Tragédi Intelektual: Ketika Hawa Nafsu Merenggut Muruah Keilmuan
Dalam khazanah kisah-kisah teladan, sering kali kita mendengar tentang perjalanan pencarian ilmu yang dipenuhi dengan pengorbanan, kerendahan hati, dan adab yang luhur. Namun, ada pula kisah-kisah peringatan, yang berfungsi sebagai cermin untuk mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan, setinggi apa pun puncaknya, dapat menjadi bumerang jika tidak didasari oleh akhlak dan kendali diri.
Artikel ini mengisahkan kejatuhan seorang individu yang awalnya dikenal sebagai seorang yang alim, terpelajar, dan dihormati, namun perlahan kehilangan rasa malunya (hilang adab) dan merusak muruah (martabat/kehormatan) keilmuannya akibat menuruti bujukan hawa nafsu dan jerat kesombongan.
Baca juga : hukum menyebut nama Allah dengan sebutan Gusti
Sang Bintang di Langit Ilmu
Sebut saja namanya Syekh Arif. Di masa mudanya, ia adalah permata di majelis ilmu. Kecerdasannya yang luar biasa diasah oleh para ulama terkemuka, menjadikannya cepat menguasai berbagai disiplin ilmu agama, dari fikih, tafsir, hingga tasawuf. Ribuan jamaah pernah terpukau oleh kedalaman ilmunya dan kefasihan lisannya. Semua orang menghormatinya, menyanjungnya, dan melihatnya sebagai pewaris para nabi.
San-sanjungan dan popularitas inilah yang perlahan menjadi bibit awal dari penyakit hati yang paling mematikan bagi seorang alim: 'ujub (kagum pada diri sendiri) dan kibr (sombong).
Pergeseran Prioritas dan Hilangnya Rasa Malu
Awalnya, Syekh Arif berdakwah untuk menyebarkan cahaya ilmu dan hidayah. Namun, seiring berjalannya waktu, niatnya mulai bergeser. Fokusnya bukan lagi pada ridha Ilahi, melainkan pada pengakuan manusia, kemewahan duniawi, dan kekuasaan.
Hawa nafsu membisikkan bahwa statusnya yang tinggi harus disertai dengan fasilitas yang tinggi pula. Ia mulai memprioritaskan undangan dari kaum berada, mencari muka di hadapan penguasa, dan mengumpulkan harta benda.
Di titik inilah, rasa malu, sebagai benteng keimanan dan adab, mulai terkikis. Ia mulai berani tampil di tempat-tempat yang tidak pantas bagi seorang ulama, menggunakan retorika agama untuk membenarkan tindakan-tindakan yang melanggar norma, dan yang paling parah, ia kehilangan rasa malunya di hadapan Allah SWT dengan mengabaikan prinsip-prinsip wara (kehati-hatian) dan zuhud.
Baca juga: batas kesabaran seorang istri menahan
Merasa di Tingkat Tertinggi: Puncak Kesombongan
Penyakit sombong Syekh Arif mencapai puncaknya ketika ia merasa bahwa dirinya telah mencapai "maqam" (kedudukan spiritual) tertinggi, menganggap dirinya paling benar, paling suci, dan paling berhak atas penghormatan.
Keyakinan delusi ini membuatnya kehilangan adab dan rasa hormat pada orang lain, bahkan pada para guru dan ulama sepuh yang dulu membimbingnya.
Ciri-ciri kejatuhannya terlihat jelas:
Merendahkan Ulama Lain: Ia mulai secara terbuka mengkritik dan merendahkan pandangan ulama lain, bukan dalam koridor diskusi ilmiah yang sehat, melainkan dengan nada menghina dan meremehkan, seolah-olah hanya pendapatnya yang valid.
Menuntut Penghormatan Berlebihan: Ia marah besar jika ada yang tidak memperlakukannya sesuai dengan standar tinggi yang ia tetapkan sendiri.
Arogan dalam Berinteraksi: Bahasa dan sikapnya berubah menjadi kasar dan arogan, jauh dari sifat tawadhu (rendah hati) yang seharusnya menjadi mahkota bagi orang berilmu.
Muruah keilmuannya—martabat yang melekat pada ilmu itu sendiri—hancur. Ilmu yang seharusnya menjadikannya semakin dekat dan takut kepada Allah, justru menjadikannya congkak dan jauh dari akhlak mulia.
Pelajaran Penting dari Sebuah Kejatuhan
Kisah Syekh Arif adalah peringatan keras bagi siapa saja yang meniti jalan ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia. Ilmu pengetahuan adalah anugerah sekaligus amanah. Ia memiliki syarat dan adab yang harus dijaga.
Kejatuhan ini mengajarkan kita bahwa:
Ilmu tanpa adab adalah petaka. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin wajib baginya untuk rendah hati.
Hawa nafsu adalah musuh terbesar. Ia mampu membengkokkan niat yang paling tulus sekalipun.
Rasa malu adalah rem moral. Ketika rasa malu hilang, segala batasan dan norma akan diterobos.
Seorang alim yang kehilangan rasa malunya dan merusak muruah keilmuannya karena mengikuti hawa nafsu bukanlah seorang pewaris nabi, melainkan seorang hamba nafsu yang terperdaya oleh tipu daya dunia. Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat demikian, dan senantiasa diberikan petunjuk untuk menjaga ilmu kita dengan akhlak yang mulia.
(Wong lereng Gunung Slamet)
matur suwun ilmunya
ReplyDelete