“Rukyat” Bukan Hisab: Kritik Nahwu atas Distorsi Makna Hadis Penetapan Ramadhan
Baca juga Ketika ‘Melihat’ Dipaksa Menjadi ‘Menghitung’: Drama Tahunan Ramadhan dan Kekeliruan Membaca Hadis” Analisis Mantik (Logika) terhadap Argumentasi Hisab Modern dalam Penetapan Awal Bulan Hijriyah Pendahuluan Perdebatan penetapan awal Ramadhan sering dipersempit menjadi konflik “rukyat vs hisab”. Padahal problem yang lebih mendasar justru berada pada cara memahami teks hadis secara bahasa (nahwu). Hadis Nabi ﷺ: صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal), dan berbukalah karena melihatnya.” Sebagian pihak melakukan perluasan makna: “رؤية tidak harus melihat dengan mata, bisa juga berarti mengetahui (hisab).” Sekilas tampak ilmiah. Tapi jika diuji dengan disiplin nahwu dan ushul, argumen ini justru rapuh dari akarnya. 1. Akar Masalah: Generalisasi Makna dalam Nahwu Memang benar, dalam ilmu nahwu: رأى memiliki dua kemungkinan : بصرية (melihat dengan mata) قلبية/علمية (mengetahui/menilai) Namun di sini terjadi kesala...