Ngidam dan Demarenen: Warisan Budaya di Antara Keyakinan dan Ilmu Pengetahuan

Benarkah ngidam yang tak terpenuhi bisa berdampak pada bayi? Mengurai fenomena yang hidup di tengah masyarakat.

Baca juga 

Di sebuah grup percakapan sederhana, muncul cerita yang mungkin terasa sangat akrab di telinga kita:

Tentang ibu hamil yang “ngidam”—dan jika keinginannya tidak terpenuhi, konon bayi yang lahir bisa mengalami sesuatu, seperti “ngences” atau tanda tertentu di tubuhnya.

Atau kisah lain, yang tak kalah menarik—seorang anak kecil menangis berjam-jam tanpa sebab yang jelas. Namun setelah diludahi atau diberi sedikit makanan oleh kerabat yang sedang hamil, tangis itu tiba-tiba berhenti. Seolah-olah ada sesuatu yang “terselesaikan”.

Bagi sebagian orang, ini adalah hal biasa. Bahkan sudah menjadi pengetahuan turun-temurun. Tapi bagi yang lain, muncul pertanyaan:

Apakah ini benar secara ilmiah? Ataukah hanya sugesti dan kebetulan semata?

Di balik kepercayaan itu, tersimpan warisan budaya panjang yang diwariskan turun-temurun: tentang ngidam, demarenen, hingga keyakinan tertentu yang dipercaya memengaruhi kondisi bayi dalam kandungan. Sebagian orang menganggapnya sekadar mitos, sebagian lain melihatnya sebagai bentuk kasih sayang dan kontrol sosial dalam budaya masyarakat.

Lalu, sebenarnya bagaimana kita memahami tradisi ngidam dan demarenen? Apakah ia hanya kepercayaan lama tanpa dasar, atau justru menyimpan pesan psikologis, sosial, bahkan ilmiah yang jarang disadari?

Artikel ini akan mengajak kita menelusuri tradisi tersebut dari sudut pandang budaya, keyakinan masyarakat, dan ilmu pengetahuan modern secara lebih kritis dan proporsional.

Baca juga 

part 5 antara ikhtiar dan tawakal

Fenomena yang Hidup, Bukan Sekadar Cerita

Sebelumnya kita jangan terburu-buru menyimpulkan, penting untuk jujur mengakui satu hal:

Fenomena seperti ngidam dan demarenen bukan sekadar mitos kosong yang muncul tiba-tiba. Ia hidup, dialami, dan diwariskan dalam masyarakat—terutama di lingkungan pedesaan Jawa.

Artinya, kita tidak sedang membahas sesuatu yang “tidak nyata”.

Yang kita bahas adalah sesuatu yang nyata dalam pengalaman sosial, meskipun belum tentu jelas dalam penjelasan ilmiah.

Di sinilah sering terjadi kesalahan:

kita terlalu cepat memilih antara “percaya” atau “menolak”, tanpa mencoba memahami.

Ngidam: Antara Biologi dan Keyakinan

Dalam dunia medis, ngidam pada ibu hamil memang diakui sebagai fenomena nyata.

Perubahan hormon selama kehamilan dapat memengaruhi:

  • selera makan
  • sensitivitas indera
  • bahkan emosi dan keinginan tertentu

Namun, ilmu kedokteran tidak menemukan bukti bahwa tidak menuruti ngidam akan menyebabkan dampak fisik spesifik pada bayi, seperti “ngences” atau tanda tertentu.

Lalu kenapa keyakinan itu begitu kuat?

Di sinilah kita perlu membedakan antara:

  • korelasi (terjadi bersamaan)
  • dan sebab-akibat (benar-benar menyebabkan)

Bayi yang mengeluarkan air liur berlebih, misalnya, bisa dijelaskan secara medis sebagai bagian dari perkembangan normal—terutama pada fase pertumbuhan.

Namun ketika hal itu “dikaitkan” dengan ngidam yang tidak terpenuhi, maka terbentuklah sebuah narasi sebab-akibat yang dipercaya.

Baca juga 

part 4 langkah' awal yang sering di abaikan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang sering menghubungkan dua peristiwa yang terjadi berurutan menjadi hubungan sebab-akibat.

Misalnya ada orang berkata:

“Sejak memakai baju itu, dagangan saya jadi laris.”

Padahal belum tentu baju itu yang membuat dagangan laris. Bisa jadi karena:

  • lokasi sedang ramai,
  • pembeli memang sedang banyak,
  • atau kebetulan waktunya tepat.

Atau 

“Anak habis kehujanan lalu besok sakit, maka hujan dianggap penyebab utama. Padahal bisa jadi tubuhnya memang sudah lemah sebelumnya.”

Tetapi karena dua hal itu terjadi bersamaan dan berulang dalam ingatan, akhirnya muncul keyakinan bahwa keduanya saling berhubungan.

Begitu pula dalam fenomena ngidam.

Ketika ada bayi yang “ngences”, lalu orang tuanya teringat bahwa dulu ada keinginan ibunya saat hamil yang tidak terpenuhi, maka dua peristiwa itu perlahan disambungkan menjadi sebuah keyakinan turun-temurun.

Bukan karena masyarakat sengaja mengarang cerita, tetapi karena memang begitulah cara manusia sejak dahulu mencoba memahami sesuatu yang belum sepenuhnya bisa dijelaskan.

Baca juga 

part 3 ketika diagnosis menjadi keliru

Demarenen: Ketika Emosi, Sugesti, dan Interaksi Sosial Bertemu

Fenomena anak yang menangis lama lalu tiba-tiba tenang setelah “ritual” tertentu—seperti diludahi atau diberi makanan oleh ibu hamil—lebih menarik lagi untuk dikaji.

Secara medis, tidak ada mekanisme biologis yang menjelaskan bahwa tindakan tersebut memiliki efek langsung.

Namun jika dilihat dari sisi psikologis dan sosial, kita menemukan hal lain:

  • Anak kecil sangat peka terhadap emosi orang di sekitarnya
  • Saat terjadi “ritual”, suasana biasanya berubah:
    • perhatian meningkat
    • kepanikan berkurang
    • orang dewasa menjadi lebih tenang

Perubahan suasana ini bisa memengaruhi kondisi anak.

Dalam dunia psikologi, ini mirip dengan konsep:

  • placebo effect (efek sugesti yang nyata dampaknya)
  • regulasi emosi melalui lingkungan sosial

Artinya, yang bekerja bukan semata-mata “ludah” atau “makanan” itu sendiri,

tetapi makna, keyakinan, dan interaksi yang menyertainya.

Baca juga 

Alqur'an sebagai Syifa antara medis dan gaib

Dimensi Budaya: Mengapa Hal Ini Terus Bertahan?

Untuk memahami fenomena ini secara utuh, kita tidak bisa hanya memakai kacamata medis atau psikologis saja. Kita juga harus melihat dari sisi budaya.

Dalam banyak tradisi Jawa, ibu hamil memiliki posisi yang “istimewa”.

Bukan hanya secara biologis, tapi juga secara simbolik.

Ia dianggap membawa:

  • kehidupan
  • harapan
  • bahkan “energi” tertentu dalam pandangan masyarakat

Sehingga tindakan seperti:

  • memberi makanan
  • atau sekadar menyentuh

bukan dipahami sebagai tindakan fisik semata,

melainkan sebagai bagian dari ritual sosial yang sarat makna.

Di sinilah kita melihat bahwa fenomena seperti demarenen bisa bertahan, karena ia tidak hanya “dipercaya”, tapi juga dirasakan bermakna oleh komunitas.

Menjembatani: Tidak Semua Harus Ditolak, Tidak Semua Harus Diterima

Pertanyaannya sekarang bukan lagi:

“Ini benar atau salah?”

Tapi lebih dalam dari itu:

“Bagaimana kita memahaminya dengan tepat?”

Menolak mentah-mentah bisa membuat kita kehilangan kearifan lokal.

Namun menerima tanpa kritik juga bisa menyesatkan.

Maka posisi yang lebih bijak adalah:

  • Mengakui bahwa fenomena ini nyata dalam pengalaman sosial
  • Memahami bahwa sebagian bisa dijelaskan secara psikologis dan budaya
  • Dan tetap jujur bahwa tidak semua memiliki dasar ilmiah sebagai sebab-akibat biologis

Penutup: Antara Tubuh, Pikiran, dan Warisan

Seringkali, apa yang kita anggap sebagai “kesembuhan” bukan hanya kerja tubuh semata,

melainkan juga kerja pikiran, emosi, dan keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ngidam dan demarenen mungkin bukan hukum medis yang bisa diuji di laboratorium.

Namun ia adalah cermin bagaimana manusia memahami dunia—dengan rasa, pengalaman, dan makna.

Maka tugas kita hari ini bukan sekadar memilih untuk percaya atau tidak,

tetapi belajar untuk memahami tanpa merendahkan, dan mengkritisi tanpa memutus akar budaya.

Karena di antara keyakinan dan ilmu pengetahuan,

selalu ada ruang untuk berpikir lebih dalam.

Wallahua’lam bishawab

Baca juga 

ketika anak menjual harta orang tuanya

keutamaan shalat di Masjidil Haram

hukum rokok dalam Islam peta ijtihad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN ILMIAHTERHADAP KLAIM PEMBATASAN KAIFIYAH WITIR TIGA RAKAAT(Telaah Hadits Shahih, Atsar Salaf, dan Kaidah Istidlāl)

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS

Penjelasan singkat perbedaan waktu Maghrib antara jadwal edaran Purbalingga (PCNU atau Kemenag yang di jadikan pedoman Masjid, Mushola, Radio/TV) dan aplikasi ASR berpedoman BMKG