Tabayun Sang Kiyai
Di serambi zikir ia duduk sunyi
Tasbih berputar, hati entah ke mana bersembunyi
Nama Tuhan terucap berulang kali
Namun sesama hamba terlewat diselami
Ia meminum cahaya dari kitab suci
Tapi menumpahkannya sebelum jernih di hati
Palu fatwa diketuk terlalu dini
Padahal hikmah belum sempat bertanya diri
Umat pun terbelah seperti kaca cermin diri
Sebagiannya memunguti serpih untuk berdamai kembali
Sebagiannya sibuk mengagungkan bayang kursi
Menyebutnya kebenaran, padahal nafsu yang diberkati
Lalu datanglah sepucuk warkah resmi
Berisi ajakan tabayun yang suci
Seperti menutup sumur setelah bayi jatuh ke bumi
Seperti menyalakan pelita ketika fajar telah mati
Padahal jalan menuju pintu tak sejauh mimpi
Satu lorong, satu atap, satu sajadah sufi
Mengapa huruf dipilih mengganti silaturahmi?
Apakah takut wajah sendiri tak sanggup ditatapi?
Wahai kiyai, ilmu bukan sekadar bunyi
Ia adab yang lebih dulu bersemi
Tabayun bukan akhir drama diri
Ia awal fana sebelum ego mengeras menjadi berhala batini
Sebab yang paling sulit ditabayuni
Bukan orang lain, bukan santri, bukan organisasi
Melainkan nafsu yang bersembunyi rapi
Di balik sorban, gelar, dan klaim suci Ilahi
Comments
Post a Comment