Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Episode 3 Ngopi, Hujan, dan Ujian Kejujuran Hati

Gambar
​ (Jagongan Serambi Masjid – Bahasa Hati, Bagian Ketiga) Baca juga :  QOLB bahasa yang mulai asing di zaman ramai episode 2 bahasa qolb yang mulai terlupa Hujan belum juga berhenti. Rintiknya kini lebih halus, namun lebih rapat. Selepas jamaah Isya, serambi masjid kembali ramai—kali ini oleh aroma kopi tubruk yang mengepul dari gelas-gelas kecil. Kang Dul Hadi sibuk mengaduk kopi. Kang Dul Hadi: Ngopi niki penting, Kyai. Biar obrolan niku melek. Nek ora, sing melek mung hujane. Tawa kecil menyebar. Kyai Dul Kamid tersenyum sambil merapatkan sarung. Kyai Dul Kamid: Kopi iku kaya ilmu, Dul. Nek kakehan, deg-degan. Nek pas, dadi terang. Rizal tak menunggu lama. Wajahnya tampak lebih serius dari malam-malam sebelumnya. Pertanyaan yang Mulai Menusuk Baca juga:  Rajab menanam Sya'ban merawat Ramadhan menuai Rizal: Kyai… menawi basa ati iku penting, napa kathah wong sing rumangsa “sudah tulus”, nanging isih gawe lara ati wong liya? Kyai Dul Kamid terdiam sejenak. Tasbih d...

Episode 2... Hujan, Hati, dan Bahasa yang Pelan-Pelan Menyatu

Gambar
(Jagongan Malam Jumat di Serambi Masjid) Baca juga: episode 1  QOLB bahasa yang mulai asing Rajab Menanam Sya'ban merawat Hujan turun pelan sejak selepas Isya. Rintiknya mengetuk genting masjid, tek… tek… tek…, seperti irama dzikir yang tak putus. Serambi masjid malam itu lebih hidup. Tikar digelar, kopi panas mengepul dan sepiring singkong goreng, dan empat sosok kembali duduk melingkar. Kyai Dul Kamid datang lebih awal. Sarungnya sedikit terangkat, peci tetap rapi. Kang Dul Hadi menyusul sambil mengibas-ngibaskan sarungnya yang basah. Kang Dul Hadi: Hujane iki berkah, Kyai. Nanging sarung kulo kok dadi berkah kanggo nyamuk… Semua tertawa. Kyai Dul Kamid (tersenyum): Hujan iku rahmat, Dul. Nek nyamuk melu seneng, yo ben—sing penting atimu ojo melu gatel. Kang Nur datang membawa gelas-gelas kecil. Kang Nur: Kopi panas sama singkong  goreng siap, Kyai. Biar obrolan tambah anget. Tak lama, Rizal duduk bersila, matanya berbinar—jelas masih membawa pertanyaan dari mala...

QOLB: BAHASA YANG MULAI ASING DIZAMAN RAMAI KITA

Gambar
Obrolan Malam Jumat selepas Isya Baca juga:  Rajab menanam Sya'ban merawat Ramadhan menuai Malam Jumat itu angin berembus pelan. Lampu serambi masjid menyala kekuningan. Empat orang duduk melingkar di atas tikar pandan yang sudah agak pudar warnanya. Di tengah, Kyai Dul Kamid, bersarung coklat tua dan peci hitam, duduk bersila sambil memegang tasbih. Di sampingnya, Kang Dul Hadi, santri sepuh yang sudah ubanan, matanya sipit tapi wajahnya selalu cerah—meski sering kurang mudeng kalau soal istilah berat. Tak jauh dari mereka, Kang Nur, santri aktif yang tenang dan jarang bicara panjang. Dan satu lagi, Anak Muda, sebut saja Rizal, wajahnya penuh rasa ingin tahu. Setelah wirid Isya selesai, Rizal membuka obrolan. Rizal: Kyai… niki kulo enten bingung setunggal. Zaman sakniki niki, kok kadosipun tiyang-tiyang gampang debat, gampang nyalahke, tapi angel tenan nek diajak ngomong dari ati? Kyai Dul Kamid tersenyum kecil. Tasbihnya berhenti sesaat. Kyai Dul Kamid: Nak Rizal, per...

Rajab Menanam, Sya’ban Merawat, Ramadhan Menuai

Gambar
Hikmah Maqolah Ulama dalam Cerita Serambi Masjid Di tengah tradisi keislaman Nusantara, kita sering mendengar ungkapan penuh makna: Rajab wulan nandur, Sya’ban wulan ngrumat, Ramadhan wulan panen. Ungkapan ini kerap disangka sebagai hadits Nabi ﷺ. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa ia adalah maqolah (ungkapan hikmah) ulama salaf , bukan hadits shahih. Meski demikian, maknanya sangat dalam dan sejalan dengan ajaran Islam tentang tahapan memperbaiki diri menjelang Ramadhan. Untuk memahaminya dengan lebih hidup, mari kita menyimak sebuah kisah kecil yang terjadi di serambi masjid, selepas shalat Isya. Baca juga:  ketika lidah melukai namun tangan tak mampu mengobati Kisah di Serambi Masjid Malam itu, hujan turun perlahan. Setelah shalat Isya berjamaah, jamaah masjid satu per satu pulang. Namun tiga orang masih bertahan di serambi masjid. Mereka adalah Kiyai Dul Kamid , seorang kiai sepuh yang tutur katanya tenang; Kang Dul Hadi , santri sepuh yang kritis dan ...

Apa Itu Batu Megalitik? Memahami Jejak Peradaban Purba dengan Contoh di Purbalingga

Gambar
Gambar hanya ilustrasi   Apa Itu Batu Megalitik? Pengertian, Ciri, dan Contohnya di Purbalingga Baca juga:  carang lembayung dan Wong Pajajaran Mukadimah Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Jejak sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk prasasti bertulis atau catatan kerajaan yang rapi. Dalam banyak peradaban tua, khususnya pada masa pra-aksara, manusia meninggalkan tanda-tanda keberadaannya melalui batu-batu besar yang disusun, ditegakkan, atau dimanfaatkan dengan cara tertentu. Batu-batu inilah yang dalam kajian arkeologi dikenal sebagai batu megalitik . Tulisan ini mengajak pembaca memahami apa yang dimaksud dengan batu megalitik, bagaimana ciri-cirinya, serta bagaimana contoh-contohnya dapat dijumpai di wilayah Purbalingga dan sekitarnya , tanpa tergesa-gesa menarik kesimpulan, namun dengan sikap ilmiah yang terbuka dan beradab. Apa yang Dimaksud Batu Megalitik? Baca juga:  jejak megalitik lereng Gunung Slamet Secara sederhana, megalitik berasal dari dua kata Yunan...

Galuh Purba: Antara Narasi Sejarah, Tradisi Lisan, dan Temuan Megalitik

Gambar
Baca juga:  carang lembayung dan Wong Pajajaran Kata Pengantar Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan manusia ke bumi dengan bekal akal, rasa, dan ingatan. Sejarah, pada hakikatnya, adalah bagian dari amanah tersebut: upaya manusia memahami jejak masa lalu agar tidak terputus dari akar asal-usulnya. Tulisan ini disusun sebagai ikhtiar kecil untuk membaca ulang narasi tentang Galuh Purba, khususnya yang sering dikutip dari tulisan para sejarawan kolonial dan penafsiran populer di masyarakat. Ikhtiar ini bukan untuk membantah secara gegabah, tetapi untuk mengajak pembaca lebih tabayyun, tidak menelan sejarah secara mentah, dan tidak pula menolaknya dengan emosi. Di wilayah Purbalingga, Banyumas, dan lereng Gunung Slamet, kita mendapati banyak batu-batu kuno dan tinggalan megalitik yang tidak disertai prasasti tertulis. Ketiadaan tulisan bukan berarti ketiadaan peradaban. Sebagaimana firman Allah, banyak tanda-tanda di bumi yang hanya da...

Jendela Dunia dan Jalan Menuju Cahaya Ilahi

Gambar
Jendela Dunia yang Mulai Dilupakan Baca:  ketika kebencian menutup pintu ilmu Buku sejak lama disebut “jendela dunia”, “kunci pengetahuan”, dan “jembatan ilmu”. Lewat membaca, manusia bisa melintasi zaman, mengenal pemikiran para nabi, ulama, dan orang-orang bijak, tanpa harus melangkahkan kaki ke mana-mana. Dalam Islam, membaca bukan sekadar kebiasaan intelektual, tetapi perintah Ilahi dan jalan menuju cahaya. Allah ﷻ berfirman dalam wahyu pertama: ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾ “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1) Ayat ini menegaskan bahwa membaca harus dilandasi iman. Ilmu tanpa arah Ilahi hanya akan membuat manusia pintar, tapi tidak bijak. 🌱 Membaca adalah Jalan Pencerahan Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim) Maca buku sing apik iku dudu mung nambah pinter, nanging ngematangake ati lan pikiran. Membaca melatih kesabaran, ketek...

Jejak Budaya Megalitik Lereng Gunung Slamet: Temuan Batu Kuno, Kesamaannya dengan Situs Megalitik Nusantara, dan Penjelasan Ilmiahnya

Gambar
Antara Temuan Arkeologis dan Narasi Lokal Ilustrasi suasana situs megalitik di lereng Gunung Slamet. Gambar bersifat visualisasi, bukan dokumentasi langsung. Pendahuluan Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat di wilayah lereng utara dan barat Gunung Slamet khususnya daerah Karangjambu, Karangmoncol, Desa Kramat, serta kawasan Pegunungan Lumbung Desa Sirau, menemukan sejumlah batu besar dengan bentuk dan susunan yang tidak lazim. Batu-batu ini berada di hutan, igir (punggung bukit), dan lahan perhutani yang relatif jauh dari pemukiman modern. Temuan tersebut memunculkan berbagai penafsiran. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan kisah leluhur, tokoh-tokoh masa lalu, bahkan menyebutnya sebagai “bumi wiwitan” atau awal mula kebudayaan Jawa. Tulisan ini tidak bermaksud menolak cerita lokal, tetapi berupaya menempatkan temuan batu tersebut dalam kerangka ilmiah yang jujur, sederhana, dan dapat diterima oleh masyarakat maupun kalangan akademisi . Gambaran Umum Temuan Batu Ba...

Carang Lembayung dan Wong Pajajaran

Gambar
Manusia yang Dianggap Siluman dalam Cerita Lisan Lereng Gunung Slamet Baca juga: ketika lidah tajam namun tangan tak mampu mengobati Pendahuluan Di wilayah lereng Gunung Slamet bagian selatan meliputi Karangjambu, Karangmoncol, Sirau, hingga Watu Kumpul hidup berbagai cerita lisan tentang keberadaan kelompok yang oleh masyarakat setempat disebut Carang Lembayung atau Wong Pajajaran . Dalam tuturan masyarakat, mereka kerap digambarkan mampu menghilang, berubah wujud, bahkan disamakan dengan siluman atau harimau penjaga hutan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan kebenaran literal dari cerita-cerita tersebut. Sebaliknya, ia bertujuan mendokumentasikan dan membaca ulang narasi lisan masyarakat sebagai data budaya , agar dapat dipahami secara lebih manusiawi dan berimbang baik oleh masyarakat umum maupun kalangan akademik. Istilah Carang Lembayung dan Wong Pajajaran Istilah Carang Lembayung tidak ditemukan dalam sumber tertulis klasik, namun hidup kuat dalam ingata...

Ketika Lidah Tajam, Namun Tangan Tak Mampu Mengobati

Gambar
Baca:  ketika ilmu dikalahkan oleh Nafsu Crita Serambi Masjid Malam Ahad Wengi wis rada sepi. Angin alon-alon ngelus serambi masjid. Lampu bohlam kuning madhangi telung wong sing lungguh jejeg ana serambi masjid sawise sholat Isya. Malam Ahad, wong desa wis padha bali omah, ning telung wong iki isih kober lungguh-duduk. Kiyai Dul Kamid lungguh tengah, sarungé dilipet rapi, tasbih isih muter alon. Ana sisih kiwa, Mbah Dulhadi, wong sepuh sing remen mikir jero. Sisih tengen, Kang Parman, wong enom, jujur ning kadhang rada telmi. Sawise suwe meneng, Mbah Dulhadi ngresula alon. Mbah Dulhadi: “Yai… inyong kie kepikiran terus. Ana wong, cangkeme pinter nasehati wong liya. Kabeh kesalahan wong liya katon. Ning pas awake dhewek ketiban masalah, kok ya bingung dhewek. Kuwe kepriwe sejatine, Yai?” Kiyai Dul Kamid mesem tipis. Tasbihé mandeg sedela. Kiyai Dul Kamid: “Hehehe… Mbah, kuwe wis saka jaman mbiyen. Wong kayak kuwe ibaraté nyebar peso landhep nang wong liya, ning pas dice...