Cermin Yang Berdebu


Hati bukan sekadar daging bernama qalb,
ia cermin Tuhan, tempat nur dan adab.
Namun ia sakit tanpa terasa sebab,
sombong, riya’, hasad—racun yang senyap.
Kata Ghazali, awal penyakit bermula,
saat diri dipuja, Tuhan terlupa.
Ilmu dipakai untuk tangga kuasa,
bukan untuk tunduk, tapi untuk merasa mulia.
Hasad membakar amal tanpa suara,
bagai api memakan kayu pahala.
Riya’ memoles ibadah semata rupa,
dipersembahkan pada manusia, bukan Yang Esa.
Cinta dunia akar segala luka,
jabatan, harta, sanjungan fana.
Hati terikat, ruh pun merana,
lupa bahwa kubur tak bertanya pangkat apa.
Lalu apa obatnya? tanya jiwa gelisah,
Ghazali menjawab dengan hikmah yang jelas:
Ilmu yang menghidupkan, bukan membanggakan,
amal yang ikhlas, bukan dipertontonkan.
Obat sombong: kenali asal kejadian,
dari tanah hina menuju kefanaan.
Obat hasad: ridha pada pembagian,
yakini Tuhan Maha Adil dalam ketetapan.
Obat riya’: sembunyikan amal dan doa,
biarkan hanya Allah yang tahu rasa.
Obat cinta dunia: zikir dan tafakkur,
ingat mati, hati pun luruh dan jujur.
Mujahadah—kata Imam—jalan penyembuhan,
melawan nafsu dengan sabar dan kejujuran.
Dan muraqabah, merasa selalu diawasi Tuhan,
hingga hati malu berbuat pengkhianatan.
Bukan cepat sembuh, bukan jalan singkat,
tapi istiqamah meski langkah terhambat.
Sebab hati yang sehat bukan yang bebas maksiat,
melainkan yang segera taubat saat ia terjerat.

Wallahua'lam 
Penafsir Jalanan 

Comments

  1. Betul..baik dan buruk hati kita tercermin dalam kehidupan,, semoga kita senantiasa di beri hati yang sehat, hati yang selalu mengingat Alloh, karena apapun yang kita lakukan baik itu sebuah kebaikan atau kesalahan, meski tidak terlihat oleh mahluk namun terlihat oleh Alloh.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU