Ketika Ilmu Dikalahkan oleh Nafsu
Transformasi 'Alim Menuju Hubb ad-Dunya
Seorang 'alim, yang secara harfiah berarti orang yang berpengetahuan, memegang kedudukan mulia dalam Islam. Namun, status ini bisa runtuh ketika pengetahuan yang dimiliki tidak lagi membimbing tindakannya, melainkan tunduk pada bisikan hawa nafsu.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai proses dan manifestasinya:
1. Ilmu Hanya di Lisan, Bukan di Hati Ilmu yang seharusnya menjadi lentera penerang jalan ke akhirat, hanya berhenti di tenggorokan atau lisan. Pengetahuan tersebut digunakan untuk berdebat, mencari popularitas, atau mengumpulkan pengikut, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hati tetap kering dari ketakwaan (taqwa).
2. Menggunakan Ilmu sebagai Alat Mencari Keuntungan Duniawi Ini adalah salah satu tanda paling nyata. 'Alim tersebut mulai memanfaatkan ilmunya untuk meraih materi, jabatan, atau kedudukan sosial. Fatwa atau pandangannya bisa "disesuaikan" demi menyenangkan penguasa, orang kaya, atau massa yang memberinya keuntungan finansial. Ilmu menjadi komoditas yang diperdagangkan.
3. Riya' dan 'Ujub (Pamer dan Bangga Diri) Nafsu mendorongnya untuk pamer akan kedalaman ilmunya. Ia merasa lebih tinggi dari orang lain ('ujub), dan tindakannya—baik dalam ibadah maupun pengajaran—dilakukan agar dilihat dan dipuji manusia (riya'). Pujian manusia lebih berharga baginya daripada keridhaan Allah.
4. Mengabaikan Prinsip Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Menyuruh Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran) yang Objektif Karena takut kehilangan dukungan, popularitas, atau sumber penghasilan, ia menjadi pilih-pilih dalam menerapkan kebenaran. Kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang menguntungkannya dibiarkan, bahkan dicari pembenarannya. Kebenaran menjadi relatif tergantung kepentingan pribadi.
5. Hubb ar-Ri'asah (Cinta Kepemimpinan/Jabatan) Nafsu berkuasa seringkali menjangkiti para 'alim. Ilmu digunakan sebagai tangga untuk mencapai posisi pemimpin, baik formal maupun informal. Fokusnya bergeser dari melayani umat dan agama, menjadi melanggengkan kekuasaan dan pengaruhnya.
Inti Permasalahan:
Seorang 'alim sejati menggunakan ilmunya untuk mengendalikan nafsu. Namun, ketika nafsu mengambil alih kemudi, ilmu menjadi budak nafsu. Hasilnya adalah hubb ad-dunya yang merusak, merendahkan martabat ilmu itu sendiri, dan menjauhkan pemiliknya dari esensi keimanan yang sejati. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang mendalami ilmu agama.
Menjadi kaca diri, terima kasih remindernya
ReplyDeleteTerimakasih
Delete