Ketika A‘rāḍ Menggeser Maqṣūd: Kritik Ma‘qulat (Mantik-Falsafi) atas Penetapan Awal Ramadhan dengan Hisab Modern
Baca juga
Pendahuluan: Masalah yang Salah Ditempatkan
Perdebatan tentang penetapan awal Ramadhan sering diarahkan pada satu titik:
mana yang lebih akurat, rukyat atau hisab?
Ini problem framing.
Karena dalam kerangka mantik:
Masalah utama bukan akurasi, tetapi ketepatan taṣawwur (konsep) dan taṣnīf (klasifikasi).
Jika sejak awal terjadi kesalahan dalam memahami objek (taṣawwur), maka penetapan hukumnya (taṣdīq) hampir pasti meleset.
1. Taṣawwur dan Taṣdīq: Akar Kesalahan Epistemologis
قال الإمام الغزالي:
"التصور إدراك المفرد من غير حكم عليه، والتصديق هو الحكم على الشيء بإثبات أو نفي"
“Taṣawwur adalah memahami sesuatu tanpa menetapkan hukum, sedangkan taṣdīq adalah menetapkan hukum berupa penegasan atau penafian.”
*(Al-Ghazali, Mi‘yār al-‘Ilm)*¹
قال الفارابي:
"من لم يصح تصوره لم يصح تصديقه"
“Siapa yang rusak taṣawwurnya, maka tidak akan benar taṣdīq-nya.”
*(Al-Farabi, Kitāb al-Qiyās)*²
Analisis
Dalam nash:
Objek: ru’yah al-hilāl (melihat hilal)
Ini adalah:
إدراك حسي (persepsi inderawi langsung)
فعل خارجي (peristiwa nyata)
Namun dalam hisab modern:
Objek bergeser menjadi:
posisi bulan
data astronomi
👉 Ini bukan sekadar perbedaan metode, tetapi perubahan objek dalam taṣawwur.
Baca juga
Analisis Mantik (Logika) terhadap Argumentasi Hisab Modern dalam Penetapan Awal Bulan Hijriyah
2. Khathā’ fi al-Taṣnīf: Kesalahan Klasifikasi yang Sistemik
قال الغزالي:
"الغلط في الحدود يوجب الغلط في جميع ما يبنى عليها"
“Kesalahan dalam definisi akan menyebabkan kesalahan pada seluruh bangunan yang dibangun di atasnya.”
*(Mi‘yār al-‘Ilm)*³
قال الفارابي:
"الخطأ في التصور مبدأ كل خطأ في الحكم"
“Kesalahan dalam konsepsi adalah awal dari setiap kesalahan dalam penetapan hukum.”
*(Kitāb al-Burhān)*⁴
Analisis
Dalam maqūlāt:
Unsur Kategori Asli Dalam Hisab
Ru’yah fi‘l (aksi empiris). diabaikan
Hilal terlihat. إدراك حسي. direduksi
Hisab كم / إضافة. dijadikan penentu
👉 Ini adalah:
khathā’ fi al-taṣnīf (kesalahan kategorisasi)
3. Jauhar dan A‘rāḍ: Ketika Sifat Menggantikan Fungsi Inti
قال ابن سينا:
"الجوهر ما يقوم بذاته، والعرض ما لا يقوم بذاته بل في غيره"
“Jauhar adalah yang berdiri sendiri, sedangkan a‘rāḍ tidak berdiri sendiri tetapi berada pada selainnya.”
*(Al-Shifā’)*⁵
قال:
"العرض مفتقر إلى الجوهر في وجوده"
“A‘rāḍ bergantung pada jauhar dalam keberadaannya.”
*(Al-Najāt)*⁶
قال الغزالي:
"الأعراض لا تبقى زمانين ولا تستقل بأنفسها"
“A‘rāḍ tidak bertahan dua waktu dan tidak berdiri sendiri.”
*(Maqāṣid al-Falāsifah)*⁷
Analisis
Ru’yah → maqṣūd syar‘i (fungsi inti penetapan)
Hisab → sifat-sifat hilal (ketinggian, elongasi, dll)
Namun:
A‘rāḍ (hisab) dinaikkan menjadi penentu hukum
Ini melanggar prinsip:
العرض لا يقوم مقام الجوهر
4. Wujūd Khārijī vs Wujūd Zihnī
قال ابن سينا:
"للشيء وجود في الأعيان ووجود في الأذهان"
“Sesuatu memiliki eksistensi di luar (realitas) dan dalam pikiran.”
*(Al-Najāt)*⁸
قال الفارابي:
"المعقولات صور ذهنية للأشياء الخارجية"
“Konsep-konsep akal adalah gambaran mental dari realitas eksternal.”
*(Iḥṣā’ al-‘Ulūm)*⁹
Baca juga
Rukyat” Bukan Hisab: Kritik Nahwu atas Distorsi Makna Hadis Penetapan Ramadhan
Analisis
Rukyat → wujūd khārijī (realitas langsung)
Hisab → wujūd zihnī (model mental)
Masalahnya:
Representasi mental menggantikan realitas eksternal
5. Qiyās Ma‘al Fāriq: Analogi yang Tidak Sah
قال الغزالي:
"القياس مع الفارق فاسد الاعتبار"
“Analogi dengan perbedaan mendasar adalah rusak dan tidak معتبر.”
*(Al-Mustaṣfā)*¹⁰
قال الآمدي:
"إذا وجد الفارق بطل القياس"
“Jika terdapat perbedaan esensial, maka qiyās batal.”
*(Al-Iḥkām fī Uṣūl al-Aḥkām)*¹¹
Analisis
Menyamakan hisab dengan rukyat adalah:
→ qiyās ma‘al fāriq
Karena:
satu: aksi empiris
satu: model matematis
6. Kesalahan Berantai (Cascading Error)
قال ابن سينا:
"من أخطأ في المبادئ أخطأ في النتائج"
“Siapa yang salah dalam premis, pasti salah dalam kesimpulan.”
*(Al-Shifā’)*¹²
قال الغزالي:
"فساد الأصل يوجب فساد الفرع"
“Rusaknya dasar menyebabkan rusaknya cabang.”
*(Al-Mustaṣfā)*¹³
قال الفارابي:
"كل حكم بني على تصور فاسد فهو فاسد"
“Setiap hukum yang dibangun di atas konsepsi yang rusak, maka ia rusak.”
*(Kitāb al-Burhān)*¹⁴
يقال في المنطق:
"الحكم على الشيء فرع عن تصوره"
“Menetapkan hukum atas sesuatu adalah cabang dari cara memahaminya.”
*(Kaidah mantik)*¹⁵
Penutup
Masalah hisab bukan pada kecanggihannya.
Masalahnya adalah:
Ia lahir sebagai a‘rāḍ (deskripsi sifat)
Namun dipaksa menjadi maqṣūd (penentu hukum)
Ia bekerja pada wujūd zihnī
Namun menggantikan wujūd khārijī
Ia berada dalam kategori kam dan idāfah
Namun menggantikan fi‘l dan idrāk ḥissī
Maka yang terjadi bukan sekadar ijtihad berbeda, tetapi:
pergeseran struktur ontologis dan epistemologis dalam memahami nash
Dan jika ini dibiarkan:
“Kita tidak lagi sekadar berbeda dalam cara menentukan awal Ramadhan, tetapi telah berpindah dari realitas yang diperintahkan untuk disaksikan—menuju realitas yang hanya dibayangkan dan dihitung.”
Baca juga
Ketika ‘Melihat’ Dipaksa Menjadi ‘Menghitung’: Drama Tahunan Ramadhan dan Kekeliruan Membaca Hadis”
📚 Catatan Kaki
1. Al-Ghazali, Mi‘yār al-‘Ilm
2. Al-Farabi, Kitāb al-Qiyās
3. Al-Ghazali, Mi‘yār al-‘Ilm
4. Al-Farabi, Kitāb al-Burhān
5. Ibnu Sina, Al-Shifā’
6. Ibnu Sina, Al-Najāt
7. Al-Ghazali, Maqāṣid al-Falāsifah
8. Ibnu Sina, Al-Najāt
9. Al-Farabi, Iḥṣā’ al-‘Ulūm
10. Al-Ghazali, Al-Mustaṣfā
11. Al-Amidi, Al-Iḥkām
12. Ibnu Sina, Al-Shifā’
13. Al-Ghazali, Al-Mustaṣfā
14. Al-Farabi, Kitāb al-Burhān
15. Kaidah mantik klasik
Komentar
Posting Komentar