KESALAHAN KATEGORI DALAM PENETAPAN AWAL RAMADHAN Integrasi Ma‘qūlāt, Uṣūl Fiqh, dan Manqūlāt dalam Kritik Hisab Modern
Baca juga
ketika melihat dipaksa menjadi menghitung: drama tahunan kesalahan membaca teks hadis
Abstract
Artikel ini mengkaji problem epistemologis dalam penetapan awal Ramadhan melalui pendekatan hisab modern dengan menggunakan kerangka ma‘qūlāt (jauhar–a‘rāḍ), uṣūl fiqh (tahqīq al-manāṭ dan ta‘abbud), serta manqūlāt dari ulama klasik. Temuan menunjukkan bahwa dominasi hisab berpotensi menggeser struktur ontologis hukum dari basis normatif (ru’yah) menjadi basis naturalistik (data astronomi), yang dalam perspektif mantik merupakan bentuk qalb al-ḥaqīqah (pembalikan hakikat). Artikel ini menawarkan rekonstruksi metodologis dengan menempatkan hisab sebagai alat bantu, bukan pengganti rukyat.
Keywords
Ru’yah, Hisab, Ma‘qūlāt, Jauhar, A‘rāḍ, Uṣūl Fiqh, Epistemologi Islam
1. Pendahuluan
Perdebatan antara rukyat dan hisab dalam penentuan awal Ramadhan sering diposisikan sebagai konflik antara tradisi dan sains. Namun reduksi ini menutupi problem yang lebih mendasar, yaitu:
kesalahan dalam klasifikasi ontologis antara yang esensial (jauhar) dan yang aksidental (a‘rāḍ)
Kesalahan ini berdampak pada pergeseran dari:
struktur normatif (wahyu)
ke
struktur naturalistik (observasi ilmiah)
2. Kerangka Teoretis: Ma‘qūlāt dan Struktur Ontologis
Dalam tradisi filsafat Islam:
الجَوْهَرُ مَا لَا يَفْتَقِرُ فِي وُجُودِهِ إِلَى مَوْضُوعٍ【1】
“Jauhar adalah sesuatu yang tidak membutuhkan tempat dalam keberadaannya.”
وَالعَرَضُ مَا يَحْتَاجُ إِلَى مَوْضُوعٍ يَقُومُ بِهِ【1】
“Sedangkan ‘araḍ membutuhkan sesuatu sebagai tempat keberadaannya.”
(Ibn Sīnā, al-Shifāʾ, al-Ilāhiyyāt, jld. 1, hlm. 31)
Al-Fārābī menambahkan:
الأَعْرَاضُ تَتَغَيَّرُ دُونَ أَنْ تُغَيِّرَ ذَوَاتِ الْجَوَاهِرِ【2】
“A‘rāḍ dapat berubah tanpa mengubah esensi jauhar.”
(Kitāb al-Maqūlāt, hlm. 45)
3. Dalil Normatif: Ru’yah sebagai Basis Hukum
Hadis utama:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ【3】
(al-Bukhārī, no. 1909; Muslim, no. 1081)
Baca juga
Analisis Mantik (Logika) terhadap Argumentasi Hisab Modern dalam Penetapan Awal Bulan Hijriyah
4. Analisis Uṣūl Fiqh
4.1 Tahqīq al-Manāṭ
Ibn Taymiyyah menegaskan:
فَإِنَّ النَّبِيَّ عَلَّقَ الْحُكْمَ بِالرُّؤْيَةِ لَا بِالْحِسَابِ【4】
“Sesungguhnya Nabi menggantungkan hukum pada rukyat, bukan hisab.”
(Majmūʿ al-Fatāwā, jld. 25, hlm. 132)
4.2 Prinsip Ta‘abbud
Al-Ghazālī menyatakan:
الأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ【5】
“Asal dalam ibadah adalah mengikuti wahyu.”
(al-Mustaṣfā, jld. 1, hlm. 167)
Dan:
وَمَا لَا يُعْقَلُ مَعْنَاهُ يُتَّبَعُ فِيهِ النَّصُّ【5】
“Apa yang tidak dipahami maknanya secara rasional, maka diikuti nash di dalamnya.”
5. Penguatan dari Ulama Klasik
al-Nawawī
وَلَا يُعْتَمَدُ عَلَى قَوْلِ الْمُنَجِّمِينَ【6】
“Tidak dijadikan sandaran pendapat ahli hisab.”
(al-Majmūʿ, jld. 6, hlm. 276)
Ibn Ḥajar
وَقَدِ اسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى إِبْطَالِ الْعَمَلِ بِالْحِسَابِ【7】
“Hadis ini dijadikan dalil untuk menolak penggunaan hisab.”
(Fatḥ al-Bārī, jld. 4, hlm. 127)
al-Qurṭubī
فَعَلَّقَ الْحُكْمَ بِالرُّؤْيَةِ دُونَ الْحِسَابِ【8】
“Syariat menggantungkan hukum pada rukyat, bukan hisab.”
(Tafsīr al-Qurṭubī, jld. 2, hlm. 293)
al-Shāfi‘ī
فَإِنْ لَمْ يُرَ الْهِلَالُ أُكْمِلَ شَعْبَانُ ثَلَاثِينَ【9】
“Jika hilal tidak terlihat, maka Sya‘ban disempurnakan 30 hari.”
(al-Umm, jld. 2, hlm. 102)
Baca juga
Rukyat” Bukan Hisab: Kritik Nahwu atas Distorsi Makna Hadis Penetapan Ramadhan
6. Analisis Ma‘qūlāt: Pembalikan Jauhar–A‘rāḍ
Dengan integrasi di atas:
Ru’yah → ditetapkan nash
Hisab → hasil konstruksi rasional
Namun dalam praktik modern:
Hisab → dijadikan dasar
Ru’yah → diabaikan
Ini merupakan:
قَلْبُ الْحَقِيقَةِ وَتَبْدِيلُ مَرَاتِبِ الْوُجُودِ
(pembalikan hakikat dan hirarki ontologis)
7. Diskusi: Kritik dan Batasan
Penting dicatat:
Sebagian ulama membolehkan hisab sebagai alat bantu
Tidak semua menolaknya secara mutlak
Namun:
Tidak ditemukan legitimasi kuat untuk menjadikannya pengganti ru’yah
8. Kesimpulan
Kesalahan utama dalam dominasi hisab bukan pada akurasi ilmiahnya, tetapi:
Pembalikan jauhar–a‘rāḍ
Pergeseran dari ta‘abbudi ke rasionalistik
Perubahan struktur epistemologi hukum
9. Rekomendasi
Menempatkan hisab sebagai alat bantu (mu‘īn)
Menjaga ru’yah sebagai basis normatif (manqūl)
Mengintegrasikan akal dan wahyu tanpa dominasi salah satunya
Baca juga
Kritik Ilmiah terhadap Argumentasi Hisab dalam Penentuan Awal Ramadhan
bantahan ilmiah terhadap Klaim tiga rakaat Witir lebih Shahih
📌 FOOTNOTE
1. Ibn Sīnā, al-Shifāʾ: al-Ilāhiyyāt (Cairo: al-Hayʾah al-Miṣriyyah, 1960), 1:31.
2. al-Fārābī, Kitāb al-Maqūlāt (Cairo: Dār al-Fikr al-ʿArabī, n.d.), 45.
3. al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ, no. 1909; Muslim, Ṣaḥīḥ, no. 1081.
4. Ibn Taymiyyah, Majmūʿ al-Fatāwā (Riyadh: King Fahd Complex, 1995), 25:132.
5. al-Ghazālī, al-Mustaṣfā (Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1993), 1:167.
6. al-Nawawī, al-Majmūʿ (Beirut: Dār al-Fikr), 6:276.
7. Ibn Ḥajar, Fatḥ al-Bārī (Beirut: Dār al-Maʿrifah), 4:127.
8. al-Qurṭubī, al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qurʾān (Cairo: 1964), 2:293.
9. al-Shāfiʿī, al-Umm (Beirut: 1990), 2:102.
Komentar
Posting Komentar