundukkan ego diri

Satu kantor, satu ruang, satu jalan rohani

Namun langkah terhenti seakan takut atau benci

Jika ilmu tak disertai adab hakiki

Maka ia berubah menjadi pisau sunyi

Melukai tanpa darah, memecah tanpa bunyi

Dan menjauhkan amanah dari ridha Ilahi

Wahai sang kiyai, dengarlah nurani

Kepemimpinan bukan sekadar legitimasi

Tabayun bukan tulisan di akhir tragedi

Melainkan akhlak hidup yang harus mendahului setiap aksi

Wong Gunung

Baca juga : ketika ilmu di kalahkan oleh nafsu

Hukum menyebut Allah dengan Gusti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN ILMIAHTERHADAP KLAIM PEMBATASAN KAIFIYAH WITIR TIGA RAKAAT(Telaah Hadits Shahih, Atsar Salaf, dan Kaidah Istidlāl)

Penjelasan singkat perbedaan waktu Maghrib antara jadwal edaran Purbalingga (PCNU atau Kemenag yang di jadikan pedoman Masjid, Mushola, Radio/TV) dan aplikasi ASR berpedoman BMKG

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS