“Pelajaran dari Pondok: Antara Ilmu Tinggi dan Taat pada Pemerintah”

Baca juga 

Analisis mantik (logika) terhadap argumentasi hisab

Saya masih ingat betul masa-masa mondok di daerah Kediri. Seperti kebanyakan santri, saya sering melewati hari raya di pondok—jauh dari keluarga, tapi dekat dengan pelajaran hidup yang tak ternilai.

Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika terjadi perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri pada tahun 1995.

Saat itu, pemerintah telah mengumumkan bahwa Idul Fitri jatuh pada hari Jumat. Namun, di sisi lain, ada sebagian organisasi dan beberapa pondok yang memiliki hasil hisab berbeda.

Di pondok saya, ada seorang ustadz ahli ilmu falak. Keilmuannya luar biasa—seolah-olah perhitungan langit itu sudah di luar kepala beliau. Beliau ikut menghitung penentuan Idul Fitri saat itu, dan hasilnya berbeda: menurut hisab beliau, Idul Fitri jatuh pada hari Kamis.

Secara ilmiah, hitungan itu kuat. Secara logika, bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, cerita tidak berhenti di situ.

Hasil tersebut kemudian sampai kepada keluarga ndalem (ahlul bait pondok). Dan di sanalah saya menyaksikan sebuah pelajaran besar—bukan sekadar tentang ilmu, tapi tentang adab dan sikap.

Almarhumah Ibu Nyai Mariah—yang kami kenal dengan panggilan Ibu Yah, putri dari KH. Khozin Muhajir, guru dari KH. Sahal Mahfud—langsung merespons dengan nada tegas, bahkan tampak marah.

Beliau dawuh:

“Senajan ilmune duwur sundul langit, ojo pisan-pisan nentang karo pemerintah, salegi pemerintah esih ngolehno awak dewe sholat.”

(Sekalipun ilmumu setinggi langit, jangan sekali-kali menentang pemerintah, selama pemerintah masih memberi kita kebebasan untuk beribadah.)

Kalimat itu sederhana, tapi menghantam dalam.

Apa pelajaran yang bisa diambil?

1. Ilmu itu penting, tapi adab lebih tinggi

Sehebat apa pun seseorang dalam ilmu, tetap ada batas yang dijaga: tidak menimbulkan kegaduhan di tengah umat.

2. Ada asumsi yang sering tidak disadari

Sebagian orang menganggap: “Kalau hitungan saya benar, maka harus diikuti.”

Padahal dalam urusan ibadah mahdhah—seperti puasa dan hari raya—tidak hanya soal benar-salah secara logika, tapi juga soal kesatuan umat dan ketaatan pada otoritas yang sah.

3. Alternatif sikap yang sering muncul

Mengikuti hisab pribadi → berpotensi memecah jamaah

Mengikuti pemerintah → menjaga persatuan, meski mungkin berbeda secara hitungan

Di sinilah letak kebijaksanaan: memilih mana yang lebih maslahat.

4. Kesimpulan yang bisa ditarik

Selama pemerintah masih mengurusi urusan agama umat Islam, memfasilitasi ibadah, dan tidak melarang syariat, maka sikap yang lebih selamat adalah taat dan tidak menyelisihi secara terbuka, khususnya dalam perkara ibadah mahdhah seperti awal dan akhir Ramadhan.

Karena dalam syariat, penentuan itu bersifat tauqifiyah—berdasarkan tuntunan, yaitu rukyat atau ikmal—bukan semata hasil perhitungan rasional.

Perbedaan itu mungkin tidak akan pernah hilang. Tapi yang menentukan kualitas umat bukan ada atau tidaknya perbedaan—melainkan bagaimana kita menyikapinya.

Dan dari pondok  di Kediri itu, saya belajar satu hal besar:

Kadang yang paling menunjukkan kedewasaan bukan siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling bisa menjaga persatuan.

M. Ibsam Bustomi 

Baca juga 

asal-usul Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha

puasa dan etika bermedia sosial

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN ILMIAHTERHADAP KLAIM PEMBATASAN KAIFIYAH WITIR TIGA RAKAAT(Telaah Hadits Shahih, Atsar Salaf, dan Kaidah Istidlāl)

Penjelasan singkat perbedaan waktu Maghrib antara jadwal edaran Purbalingga (PCNU atau Kemenag yang di jadikan pedoman Masjid, Mushola, Radio/TV) dan aplikasi ASR berpedoman BMKG

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS