Asal Usul Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha dalam Islam: Bagaimana Islam Menggantikan Tradisi Jahiliyah dengan Syariat yang Lebih Mulia

Baca juga 

Penentuan Awal Ramadhan: Apakah pada masa Nabi pernah berpuasa dengan Hisab tanpa Rukyat?

Pendahuluan
Setiap umat memiliki hari raya yang menjadi simbol kebersamaan dan identitas budaya mereka. Demikian pula masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Mereka memiliki beberapa hari perayaan yang diisi dengan permainan, pesta, dan berbagai hiburan.
Namun ketika Islam datang, Nabi Muhammad ﷺ tidak membiarkan umat Islam larut dalam tradisi tersebut. Islam tidak hanya melarang tradisi jahiliyah, tetapi menggantinya dengan syariat yang lebih baik dan lebih bernilai ibadah, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
Tulisan ini akan mengulas secara mendalam:
asal-usul hari raya sebelum Islam
dalil Qur'an dan hadis tentang Idul Fitri dan Idul Adha
penjelasan para ulama salaf
bagaimana Islam memperbaiki tradisi lama


1. Hari Raya di Madinah Sebelum Datangnya Islam
Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka rayakan setiap tahun.
Dua hari tersebut dikenal dalam tradisi Persia sebagai:
1. Nairuz (نَيْرُوز)
2. Mihrajan (مِهْرَجَان)
Kedua hari ini merupakan hari raya bangsa Persia yang kemudian masuk ke wilayah Arab melalui interaksi budaya.
Hari tersebut biasanya diisi dengan:
permainan
pesta
hiburan
pertemuan sosial
Hadis Nabi ﷺ
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
**قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ.**¹
Artinya:
“Ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari yang biasa mereka rayakan dengan bermain-main. Beliau bertanya: ‘Hari apakah ini?’
Mereka menjawab: ‘Kami biasa merayakannya pada masa jahiliyah.’
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya Allah telah mengganti bagi kalian dua hari itu dengan yang lebih baik: yaitu hari Idul Adha dan hari Idul Fitri.”
Hadis ini menjadi dalil utama tentang asal-usul dua hari raya dalam Islam.

Baca juga 

penentuan Awal Ramadhan; apakah pada masa Nabi pernah berpuasa dengan Hisab tanpa Rukyat?
2. Nama Dua Hari Raya Sebelum Islam
Sebagian ulama menjelaskan bahwa dua hari raya yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah:
1. Hari Raya Nairuz (نوروز)
Nairuz merupakan hari raya tahun baru Persia yang dirayakan pada awal musim semi.
Ibnu Taimiyah menjelaskan:
**وَالنَّيْرُوزُ وَالْمِهْرَجَانُ مِنْ أَعْيَادِ الْفُرْسِ.**²
Artinya:
“Nairuz dan Mihrajan adalah hari raya bangsa Persia.”
Pada hari tersebut masyarakat biasanya:
saling memberi hadiah
membuat pesta
mengadakan hiburan
2. Hari Raya Mihrajan (مهرجان)
Mihrajan adalah hari raya musim gugur dalam tradisi Persia.
Hari ini sering dirayakan dengan:
perjamuan makanan
permainan rakyat
hiburan dan pesta
Ketika Islam datang, Nabi ﷺ tidak membiarkan umat Islam mempertahankan hari raya tersebut, karena hari raya merupakan bagian dari syiar agama.


3. Prinsip Islam dalam Menyikapi Tradisi Lama
Islam memiliki prinsip yang sangat bijak dalam menghadapi tradisi yang sudah ada sebelumnya.
Tradisi lama dapat dibagi menjadi tiga:
Tradisi yang bertentangan dengan syariat → dihapus
Tradisi yang netral → diperbaiki
Tradisi yang baik → diteruskan
Dalam kasus hari raya, Islam menghapus bentuk jahiliyahnya dan menggantinya dengan syariat baru.


4. Idul Fitri: Hari Raya Setelah Ibadah Puasa
Idul Fitri merupakan hari raya yang datang setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan.
Dalilnya terdapat dalam Al-Qur'an:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ³
Artinya:
“Agar kalian menyempurnakan bilangan puasa dan agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya.”
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar takbir pada malam Idul Fitri.
Tafsir Imam Ath-Thabari
**وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ يَعْنِي لِتُعَظِّمُوا اللَّهَ يَوْمَ الْفِطْرِ.**⁴
Artinya:
“Maknanya adalah mengagungkan Allah dengan takbir pada hari Idul Fitri.”


5. Idul Adha: Hari Raya Pengorbanan
Idul Adha berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Allah berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ⁵
Artinya:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Ayat ini menjadi dasar syariat shalat Id dan penyembelihan kurban.

Baca juga 

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih dalam Perspektif Hadis dsn Fikih Klasik
6. Hari Raya Termasuk Syiar Agama
Para ulama Ahlussunnah menjelaskan bahwa hari raya merupakan syiar agama yang sangat penting.
Ibnu Taimiyah berkata:
**الأَعْيَادُ مِنْ أَخَصِّ شَعَائِرِ الدِّينِ.**⁶
Artinya:
“Hari raya termasuk syiar agama yang paling menonjol.”
Karena itu umat Islam hanya memiliki dua hari raya.


7. Penjelasan Ulama Fiqih Mazhab Syafi'i
Berikut beberapa kutipan dari kitab fiqih klasik.
1. I’anatut Thalibin
قال البكري الدمياطي:
**وَيُسَنُّ إِظْهَارُ السُّرُورِ فِي الْعِيدَيْنِ.**⁷
Artinya:
“Disunnahkan menampakkan kegembiraan pada dua hari raya.”
2. Nihayatul Muhtaj
قال الرملي:
**شُرِعَ الْعِيدَانِ شُكْرًا لِلَّهِ عَلَى إِكْمَالِ النِّعْمَةِ.**⁸
Artinya:
“Dua hari raya disyariatkan sebagai bentuk syukur kepada Allah atas sempurnanya nikmat.”
3. Hasyiyah Qalyubi
قال القليوبي:
**وَالْعِيدَانِ مِنْ شَعَائِرِ الإِسْلَامِ الظَّاهِرَةِ.**⁹
Artinya:
“Dua hari raya termasuk syiar Islam yang tampak.”
4. Tuhfatul Muhtaj
قال ابن حجر الهيتمي:
**الْعِيدُ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِعَوْدِهِ كُلَّ سَنَةٍ.**¹⁰
Artinya:
“Hari raya disebut ‘Id karena ia kembali setiap tahun.”
5. Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab
قال الإمام النووي:
**صَلَاةُ الْعِيدِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ.**¹¹
Artinya:
“Shalat Id adalah sunnah muakkadah.”

Baca juga 

Bantahan Ilmiah terhadap Klaim pembatasan kaifiyah witir tiga rakaat
8. Hikmah Penetapan Dua Hari Raya
Para ulama menjelaskan berbagai hikmah dari syariat dua hari raya:
1. Menggantikan perayaan jahiliyah
Islam tidak membiarkan umatnya meniru ritual agama lain.
2. Menguatkan ukhuwah
Pada hari raya umat Islam:
berkumpul
saling memaafkan
mempererat persaudaraan
3. Menghubungkan ibadah dengan kegembiraan
Idul Fitri → setelah puasa
Idul Adha → setelah haji
4. Menjadi syiar Islam
Hari raya adalah identitas umat.


9. Islam Kadang Memperbaiki Tradisi Lama
Islam tidak selalu menghapus semua tradisi lama.
Sebagian tradisi diperbaiki seperti:
haji (sudah ada sejak Nabi Ibrahim)
qurban
bulan haram
akad nikah
Namun Islam memurnikan dan memperbaikinya dari unsur syirik.

Tambahan Pembahasan
Sejarah Masuknya Hari Raya Nairuz dan Mihrajan ke Madinah
Sebagian ulama sejarah dan ahli hadis menjelaskan bahwa dua hari raya yang disebut dalam hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu kemungkinan besar adalah Nairuz (نوروز) dan Mihrajan (مهرجان).
Kedua hari raya ini berasal dari tradisi bangsa Persia yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk ke Jazirah Arab, melalui hubungan perdagangan, politik, dan budaya antara bangsa Arab dan Persia sebelum datangnya Islam.
Pengaruh Persia di Jazirah Arab
Sebelum Islam, wilayah Arab tidak sepenuhnya terisolasi dari peradaban besar di sekitarnya. Beberapa wilayah Arab bahkan berada di bawah pengaruh dua kekuatan besar dunia saat itu:
Kekaisaran Persia (Sasanid)
Kekaisaran Romawi (Bizantium)
Sebagian wilayah Arab bagian timur berada di bawah pengaruh Persia. Melalui interaksi ini, beberapa unsur budaya Persia dikenal oleh masyarakat Arab.
Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan:
وَالنَّيْرُوزُ وَالْمِهْرَجَانُ مِنْ أَعْيَادِ الْفُرْسِ الَّتِي كَانَتْ تُعْرَفُ عِنْدَ بَعْضِ الْعَرَبِ قَبْلَ الإِسْلَامِ.
Artinya:
“Nairuz dan Mihrajan termasuk hari raya bangsa Persia yang dikenal oleh sebagian orang Arab sebelum datangnya Islam.”¹²
Nairuz: Hari Raya Tahun Baru Persia
Nairuz merupakan perayaan awal tahun dalam kalender Persia yang jatuh pada awal musim semi.
Hari ini biasanya dirayakan dengan:
saling memberi hadiah
pesta makanan
hiburan
pertemuan keluarga
Sebagian masyarakat Arab yang berinteraksi dengan Persia kemudian ikut mengenal perayaan ini.
Mihrajan: Hari Raya Musim Gugur
Mihrajan adalah perayaan besar bangsa Persia yang dilakukan pada musim gugur.
Perayaan ini juga diisi dengan:
pesta rakyat
permainan
hiburan
Karena Madinah merupakan kota perdagangan yang terbuka bagi berbagai budaya, tidak mengherankan jika beberapa bentuk perayaan tersebut dikenal oleh masyarakat setempat sebelum Islam datang.

Baca juga 

Lailatul Qadar keutamaan hikmah dan cara menghidupkannya
Penjelasan Ulama tentang Hadis Dua Hari Raya
Beberapa ulama hadis menjelaskan makna hadis Nabi tentang dua hari raya tersebut.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani
Dalam kitab Fathul Bari, beliau menjelaskan:
**وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانَ لَهُمْ أَعْيَادٌ يَلْعَبُونَ فِيهَا فَلَمَّا جَاءَ الإِسْلَامُ أَبْدَلَهُمُ اللَّهُ بِالْعِيدَيْنِ.**¹³
Artinya:
“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa orang-orang jahiliyah memiliki hari raya yang mereka gunakan untuk bermain. Ketika Islam datang, Allah menggantinya dengan dua hari raya.”
Imam Al-Baghawi
Beliau menjelaskan:
**وَفِي الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِينَ أَنْ يَتَّخِذُوا عِيدًا غَيْرَ الْعِيدَيْنِ.**¹⁴
Artinya:
“Hadis ini menunjukkan bahwa tidak boleh bagi kaum Muslimin menjadikan hari raya selain dua hari raya tersebut.”


Tambahan Kutipan Ulama
Berikut tambahan kutipan ulama klasik yang menjelaskan tentang hari raya dalam Islam.
1. Fathul Bari (Ibnu Hajar)
قال ابن حجر:
**سُمِّيَ الْعِيدُ عِيدًا لِعَوْدِهِ وَتَكَرُّرِهِ كُلَّ سَنَةٍ.**¹⁵
Artinya:
“Hari raya disebut ‘Id karena ia kembali dan berulang setiap tahun.”
2. Bidayatul Mujtahid (Ibnu Rusyd)
قال ابن رشد:
**اتَّفَقَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ لِلإِسْلَامِ عِيدَيْنِ: عِيدَ الْفِطْرِ وَعِيدَ الأَضْحَى.**¹⁶
Artinya:
“Kaum Muslimin sepakat bahwa dalam Islam terdapat dua hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha.”
3. Al-Majmu' (Imam Nawawi)
قال النووي:
**يُسَنُّ التَّجَمُّلُ وَإِظْهَارُ السُّرُورِ فِي الْعِيدَيْنِ.**¹⁷
Artinya:
“Disunnahkan berhias dan menampakkan kegembiraan pada dua hari raya.”
4. Al-Mughni (Ibnu Qudamah)
قال ابن قدامة:
**الْعِيدَانِ مِنْ شَعَائِرِ الإِسْلَامِ الظَّاهِرَةِ.**¹⁸
Artinya:
“Dua hari raya termasuk syiar Islam yang tampak.”
5. Al-Umm (Imam Syafi'i)
قال الإمام الشافعي:
**وَبَلَغَنَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْمُصَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ.**¹⁹
Artinya:
“Sampai kepada kami bahwa Nabi ﷺ keluar menuju tempat shalat untuk shalat Id.”
6. Tafsir Ibnu Katsir
قال ابن كثير:
**شُرِعَ الْعِيدُ لِإِظْهَارِ شُكْرِ اللَّهِ عَلَى نِعَمِهِ.**²⁰
Artinya:
“Disyariatkan hari raya untuk menampakkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat-Nya.”
7. Iqtidha' Ash-Shirath Al-Mustaqim (Ibnu Taimiyah)
قال ابن تيمية:
**الأَعْيَادُ مِنْ أَعْظَمِ شَعَائِرِ الدِّينِ.**²¹
Artinya:
“Hari raya termasuk syiar agama yang paling besar.”
8. Al-Istidzkar (Ibnu Abdil Barr)
قال ابن عبد البر:
**الْعِيدُ يَوْمُ فَرَحٍ وَسُرُورٍ لِلْمُسْلِمِينَ.**²²
Artinya:
“Hari raya adalah hari kegembiraan bagi kaum Muslimin.”
9. Hasyiyah Al-Bujairimi
قال البجيرمي:
**وَيُسَنُّ التَّوَسُّعُ عَلَى الْعِيَالِ يَوْمَ الْعِيدِ.**²³
Artinya:
“Disunnahkan memberi kelapangan kepada keluarga pada hari raya.”
10. Al-Hawi Al-Kabir (Al-Mawardi)
قال الماوردي:
**وَالْعِيدُ شِعَارٌ لِأَهْلِ الإِسْلَامِ.**²⁴
Artinya:
“Hari raya merupakan syiar bagi umat Islam.”
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan:
Sebelum Islam masyarakat memiliki hari raya seperti Nairuz dan Mihrajan.
Nabi Muhammad ﷺ menggantinya dengan dua hari raya Islam.
Idul Fitri dan Idul Adha merupakan syiar agama yang disyariatkan Allah.
Islam menunjukkan prinsip yang bijak dalam menyikapi tradisi lama: menghapus yang buruk dan mengganti dengan yang lebih baik.
Dengan demikian, hari raya dalam Islam bukan sekadar budaya, tetapi bagian dari ibadah dan identitas umat Islam.
Wallahua'lam bishawab

 Baca juga 

Kisah para Ulama Salaf dalam mencari dan mendapatkan Lailatul Qadar


Catatan Kaki
1. HR Abu Dawud no 1134; An-Nasa'i no 1556; Ahmad 3/103.
2. Ibnu Taimiyah, Iqtidha' Ash-Shirath Al-Mustaqim, Juz 1 hlm 528.
3. Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 185, Juz 2.
4. Ath-Thabari, Jami' al-Bayan, Juz 3 hlm 450.
5. Al-Qur'an Surah Al-Kautsar ayat 2, Juz 30.
6. Ibnu Taimiyah, Iqtidha' Ash-Shirath Al-Mustaqim, Juz 1 hlm 496.
7. Al-Bakri Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Juz 1 hlm 423.
8. Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, Juz 2 hlm 389.
9. Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi, Juz 1 hlm 345.
10. Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, Juz 3 hlm 27.
11. Imam Nawawi, Al-Majmu', Juz 5 hlm 5.
12. Ibnu Taimiyah, Iqtidha' Ash-Shirath Al-Mustaqim, Juz 1 hlm 496.
13. Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz 2 hlm 443.
14. Al-Baghawi, Syarh As-Sunnah, Juz 4 hlm 294.
15. Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz 2 hlm 442.
16. Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Juz 1 hlm 279.
17. Imam Nawawi, Al-Majmu', Juz 5 hlm 12.
18. Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Juz 2 hlm 228.
19. Imam Syafi'i, Al-Umm, Juz 1 hlm 272.
20. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Juz 8 hlm 498.
21. Ibnu Taimiyah, Iqtidha' Ash-Shirath Al-Mustaqim, Juz 1 hlm 528.
22. Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar, Juz 7 hlm 34.
23. Al-Bujairimi, Hasyiyah Al-Bujairimi, Juz 2 hlm 336.
24. Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, Juz 2 hlm 482.


Tag: 

#asal usul idul fitri

#asal usul idul adha

#sejarah hari raya islam

#sejarah idul fitri

#sejarah idul adha

#nairuz dan mihrajan

#hari raya sebelum islam

#hadis tentang hari raya

#sejarah islam madinah

#syariat hari raya islam

#idul fitri dalam islam

#idul adha dalam islam

#tradisi jahiliyah dan islam

#pendapat ulama tentang hari raya

#fatwa ulama tentang idul fitri

#fiqih hari raya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN ILMIAHTERHADAP KLAIM PEMBATASAN KAIFIYAH WITIR TIGA RAKAAT(Telaah Hadits Shahih, Atsar Salaf, dan Kaidah Istidlāl)

Penjelasan singkat perbedaan waktu Maghrib antara jadwal edaran Purbalingga (PCNU atau Kemenag yang di jadikan pedoman Masjid, Mushola, Radio/TV) dan aplikasi ASR berpedoman BMKG

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS