**Episode 4 Jagongan Serambi Masjid: Adab Ikhtilaf & Merawat Hati di Zaman Bising**

Baca juga : episode 3 ngopi hujan dan ujian

Hujan masih turun pelan, mengetuk genting masjid seperti dzikir yang tidak putus. Empat orang duduk melingkar di serambi, kopi mengepul, suasana hangat selepas Isya.

“Yai,” Rizal membuka jagongan,

“kok sekarang ini orang-orang pinter gampang ribut, terutama di media sosial?”

Kiai Dul Kamid tersenyum tipis.

“Itu bukan soal dalilnya, Le. Itu soal wadahnya.”¹

“Wadah maksudnya, Yai?” tanya Kang Nur.

“Nggeh,” jawab Kiai pelan.

“Ilmu itu seperti kopi. Kalau gelasnya bersih, wanginya keluar. Kalau gelasnya kotor, kopinya tetap kopi, tapi rasanya rusak.”⁵

Kang Dul Hadi langsung nyeletuk sambil mengangkat cangkirnya,

“Berarti masalahnya bukan kopinya, tapi gelasnya ya, Yai?”

Kiai tersenyum.

“Nah… itulah hati.”

Rizal mengangguk pelan.

“Berarti ikhtilaf sekarang ini bukan sekadar beda pendapat, tapi beda kondisi hati?”

“Persis,” jawab Kiai.

“Dulu para ulama berbeda pendapat, tapi hatinya tetap tenang dan saling menjaga adab.”⁴

“Sekarang, banyak yang pegang dalil, tapi hatinya ingin menang.”¹

Kang Nur menarik napas.

“Saya sering ngerasain itu, Yai. Diskusi niatnya lurus, ujung-ujungnya panas.”

“Karena media sosial itu seperti pasar malam,” kata Kiai sambil menatap hujan.

“Ramai, lampunya terang, semua teriak. Kalau hati tidak dirawat, pulangnya bukan dapat manfaat, tapi pusing.”

Kang Dul Hadi tertawa kecil.

“Kalau saya, Yai, ke pasar malam lima menit saja sudah pening.”

“Begitulah hati,” jawab Kiai.

“Tidak semua keramaian harus dimasuki. Tidak semua perdebatan harus ditanggapi.”²

Rizal lalu bertanya lebih tajam,

“Yai… berarti diam itu bukan kalah?”

Kiai menatapnya lembut.

“Diam itu sering kali menang melawan nafsu.”²

Suasana hening sejenak. Hanya hujan dan sendok menyentuh cangkir.

“Dalam tasawuf,” lanjut Kiai,

“yang paling berat bukan mengalahkan lawan debat, tapi mengalahkan dorongan hati ingin terlihat benar.”³

Kang Dul Hadi menggaruk kepala.

“Kalau saya nulis status, terus saya hapus lagi… itu termasuk tazkiyatun nafs, Yai?”

Kiai tertawa pelan.

“Kalau niatnya menjaga hati, nggeh.”⁶

Menjelang bubar, Kiai menutup dengan suara lirih,

“Zaman sekarang bukan kekurangan ilmu, tapi kelebihan suara. Maka tugas kita bukan menambah ribut, tapi menjaga beningnya hati.”

Mereka pulang satu per satu—dengan senyum kecil di wajah, dan diam panjang di hati.

Wallahua'lam 

Baca juga: episode 2 hujan hati dan bahasa

qolb bahasa yang mulai asing di zaman ramai

📚 

Catatan Kaki



¹ Imām al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz I, Bāb آفات العلم.

² Imām al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz III, Kitāb آفات اللسان.

³ Ibn ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī, Al-Ḥikam, Hikmah no. 45.

⁴ Imām asy-Syāṭibī, Al-I‘tiṣām, Juz II.

⁵ Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn, Juz I.

⁶ Imām an-Nawawī, Bustān al-‘Ārifīn.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN ILMIAHTERHADAP KLAIM PEMBATASAN KAIFIYAH WITIR TIGA RAKAAT(Telaah Hadits Shahih, Atsar Salaf, dan Kaidah Istidlāl)

Penjelasan singkat perbedaan waktu Maghrib antara jadwal edaran Purbalingga (PCNU atau Kemenag yang di jadikan pedoman Masjid, Mushola, Radio/TV) dan aplikasi ASR berpedoman BMKG

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS