Langkah Tergesa Sang Kiyai
Ia disebut alim, berjubah sunyi
Namun lisannya melangkah tanpa tabayuni
Keputusan dijatuhkan tergesa dan tinggi
Tanpa mendengar denyut hati santri
Satu kalimat memecah barisan rapi
Umat gaduh, saling curiga dan membenci
Organisasi yang dahulu teduh berseri
Kini muram oleh sikap sepihak sang pemimpin sendiri
Ada yang memilih menahan emosi
Mengharap damai demi maslahat organisasi
Namun sekelompok berdiri membabi buta membela posisi
Bukan karena kebenaran, tapi kepentingan pribadi dan koleksi kuasa duniawi
Ironi datang dalam selembar edaran resmi
Seruan tabayun setelah bara menyala tinggi
Padahal tabayun mestinya hadir di awal peristiwa ini
Bukan penenang luka setelah umat terbelah dan tersakiti
Lebih afdol tabayun dengan silaturahmi
Bertatap wajah, menyambung hati, menundukkan ego diri
Satu kantor, satu ruang, satu jalan rohani
Namun langkah terhenti seakan takut atau benci
Jika ilmu tak disertai adab hakiki
Maka ia berubah menjadi pisau sunyi
Melukai tanpa darah, memecah tanpa bunyi
Dan menjauhkan amanah dari ridha Ilahi
Wahai sang kiyai, dengarlah nurani
Kepemimpinan bukan sekadar legitimasi
Tabayun bukan tulisan di akhir tragedi
Melainkan akhlak hidup yang harus mendahului setiap aksi
Wong Gunung
Baca juga : ketika ilmu di kalahkan oleh nafsu
Comments
Post a Comment