**Episode 5 Jagongan Serambi Masjid: Ikhlas di Zaman Pamer**
Jagongan Serambi Masjid – Episode 5
Baca juga
Hujan sudah reda malam itu.
Tinggal sisa dingin yang menempel di lantai serambi, dan bau tanah basah yang belum sepenuhnya pergi.
Jagongan kemarin menyisakan banyak diam.
Bukan karena kehabisan kata, tetapi karena masing-masing pulang membawa cermin kecil di dadanya.
Tentang adab saat berbeda.
Tentang suara yang terlalu ramai.
Tentang hati yang sering lebih sibuk membenarkan diri daripada membenahi diri.
Malam ini, mereka kembali duduk melingkar.
Bukan untuk mencari siapa yang paling benar,
melainkan untuk belajar satu hal yang sering terlupa:
bagaimana menjaga hati agar tetap jujur di hadapan Allah,
saat dunia terus meminta kita untuk terlihat benar di hadapan manusia.
Dari sinilah jagongan Episode 5 dimulai.
Baca juga
qolb bahasa yang mulai asing di zaman ramai
Malam itu serambi masjid lebih sepi dari biasanya.
Hujan sudah berhenti sejak Magrib. Yang tersisa hanya dingin tipis dan suara dedaunan yang sesekali bergesek tertiup angin.
Empat orang itu duduk lagi di tempat yang sama.
Cangkir kopi mengepul, tapi obrolan tidak langsung pecah. Seolah masing-masing membawa lelahnya sendiri.
Rizal memecah sunyi.
“Yai… kok saya sekarang ini rasanya capek jadi orang baik?”
Kiai Dul Kamid menoleh, tersenyum pelan.
“Capeknya di mana, Le?”
Rizal menggaruk tengkuknya.
“Entahlah, Yai… kalau berbuat baik tapi nggak kelihatan, kok rasanya seperti kurang. Tapi kalau kelihatan, kok malah takut nggak ikhlas.”
Kang Nur ikut menyahut, suaranya jujur.
“Saya juga ngerasa begitu, Yai. Kadang kalau tidak posting kegiatan, takut dibilang tidak peduli umat.”
Baca juga
ketika lidah tajam namun tangan tak mampu mengobati
Kang Dul Hadi yang dari tadi sibuk meniup kopi, langsung nyeletuk,
“Berarti sekarang ini, amal tanpa kamera… belum sah ya, Yai?”
Mereka tertawa kecil.
Kiai Dul Kamid ikut tersenyum, tapi matanya tetap tenang.
“Le… Nur… Hadi…
yang membuat kita capek itu bukan amalnya.
Yang membuat kita capek itu… arah hati kita.”
Rizal mengangkat wajahnya.
“Arah hati maksudnya, Yai?”
Kiai mengangguk pelan.
“Kalau amal kita menghadap ke Allah, capeknya ada… tapi tenang.
Kalau amal kita menghadap ke manusia, capeknya ada… dan gelisah.”
Sunyi sebentar.
Kang Dul Hadi pelan-pelan mengangguk.
“Berarti kompasnya salah arah, Yai?”
Kiai tersenyum.
“Nggeh.
Hati itu seperti kompas. Kalau jarumnya selalu mengarah ke pujian orang, lama-lama kita bingung sendiri.”
Kang Nur menatap lantai serambi.
“Yai… kalau kita posting kebaikan, itu riya’ atau dakwah?”
Pertanyaan itu menggantung cukup lama.
Kiai Dul Kamid tidak langsung menjawab.
“Nur… riya’ itu bukan di postingannya.
Riya’ itu di rasa di dalam dada.”
Mereka menoleh.
“Kalau setelah posting, hati kita tenang karena berharap Allah menerima… itu bisa jadi dakwah.
Tapi kalau setelah posting, hati kita sibuk menunggu komentar, sibuk melihat jumlah like, sibuk menunggu pujian… di situlah riya’ mulai bernafas.”
Rizal menelan ludah.
“Berarti riya’ itu… senang dipuji, Yai?”
“Lebih halus dari itu, Le,” jawab Kiai lirih.
“Riya’ itu… butuh dipuji.”
Kang Dul Hadi mengangkat alis.
“Kalau senang dipuji, tapi nggak butuh-butuh amat… itu masih aman, Yai?”
Kiai terkekeh pelan.
“Itu namanya masih berperang.”
Mereka tertawa kecil.
Lalu Kiai melanjutkan,
“Tidak ada orang yang langsung bersih dari riya’.
Yang ada itu… orang yang terus sadar dan terus meluruskan niat.”
Rizal terdiam.
Lalu berkata pelan,
“Yai… saya jadi takut. Jangan-jangan selama ini saya berbuat baik supaya terlihat baik.”
Kiai Dul Kamid menoleh lembut.
“Le… rasa takut itu justru tanda hati masih hidup.”
Hening lagi.
Angin menyapu serambi.
Kiai lalu mengambil sendok kecil, mengetuk pelan pinggir cangkir.
“Tak kasih tamsil sederhana.
Amal itu seperti surat.
Yang penting bukan amplopnya bagus atau tidak.
Yang penting… sampai ke alamat yang benar.”
Kang Dul Hadi langsung nyeletuk,
“Alamatnya Allah, ya Yai?”
Kiai mengangguk.
“Kalau alamatnya berubah ke manusia,
surat itu tidak salah tulis…
tapi salah tujuan.”
Kang Nur menarik napas panjang.
“Yai… tapi jujur saja, kadang rasanya lelah.
Berbuat baik kok rasanya seperti lomba.”
Kiai menatapnya lama.
“Itu karena kita ikut berlomba di lapangan yang salah.”
Rizal mengernyit.
“Lapangan yang salah, Yai?”
“Nggeh.
Allah tidak pernah membuat lomba siapa yang paling terkenal.
Allah membuat lomba siapa yang paling ikhlas.”
Kang Dul Hadi tersenyum miring.
“Berarti lombanya sepi penonton, Yai.”
“Nggeh,” jawab Kiai pelan.
“Tapi penuh malaikat.”
Mereka terdiam.
Entah kenapa, kalimat itu terasa dingin tapi hangat.
Kiai melanjutkan dengan suara sangat lembut.
“Le… Nur… Hadi…
ikhlas itu bukan tidak terlihat oleh manusia.
Ikhlas itu… tidak bergantung pada manusia.”
Rizal mengangguk perlahan.
“Yai… bagaimana caranya menjaga ikhlas di zaman pamer seperti ini?”
Kiai tersenyum tipis.
“Tidak ada resep instan.”
Mereka tertawa kecil.
“Tapi ada satu latihan kecil,” lanjut Kiai.
“Biasakan punya satu amal…
yang hanya kamu dan Allah yang tahu.”
Sunyi.
Kang Dul Hadi menatap Kiai.
“Kalau satu amal saja, Yai?”
Kiai tersenyum.
“Satu saja… tapi dijaga.”
Rizal memejamkan mata sejenak.
“Yai… berarti bukan soal banyaknya kebaikan yang kita pamerkan…
tapi seberapa banyak yang kita sembunyikan.”
Kiai mengangguk pelan.
“Nggeh.”
Serambi kembali hening.
Tidak ada petuah panjang.
Hanya suara cangkir diletakkan perlahan.
Sebelum beranjak, Kiai Dul Kamid menutup jagongan dengan satu kalimat pendek.
“Kadang, yang paling berat dari menjadi orang baik…
bukan berbuat baiknya.
Tapi menjaga hati agar tetap hanya ingin Allah.”
Mereka pulang tanpa banyak kata.
Malam itu tidak ada hujan.
Tapi di dada masing-masing,
ada sesuatu yang sedang dibasuh perlahan.
Wallahua'lam
Baca juga
Catatan Kaki / Rujukan Kitab
Episode 5 – Jagongan Serambi Masjid: Ikhlas di Zaman Pamer
[1]
Tentang riya’ sebagai penyakit hati yang sangat halus dan sering menyusup ke dalam amal saleh.
📖 Imām al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn,
Kitāb Riyā’ wa al-‘Ujb, Juz III.
➡️ Rujukan dialog:
“Riya’ itu bukan di postingannya… riya’ itu di rasa di dalam dada.”
[2]
Tentang hakikat ikhlas: memurnikan tujuan amal hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk.
📖 Imām al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn,
Kitāb an-Niyyah wa al-Ikhlāṣ, Juz IV.
➡️ Rujukan dialog:
“Ikhlas itu bukan tidak terlihat oleh manusia, tapi tidak bergantung pada manusia.”
[3]
Amal yang tampak baik bisa kehilangan nilainya karena rusaknya niat.
📖 Ibn ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī, al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah, hikmah:
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ
وَرُبَّ عَمَلٍ كَ
➡️ Rujukan dialog:
“Yang penting bukan tampaknya amal, tapi ke mana ia diarahkan.”
(tersirat dalam tamsil surat dan alamat)
[4]
Tentang bahaya mencintai pujian dan ketergantungan hati kepada penilaian manusia.
📖 Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn, Juz II,
pembahasan maqām al-ikhlāṣ dan penyakit hati.
➡️ Rujukan dialog:
“Riya’ itu… butuh dipuji.”
[5]
Hadis pokok tentang seluruh amal bergantung pada niat.
📖 Imām al-Bukhārī & Imām Muslim,
Innamal a‘mālu bin-niyyāt.
➡️ Rujukan umum seluruh tema Episode 5.
[6]
Anjuran menyembunyikan amal dan keutamaan amal sirri (amal yang hanya diketahui Allah).
📖 Imām an-Nawawī, Bustān al-‘Ārifīn.
➡️ Rujukan dialog:
“Biasakan punya satu amal yang hanya kamu dan Allah yang tahu.”
Komentar
Posting Komentar