Posts

Apa Itu Batu Megalitik? Memahami Jejak Peradaban Purba dengan Contoh di Purbalingga

Image
Gambar hanya ilustrasi   Apa Itu Batu Megalitik? Pengertian, Ciri, dan Contohnya di Purbalingga Baca juga:  carang lembayung dan Wong Pajajaran Mukadimah Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Jejak sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk prasasti bertulis atau catatan kerajaan yang rapi. Dalam banyak peradaban tua, khususnya pada masa pra-aksara, manusia meninggalkan tanda-tanda keberadaannya melalui batu-batu besar yang disusun, ditegakkan, atau dimanfaatkan dengan cara tertentu. Batu-batu inilah yang dalam kajian arkeologi dikenal sebagai batu megalitik . Tulisan ini mengajak pembaca memahami apa yang dimaksud dengan batu megalitik, bagaimana ciri-cirinya, serta bagaimana contoh-contohnya dapat dijumpai di wilayah Purbalingga dan sekitarnya , tanpa tergesa-gesa menarik kesimpulan, namun dengan sikap ilmiah yang terbuka dan beradab. Apa yang Dimaksud Batu Megalitik? Baca juga:  jejak megalitik lereng Gunung Slamet Secara sederhana, megalitik berasal dari dua kata Yunan...

Galuh Purba: Antara Narasi Sejarah, Tradisi Lisan, dan Temuan Megalitik

Image
Baca juga:  carang lembayung dan Wong Pajajaran Kata Pengantar Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan manusia ke bumi dengan bekal akal, rasa, dan ingatan. Sejarah, pada hakikatnya, adalah bagian dari amanah tersebut: upaya manusia memahami jejak masa lalu agar tidak terputus dari akar asal-usulnya. Tulisan ini disusun sebagai ikhtiar kecil untuk membaca ulang narasi tentang Galuh Purba, khususnya yang sering dikutip dari tulisan para sejarawan kolonial dan penafsiran populer di masyarakat. Ikhtiar ini bukan untuk membantah secara gegabah, tetapi untuk mengajak pembaca lebih tabayyun, tidak menelan sejarah secara mentah, dan tidak pula menolaknya dengan emosi. Di wilayah Purbalingga, Banyumas, dan lereng Gunung Slamet, kita mendapati banyak batu-batu kuno dan tinggalan megalitik yang tidak disertai prasasti tertulis. Ketiadaan tulisan bukan berarti ketiadaan peradaban. Sebagaimana firman Allah, banyak tanda-tanda di bumi yang hanya da...

Jendela Dunia dan Jalan Menuju Cahaya Ilahi

Image
Jendela Dunia yang Mulai Dilupakan Baca:  ketika kebencian menutup pintu ilmu Buku sejak lama disebut “jendela dunia”, “kunci pengetahuan”, dan “jembatan ilmu”. Lewat membaca, manusia bisa melintasi zaman, mengenal pemikiran para nabi, ulama, dan orang-orang bijak, tanpa harus melangkahkan kaki ke mana-mana. Dalam Islam, membaca bukan sekadar kebiasaan intelektual, tetapi perintah Ilahi dan jalan menuju cahaya. Allah ﷻ berfirman dalam wahyu pertama: ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾ “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1) Ayat ini menegaskan bahwa membaca harus dilandasi iman. Ilmu tanpa arah Ilahi hanya akan membuat manusia pintar, tapi tidak bijak. 🌱 Membaca adalah Jalan Pencerahan Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim) Maca buku sing apik iku dudu mung nambah pinter, nanging ngematangake ati lan pikiran. Membaca melatih kesabaran, ketek...

Jejak Budaya Megalitik Lereng Gunung Slamet: Temuan Batu Kuno, Kesamaannya dengan Situs Megalitik Nusantara, dan Penjelasan Ilmiahnya

Image
Antara Temuan Arkeologis dan Narasi Lokal Ilustrasi suasana situs megalitik di lereng Gunung Slamet. Gambar bersifat visualisasi, bukan dokumentasi langsung. Pendahuluan Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat di wilayah lereng utara dan barat Gunung Slamet khususnya daerah Karangjambu, Karangmoncol, Desa Kramat, serta kawasan Pegunungan Lumbung Desa Sirau, menemukan sejumlah batu besar dengan bentuk dan susunan yang tidak lazim. Batu-batu ini berada di hutan, igir (punggung bukit), dan lahan perhutani yang relatif jauh dari pemukiman modern. Temuan tersebut memunculkan berbagai penafsiran. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan kisah leluhur, tokoh-tokoh masa lalu, bahkan menyebutnya sebagai “bumi wiwitan” atau awal mula kebudayaan Jawa. Tulisan ini tidak bermaksud menolak cerita lokal, tetapi berupaya menempatkan temuan batu tersebut dalam kerangka ilmiah yang jujur, sederhana, dan dapat diterima oleh masyarakat maupun kalangan akademisi . Gambaran Umum Temuan Batu Ba...

Carang Lembayung dan Wong Pajajaran

Image
Manusia yang Dianggap Siluman dalam Cerita Lisan Lereng Gunung Slamet Baca juga: ketika lidah tajam namun tangan tak mampu mengobati Pendahuluan Di wilayah lereng Gunung Slamet bagian selatan meliputi Karangjambu, Karangmoncol, Sirau, hingga Watu Kumpul hidup berbagai cerita lisan tentang keberadaan kelompok yang oleh masyarakat setempat disebut Carang Lembayung atau Wong Pajajaran . Dalam tuturan masyarakat, mereka kerap digambarkan mampu menghilang, berubah wujud, bahkan disamakan dengan siluman atau harimau penjaga hutan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan kebenaran literal dari cerita-cerita tersebut. Sebaliknya, ia bertujuan mendokumentasikan dan membaca ulang narasi lisan masyarakat sebagai data budaya , agar dapat dipahami secara lebih manusiawi dan berimbang baik oleh masyarakat umum maupun kalangan akademik. Istilah Carang Lembayung dan Wong Pajajaran Istilah Carang Lembayung tidak ditemukan dalam sumber tertulis klasik, namun hidup kuat dalam ingata...

Ketika Lidah Tajam, Namun Tangan Tak Mampu Mengobati

Image
Baca:  ketika ilmu dikalahkan oleh Nafsu Crita Serambi Masjid Malam Ahad Wengi wis rada sepi. Angin alon-alon ngelus serambi masjid. Lampu bohlam kuning madhangi telung wong sing lungguh jejeg ana serambi masjid sawise sholat Isya. Malam Ahad, wong desa wis padha bali omah, ning telung wong iki isih kober lungguh-duduk. Kiyai Dul Kamid lungguh tengah, sarungé dilipet rapi, tasbih isih muter alon. Ana sisih kiwa, Mbah Dulhadi, wong sepuh sing remen mikir jero. Sisih tengen, Kang Parman, wong enom, jujur ning kadhang rada telmi. Sawise suwe meneng, Mbah Dulhadi ngresula alon. Mbah Dulhadi: “Yai… inyong kie kepikiran terus. Ana wong, cangkeme pinter nasehati wong liya. Kabeh kesalahan wong liya katon. Ning pas awake dhewek ketiban masalah, kok ya bingung dhewek. Kuwe kepriwe sejatine, Yai?” Kiyai Dul Kamid mesem tipis. Tasbihé mandeg sedela. Kiyai Dul Kamid: “Hehehe… Mbah, kuwe wis saka jaman mbiyen. Wong kayak kuwe ibaraté nyebar peso landhep nang wong liya, ning pas dice...

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Image
(Dialog di Rumah Kiyai Desa part 2) Baca:  Empat Malaikat penjaga manusia Kadang Allah tidak menurunkan jawaban lewat mimpi atau kitab tebal. Ia menghadirkannya lewat obrolan sederhana, di sela asap rokok lintingan, kopi pahit, dan ketela goreng yang masih mengepul. Malam itu, selepas Isya, tiga orang duduk di rumah Kiyai Dul Kamid masing-masing membawa keresahan, dan pulang dengan sedikit ketenangan. Di Serambi Rumah Kiyai Kang Dulhadi baru saja mengeluarkan tembakau dari saku sarungnya. Tangannya cekatan melinting rokok, tapi pikirannya terlihat ruwet. Kang Paiman (nyengir): “Lintinganmu kok ora rampung-rampung, Kang. Iki nglinting rokok opo mikir?” Kang Dulhadi: “Yo mikir, Man. Nek uripku iki iso dilinting rapi koyok rokok, mbok menawa ora buyar.” Kiyai Dul Kamid tersenyum sambil menyulut korek. Kiyai Dul Kamid: “Lintingan kuwi nek kesusu malah mbrodol. Urip yo ngono. Kesusu pengin rampung, pengin cepet sukses opo sugeh, malah buyar.” Asap rokok mulai naik pelan, me...

RIZKI ANTARA JANJI LANGIT DAN KENYATAAN BUMI

Image
baca:  Istidraj bergelimang Harta Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tak ada tema yang lebih sering mengusik hati manusia selain rizki.
Ada orang yang rajin sholat, puasa, doa tak pernah putus, tapi hidupnya tetap sederhana, bahkan pas-pasan.
Ada pula yang jarang ke masjid, sholat pun bolong-bolong, tapi hartanya melimpah, usahanya lancar, rumahnya bertingkat. Lalu manusia mulai bertanya dalam hati atau dengan suara keras:
“Bukankah Allah sudah menjamin rizki setiap makhluk?”
“Kalau begitu, kenapa hidup tidak adil?”
“Atau jangan-jangan janji Allah itu… tidak sepenuhnya nyata?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering tidak muncul di mimbar besar, tapi lahir di teras masjid, warung kopi, atau ruang tamu sederhana seperti malam itu, seusai sholat Isya berjamaah di sebuah masjid desa. Awal Percakapan Malam itu angin berembus pelan. Jamaah Isya mulai bubar.
Kiyai Dul Kamid seorang kiyai kampung yang dikenal kalem dan ndak neko-neko melangkah keluar masjid sambil membetulka...

Cermin Yang Berdebu

Image
baca :  ketika Ilmu dikalahkan oleh Nafsu Hati bukan sekadar daging bernama qalb,
ia cermin Tuhan, tempat nur dan adab.
Namun ia sakit tanpa terasa sebab,
sombong, riya’, hasad—racun yang senyap. Kata Ghazali, awal penyakit bermula,
saat diri dipuja, Tuhan terlupa.
Ilmu dipakai untuk tangga kuasa,
bukan untuk tunduk, tapi untuk merasa mulia. Hasad membakar amal tanpa suara,
bagai api memakan kayu pahala.
Riya’ memoles ibadah semata rupa,
dipersembahkan pada manusia, bukan Yang Esa. Cinta dunia akar segala luka,
jabatan, harta, sanjungan fana.
Hati terikat, ruh pun merana,
lupa bahwa kubur tak bertanya pangkat apa. Lalu apa obatnya? tanya jiwa gelisah,
Ghazali menjawab dengan hikmah yang jelas:
Ilmu yang menghidupkan, bukan membanggakan,
amal yang ikhlas, bukan dipertontonkan. Obat sombong: kenali asal kejadian,
dari tanah hina menuju kefanaan.
Obat hasad: ridha pada pembagian,
yakini Tuhan Maha Adil dalam ketetapan. Obat riya’: sembunyikan amal dan doa,
biarkan hanya Al...

Ketika Kebencian Menutup Pintu Ilmu dan Nasihat

Image
baca:  Langkah tergesa-gesa sang kiyai menunggu kehancuran perusak NU Dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita menjumpai orang-orang yang menjauh dari ahli ilmu. Bukan karena ahli ilmu tersebut melakukan kesalahan, melanggar syariat, atau menyimpang dari norma agama, tetapi semata-mata karena rasa tidak suka, benci, atau faktor subjektif tertentu. Ketidaksukaan ini kemudian berkembang menjadi sikap tidak respek terhadap ilmu dan nasihat yang disampaikan. Fenomena ini bukan perkara sepele. Dalam pandangan agama, sikap seperti ini dapat menyeret seseorang pada dosa, bahkan mengeraskan hati hingga sulit menerima kebenaran. Membenci Tanpa Alasan yang Benar Islam adalah agama yang adil. Ia memerintahkan umatnya untuk menilai sesuatu berdasarkan kebenaran, bukan perasaan pribadi. Ketika seseorang membenci atau menjauhi ahli ilmu tanpa alasan syar’i, padahal ahli ilmu tersebut tidak berbuat zalim dan tidak melanggar agama, maka kebencian itu lahir dari hawa nafsu. Allah Ta’al...

Menemukan Titik Temu: Solusi Islah dalam Konflik Otoritas vs Konstitusi Organisasi

Image
Baca juga:  batas kesabaran istri menahan Dalam dinamika organisasi, gesekan antar figur yang dikenal alim dan berintegritas seringkali menjadi ujian terberat. Konflik ini biasanya bermuara pada benturan antara etika moral (merasa benar secara substansi) dengan legalitas formal (ketaatan pada AD/ART). Ketika satu kubu merasa berhak memecat pimpinan demi "membersihkan" organisasi namun menabrak aturan main, sementara kubu lain menuntut perdamaian demi stabilitas, organisasi berada dalam ancaman stagnasi. Berikut adalah langkah-langkah strategis untuk mendamaikan kedua belah pihak: 1. Rekonstruksi Paradigma: Kebenaran vs Keabsahan Masalah utama seringkali berasal dari perasaan "paling benar" sehingga merasa boleh melampaui aturan. Dalam organisasi modern maupun keagamaan, kebenaran substansial harus berjalan beriringan dengan keabsahan prosedur. Solusi: Ingatkan kedua pihak bahwa keputusan yang benar secara niat namun salah secara prosedur (melanggar AD/AR...

Rois 'Am Terburuk Sepanjang Perjalanan

Image
langkah tergesa-gesa sang kiyai baca :   tabayun sang kiyai Sebuah organisasi keagamaan yang telah melampaui usia satu abad bukanlah bangunan biasa. Ia lahir dari peluh para ulama, tumbuh dari kesabaran para pendahulu, dan bertahan karena adab, ilmu, serta keikhlasan yang diwariskan lintas generasi. Dalam perjalanan panjang itu, organisasi ini dikenal sebagai rumah besar umat: santun dalam sikap, teduh dalam perbedaan, dan matang dalam menyikapi konflik. Sejak awal berdirinya hingga masa-masa sebelum kepemimpinan hari ini, struktur tertinggi organisasi ini bertumpu pada Syuriah—sebuah majelis luhur yang berfungsi sebagai penjaga arah keagamaan dan moral. Dipimpin oleh Rois ‘Aam, Syuriah bukan sekadar simbol, melainkan penjaga marwah, penimbang kebijakan, dan peneduh ketika badai konflik datang. Ia ibarat majelis syura, laksana senator ruhani, yang memastikan setiap langkah organisasi selaras dengan nilai agama, adab keulamaan, dan maslahat jama’ah. Dalam sejarahnya...

Langkah Tergesa Sang Kiyai

Image
baca:  menunggu kehancuran perusak NU Ia disebut alim, berjubah sunyi Namun lisannya melangkah tanpa tabayuni Keputusan dijatuhkan tergesa dan tinggi Tanpa mendengar denyut hati santri Satu kalimat memecah barisan rapi Umat gaduh, saling curiga dan membenci Organisasi yang dahulu teduh berseri Kini muram oleh sikap sepihak sang pemimpin sendiri Ada yang memilih menahan emosi Mengharap damai demi maslahat organisasi Namun sekelompok berdiri membabi buta membela posisi Bukan karena kebenaran, tapi kepentingan pribadi dan koleksi kuasa duniawi Ironi datang dalam selembar edaran resmi Seruan tabayun setelah bara menyala tinggi Padahal tabayun mestinya hadir di awal peristiwa ini Bukan penenang luka setelah umat terbelah dan tersakiti Lebih afdol tabayun dengan silaturahmi Bertatap wajah, menyambung hati, menundukkan ego diri Satu kantor, satu ruang, satu jalan rohani Namun langkah terhenti seakan takut atau benci Jika ilmu tak disertai adab hakiki Maka ia berubah menjadi pi...

Tabayun Sang Kiyai

Image
baca: menemukan titik temu islah Di serambi zikir ia duduk sunyi Tasbih berputar, hati entah ke mana bersembunyi Nama Tuhan terucap berulang kali Namun sesama hamba terlewat diselami Ia meminum cahaya dari kitab suci Tapi menumpahkannya sebelum jernih di hati Palu fatwa diketuk terlalu dini Padahal hikmah belum sempat bertanya diri Umat pun terbelah seperti kaca cermin diri Sebagiannya memunguti serpih untuk berdamai kembali Sebagiannya sibuk mengagungkan bayang kursi Menyebutnya kebenaran, padahal nafsu yang diberkati Lalu datanglah sepucuk warkah resmi Berisi ajakan tabayun yang suci Seperti menutup sumur setelah bayi jatuh ke bumi Seperti menyalakan pelita ketika fajar telah mati Padahal jalan menuju pintu tak sejauh mimpi Satu lorong, satu atap, satu sajadah sufi Mengapa huruf dipilih mengganti silaturahmi? Apakah takut wajah sendiri tak sanggup ditatapi? Wahai kiyai, ilmu bukan sekadar bunyi Ia adab yang lebih dulu bersemi Tabayun bukan akhir drama diri Ia awal fana se...

MENUNGGU KEHANCURAN PERUSAK NU

Image
Baca:  ketika ilmu dikalahkan oleh nafsu Nahdlatul Ulama (NU) bukanlah sekadar organisasi kemasyarakatan biasa. Ia adalah sebuah Jam’iyyah yang berdiri di atas pondasi spiritual yang sangat kokoh. Didirikan melalui tirakat, istikharah, dan restu para wali Allah serta ulama-ulama besar, NU menyandang status sebagai organisasi "keramat". Kelahirannya bukan sekadar respons terhadap dinamika politik zaman itu, melainkan sebuah amanah langit untuk kemaslahatan umat di dunia hingga akhirat. Benteng Keikhlasan dan Keberkahan Tujuan utama didirikannya NU adalah untuk menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah dan memastikan umat tetap berada dalam koridor bimbingan ulama. Oleh karena itu, NU adalah ladang pengabdian yang dasarnya adalah keikhlasan. Para pendiri NU, seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, telah mewariskan sebuah institusi yang disirami dengan doa dan air mata spiritual. Barangsiapa yang berkhidmat di NU dengan nia...

Tragédi Intelektual: Ketika Hawa Nafsu Merenggut Muruah Keilmuan

Image
Dalam khazanah kisah-kisah teladan, sering kali kita mendengar tentang perjalanan pencarian ilmu yang dipenuhi dengan pengorbanan, kerendahan hati, dan adab yang luhur. Namun, ada pula kisah-kisah peringatan, yang berfungsi sebagai cermin untuk mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan, setinggi apa pun puncaknya, dapat menjadi bumerang jika tidak didasari oleh akhlak dan kendali diri. Artikel ini mengisahkan kejatuhan seorang individu yang awalnya dikenal sebagai seorang yang alim, terpelajar, dan dihormati, namun perlahan kehilangan rasa malunya (hilang adab) dan merusak muruah (martabat/kehormatan) keilmuannya akibat menuruti bujukan hawa nafsu dan jerat kesombongan. Baca juga :  hukum menyebut nama Allah dengan sebutan Gusti Sang Bintang di Langit Ilmu Sebut saja namanya Syekh Arif. Di masa mudanya, ia adalah permata di majelis ilmu. Kecerdasannya yang luar biasa diasah oleh para ulama terkemuka, menjadikannya cepat menguasai berbagai disiplin ilmu agama, dari fikih,...

Ketika Ilmu Dikalahkan oleh Nafsu

Image
Transformasi 'Alim Menuju Hubb ad-Dunya Seorang 'alim, yang secara harfiah berarti orang yang berpengetahuan, memegang kedudukan mulia dalam Islam. Namun, status ini bisa runtuh ketika pengetahuan yang dimiliki tidak lagi membimbing tindakannya, melainkan tunduk pada bisikan hawa nafsu. Berikut adalah poin-poin penting mengenai proses dan manifestasinya: 1. Ilmu Hanya di Lisan, Bukan di Hati Ilmu yang seharusnya menjadi lentera penerang jalan ke akhirat, hanya berhenti di tenggorokan atau lisan. Pengetahuan tersebut digunakan untuk berdebat, mencari popularitas, atau mengumpulkan pengikut, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hati tetap kering dari ketakwaan ( taqwa ). 2. Menggunakan Ilmu sebagai Alat Mencari Keuntungan Duniawi Ini adalah salah satu tanda paling nyata. 'Alim tersebut mulai memanfaatkan ilmunya untuk meraih materi, jabatan, atau kedudukan sosial. Fatwa atau pandangannya bisa "disesuaikan" demi menyenangkan penguasa, orang ka...

Penggunaan Lafadz Niat Puasa Ramadhan Yang benar

Image
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuhu.. Niat puasa apakah Romadhona apa Romadhoni? Tentang hal ini, sering kita jumpai beragam versi bacaan niat puasa. Perbedaan terutama ada pada bagian harakat kata رمضان; apakah ia dibaca ramadlâna atau ramadlâni. Sebagian masyarakat membaca lafal niat di malam hari seperti ini:    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى  Menurut kaidah ilmu nahwu, redaksi tersebut keliru. Jika memaksa memilih membaca ramadlâna (dengan harakat fathah), maka pilihan yang paling mungkin kalimat selanjutnya adalah hâdzihis sanata (sebagai dharaf zaman/keterangan waktu), bukan hâdzihis sanati.  Ramadlâna dibaca fathah sebagai ‘alamat jar karena termasuk isim ghairu munsharif yang ditandai dengan tambahan alif dan nun sebagai illatnya. Artinya, boleh membaca ramadlâna dengan syarat kalimat selanjutnya hâdzihis sanata.  Namun, yang seperti ini jarang diungkapkan dalam kitab-kit...