Rois 'Am Terburuk Sepanjang Perjalanan

langkah tergesa-gesa sang kiyai

Sebuah organisasi keagamaan yang telah melampaui usia satu abad bukanlah bangunan biasa. Ia lahir dari peluh para ulama, tumbuh dari kesabaran para pendahulu, dan bertahan karena adab, ilmu, serta keikhlasan yang diwariskan lintas generasi. Dalam perjalanan panjang itu, organisasi ini dikenal sebagai rumah besar umat: santun dalam sikap, teduh dalam perbedaan, dan matang dalam menyikapi konflik.
Sejak awal berdirinya hingga masa-masa sebelum kepemimpinan hari ini, struktur tertinggi organisasi ini bertumpu pada Syuriah—sebuah majelis luhur yang berfungsi sebagai penjaga arah keagamaan dan moral. Dipimpin oleh Rois ‘Aam, Syuriah bukan sekadar simbol, melainkan penjaga marwah, penimbang kebijakan, dan peneduh ketika badai konflik datang. Ia ibarat majelis syura, laksana senator ruhani, yang memastikan setiap langkah organisasi selaras dengan nilai agama, adab keulamaan, dan maslahat jama’ah.
Dalam sejarahnya, para Rois ‘Aam terdahulu hadir dengan kewibawaan yang lahir dari ilmu dan kerendahan hati. Ketika konflik internal muncul—sebagaimana lumrah dalam organisasi besar—mereka tidak membesarkannya, apalagi mempertontonkannya. Dengan tabayun, musyawarah, dan kearifan, konflik diselesaikan di dalam rumah sendiri. Hubungan antar-pengurus tetap terjaga, jama’ah tetap percaya, dan organisasi terus melangkah maju, bahkan diakui di tingkat nasional dan dunia.
Namun, sejarah panjang yang teduh itu kini tercoreng.
Rois ‘Aam yang menjabat hari ini justru tampil jauh dari teladan para pendahulunya. Alih-alih menjadi peneduh, ia memilih berdiri di menara ego. Alih-alih menjaga jarak yang adil, ia larut dalam bisikan pendukung dan kepentingan kelompoknya. Keputusan-keputusan penting diambil secara sepihak, tanpa tabayun, tanpa musyawarah yang layak, dan tanpa kepekaan terhadap dampaknya bagi keutuhan organisasi.
Akibatnya, konflik yang seharusnya cukup diselesaikan di ruang pengurus justru tumpah ke ruang publik. Para pengurus saling bersitegang, jama’ah di bawah bingung dan malu, dan nama besar organisasi menjadi bahan pembicaraan di media serta ruang-ruang sosial. Bukan karena prestasi, melainkan karena kegaduhan.
Lebih menyedihkan lagi, konflik ini tidak berdiri di atas perbedaan prinsip keagamaan yang mulia, melainkan sarat dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Amanah Rois ‘Aam sebagai penjaga moral dan pemersatu ditinggalkan, digantikan oleh hasrat mempertahankan kuasa dan memuaskan lingkaran pendukung.
Kepercayaan jama’ah pun runtuh. Dukungan yang tersisa hanyalah dari mereka yang berada dalam kubu kepentingan. Sementara mayoritas jama’ah—yang selama ini setia karena nilai dan adab—memilih diam, kecewa, dan menjauh.
Dalam konteks inilah, dengan berat hati dan kesedihan yang mendalam, kepemimpinan ini layak dicatat sebagai Rois ‘Aam terburuk sepanjang perjalanan organisasi. Bukan karena kurangnya gelar atau posisi, tetapi karena kegagalannya menjaga harmoni, merawat amanah, dan melindungi marwah organisasi yang telah dibangun lebih dari satu abad.
Padahal, organisasi ini selama ini dikenal sebagai penengah, pendamai, dan pelindung umat—baik di dalam negeri maupun di mata dunia. Ketika pemimpin tertingginya justru menjadi sumber kegaduhan, maka yang terluka bukan hanya struktur organisasi, melainkan ruh perjuangan para pendiri.
Semoga kritik ini tidak dibaca sebagai kebencian, melainkan sebagai muhasabah. Karena dalam tradisi keulamaan, menegur dengan adab adalah bentuk cinta, dan mengingatkan penguasa adalah bagian dari menjaga amanah umat. Organisasi besar ini terlalu mulia untuk dikorbankan demi ambisi sesaat dan kepentingan sempit.

Wallahua'lam
Penafsir Jalanan
Wong Gunung

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU