Jendela Dunia dan Jalan Menuju Cahaya Ilahi

Jendela Dunia yang Mulai Dilupakan

Buku sejak lama disebut “jendela dunia”, “kunci pengetahuan”, dan “jembatan ilmu”. Lewat membaca, manusia bisa melintasi zaman, mengenal pemikiran para nabi, ulama, dan orang-orang bijak, tanpa harus melangkahkan kaki ke mana-mana.
Dalam Islam, membaca bukan sekadar kebiasaan intelektual, tetapi perintah Ilahi dan jalan menuju cahaya.
Allah ﷻ berfirman dalam wahyu pertama:
﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa membaca harus dilandasi iman. Ilmu tanpa arah Ilahi hanya akan membuat manusia pintar, tapi tidak bijak.
🌱 Membaca adalah Jalan Pencerahan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Maca buku sing apik iku dudu mung nambah pinter, nanging ngematangake ati lan pikiran. Membaca melatih kesabaran, ketekunan, dan adab berpikir.
Imam Al-Ghazali رحمه الله ngendika:
“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan.”
Artinya, membaca yang benar adalah membaca yang menghidupkan amal, bukan sekadar menumpuk pengetahuan.

📺 Ketika Hiburan Menggeser Ilmu

Sedihipun, zaman saiki akeh wong luwih seneng tontonan hiburan sing kosong makna. Hiburan sing mung ngguyu, nanging ora ndidik. Bahkan kadang mempengaruhi pola pikir lan gaya hidup ke arah negatif.
Allah ﷻ sudah mengingatkan:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ﴾
“Di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan dari jalan Allah.”
(QS. Luqman: 6)
Hiburan tanpa ilmu gampang melalaikan. Hati sing ora diisi ilmu, bakal gampang kebanjiran hawa nafsu.
Ibnu Qayyim رحمه الله berkata:
“Jika hati tidak disibukkan dengan kebenaran, ia akan disibukkan dengan kebatilan.”

🏛️ Membaca adalah Napas Peradaban

Para ulama dan orang bijak sepakat: peradaban besar lahir dari budaya membaca.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dawuh:
“Nilai seseorang tergantung pada ilmu yang ia miliki.”
Dan Imam Syafi’i رحمه الله berkata:
“Waktu itu seperti pedang. Jika tidak kau manfaatkan, ia akan memotongmu.”
Membaca adalah cara terbaik menghidupkan waktu, bukan sekadar menghabiskannya.

🌄 Penutup: Mari Kembali ke Buku

Membaca adalah napas peradaban, pelita akal, dan penjaga akhlak. Buku memang tak selalu menghibur seperti tontonan, tetapi membentuk manusia lebih dalam dan lebih tahan uji.
Allah ﷻ berfirman:
﴿وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾
“Wahai Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu.”
(QS. Thaha: 114)
Mugi kita dados umat sing ora mung seneng hiburan, nanging uga haus ilmu lan hikmah, supaya urip ora mung rame ing njaba, nanging uga padhang ing njero.
🤲 Allahumma zidna ‘ilman naafi’an, wa basyir qulubana bin nuril ‘ilm. Aamiin.

Wallahua'lam 
Penafsir Jalanan 

Comments

  1. mantap sangat bermanfaat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah semoga menjadi motivasi untuk gemar membaca buku kitab dan lainya yang menambah wawasan keilmuan yang bermanfaat.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU