MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU

Baca: ketika ilmu dikalahkan oleh nafsu

Nahdlatul Ulama (NU) bukanlah sekadar organisasi kemasyarakatan biasa. Ia adalah sebuah Jam’iyyah yang berdiri di atas pondasi spiritual yang sangat kokoh. Didirikan melalui tirakat, istikharah, dan restu para wali Allah serta ulama-ulama besar, NU menyandang status sebagai organisasi "keramat". Kelahirannya bukan sekadar respons terhadap dinamika politik zaman itu, melainkan sebuah amanah langit untuk kemaslahatan umat di dunia hingga akhirat.

Benteng Keikhlasan dan Keberkahan

Tujuan utama didirikannya NU adalah untuk menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah dan memastikan umat tetap berada dalam koridor bimbingan ulama. Oleh karena itu, NU adalah ladang pengabdian yang dasarnya adalah keikhlasan. Para pendiri NU, seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, telah mewariskan sebuah institusi yang disirami dengan doa dan air mata spiritual.

Barangsiapa yang berkhidmat di NU dengan niat tulus "hidup-hidupilah NU", maka ia akan mendapatkan tetesan barokah dari para kekasih Allah tersebut. Hidupnya akan ditata, rezekinya akan dicukupkan, dan keluarganya akan mendapatkan ketenangan.

Peringatan bagi Para Perusak

Baca: batas kesabaran seorang istri menahan

Namun, ada sisi lain yang harus diwaspadai oleh siapapun yang bersentuhan dengan organisasi ini. Karena sifatnya yang keramat, NU memiliki "mekanisme pertahanan" spiritual yang sangat kuat. Barangsiapa yang mencoba merusak NU, atau dengan sengaja menggunakan NU sebagai alat demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, maka ia sedang menunggu kehancurannya sendiri.

Banyak yang berkedok "mengurusi NU", namun di hatinya hanya ada ambisi jabatan, harta, dan kekuasaan. Bagi mereka yang memiliki niat buruk seperti ini, kehancuran adalah kepastian. Bahkan dalam sebuah peringatan keras disebutkan, seandainya ia seorang yang memiliki kedudukan spiritual tinggi (wali) sekalipun, jika ia berani merusak tatanan NU, maka bisa lebur sifat kewaliannya dan jatuh martabatnya di mata Allah.

Mencari Hidup dari NU: Jalan Menuju Su'ul Khatimah

Salah satu fenomena yang paling menyedihkan adalah munculnya orang-orang yang "mencari hidup di NU", bukan "menghidup-hidupi NU". Mereka menjadikan organisasi ini sebagai batu loncatan untuk kepentingan duniawi.

Kehilangan barokah adalah dampak pertama yang akan dirasakan. Hidup mungkin terlihat bergelimang harta hasil memperalat organisasi, namun batinnya akan kering dan urusannya akan dipenuhi dengan kesia-siaan. Lebih mengerikan lagi, para ulama sering memperingatkan bahwa mereka yang mengkhianati amanah para pendiri NU dikhawatirkan akan menemui ajal dalam keadaan yang buruk (su'ul khatimah), karena ia telah menyakiti hati para wali yang menjadi paku bumi organisasi ini.

Penutup

NU adalah kapal besar yang membawa misi keselamatan. Kapal ini digerakkan oleh mesin keikhlasan. Siapa yang ikut mendayung dengan tulus, ia akan sampai ke tepian barokah. Namun, siapa yang mencoba melubangi kapal ini atau menjadikannya barang dagangan, bersiaplah untuk tenggelam dalam kehinaan.

Baca juga : empat malaikat penjaga manusia

(Wong Lereng Gunung Slamet

Comments

  1. ياجبارياقهار - ياجبارياقهار - ياجبار ياقهار ،ياذالبطش الشديد، خذحقناوحق المسلمين من من ظلمناو المسلمين...

    ReplyDelete
  2. Bismillah Biidznillah Niat Ingsung Nderek Kyai2 NU, Sami'na watongna,

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat