Nuzulul Qur’an dan Sejarah Kitab-Kitab Allah

Baca juga 

kafarat bagi orang yang sengaja membatalkan puasa

Pendahuluan
Peringatan Nuzulul Qur’an merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk menengok kembali perjalanan wahyu Allah dalam sejarah kenabian. Al-Qur’an tidak hadir dalam ruang kosong, melainkan sebagai puncak dari rangkaian panjang kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada para nabi-Nya.
Allah berfirman:
﴿وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا﴾
“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat).” (QS. Asy-Syura: 51)[2]
Sebagian wahyu dihimpun dalam bentuk kitab suci. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa semua kitab Allah membawa misi utama tauhid, meskipun rincian syariatnya berbeda sesuai kondisi umat dan zamannya.
Kitab-Kitab Allah dalam Lintasan Sejarah


1. Shuhuf Ibrahim
Tentang Shuhuf Ibrahim, Allah berfirman:
“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’la: 18–19)
Para ulama seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Shuhuf Ibrahim berisi nasihat, tauhid, dan akhlak, bukan hukum-hukum syariat yang rinci. Shuhuf ini tidak dibukukan dan tidak diwariskan dalam bentuk mushaf, sehingga tidak tersisa secara tekstual.

Baca juga 

puasa dan etika bermedia sosial
2. Taurat
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.” (QS. Al-Ma’idah: 44)
Mayoritas ulama, termasuk As-Suyuthi, berpendapat bahwa Taurat diturunkan sekaligus kepada Nabi Musa AS. Taurat berisi hukum-hukum yang tegas sebagai pedoman Bani Israil. Namun, setelah wafatnya Nabi Musa, penjagaan kitab ini diserahkan kepada para ulama mereka, sehingga terjadi perubahan dan penafsiran manusia.


3. Zabur
Allah berfirman:
“Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Dan sungguh Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi atas sebagian yang lain, dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.” (QS. Al-Isra’: 55)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Zabur tidak memuat hukum halal dan haram, melainkan doa, pujian, dan hikmah yang melembutkan hati. Zabur berfungsi sebagai penguat spiritual dan penyucian jiwa.

Baca juga 

peristiwa manusia setelah kematian
4. Injil
Allah berfirman:
“Dan Kami berikan kepadanya (Isa) Injil yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.” (QS. Al-Ma’idah: 46)
Menurut Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir, Injil diturunkan sekaligus kepada Nabi Isa AS dan lebih menekankan aspek tauhid, kasih sayang, serta perbaikan akhlak. Injil tidak dibukukan dalam bentuk mushaf, melainkan diajarkan secara lisan. Setelah Nabi Isa diangkat ke langit, ajaran Injil tersebar melalui ingatan dan tulisan para pengikutnya, sehingga mengalami perubahan (tahrif).


5. Al-Qur’an
Allah berfirman:
“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia.” (QS. Al-Isra’: 106)
Berbeda dengan kitab sebelumnya, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama sekitar 23 tahun. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa metode ini memudahkan umat dalam memahami, menghafal, dan mengamalkan ajaran Islam. Al-Qur’an telah dihafal dan ditulis sejak masa Nabi Muhammad SAW, lalu dibukukan secara resmi pada masa Khulafaur Rasyidin.
Allah juga menjamin penjagaan Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Nasib Kitab Setelah Wafat Para Nabi
Al-Qur’an menjelaskan bahwa kitab-kitab sebelum Al-Qur’an tidak mendapatkan jaminan penjagaan langsung dari Allah:
“Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri lalu berkata: ‘Ini dari Allah." (QS. Al-Baqarah: 79)
As-Suyuthi menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang dijaga melalui hafalan massal, penulisan resmi, dan pengawasan umat secara kolektif, sehingga keasliannya terpelihara hingga akhir zaman.

Baja juga 

bantahan ilmiah terhadap klaim pembatasan kaifiyah witir tiga rakaat
Penutup
Nuzulul Qur’an menandai puncak sejarah turunnya wahyu Allah kepada manusia. Dengan memahami perjalanan kitab-kitab Allah sebelumnya, umat Islam semakin menyadari keistimewaan Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk yang terjaga, sempurna, dan relevan sepanjang zaman.
Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah sumber utama pembentukan akidah, syariat, dan akhlak umat Islam, serta menjadi tolok ukur kebenaran dalam setiap persoalan agama. Beliau berkata:
«فَالْقُرْآنُ هُوَ أَصْلُ الْأُصُولِ، وَمِنْهُ تُسْتَمَدُّ الْأَحْكَامُ وَتُعْرَفُ مَعَالِمُ الدِّينِ»
“Al-Qur’an adalah pokok dari segala pokok, darinya hukum-hukum digali dan tanda-tanda agama dikenali.”

 Beliau menekankan bahwa menjaga kemurnian Al-Qur’an berarti menjaga agama itu sendiri.


KH. Sahal Mahfudh juga menegaskan bahwa Al-Qur’an harus dibaca dengan pendekatan tekstual dan kontekstual sekaligus, agar nilai-nilainya mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan ruh keilahiannya. Beliau menyatakan:
«النُّصُوصُ الشَّرْعِيَّةُ مَحْدُودَةٌ وَالْوَقَائِعُ غَيْرُ مَحْدُودَةٍ»
“Teks-teks syariat itu terbatas, sementara realitas kehidupan tidak terbatas.” Dalam konteks inilah peringatan Nuzulul Qur’an menjadi sarana aktualisasi ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sosial umat.


Imam Al-Ghazali menyebut Al-Qur’an sebagai cahaya yang apabila dibaca dengan adab dan pemahaman, akan menghidupkan hati yang mati dan meluruskan akal yang menyimpang. Beliau berkata:
«الْقُرْآنُ كَالْغَيْثِ، يَسْقِي كُلَّ أَرْضٍ عَلَى قَدْرِهَا»
“Al-Qur’an itu seperti hujan, ia menyirami setiap tanah sesuai kadar kemampuannya.”
Oleh karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat hubungan umat dengan Al-Qur’an, tidak hanya melalui pembacaan, tetapi juga penghayatan, pengamalan, dan pewarisan nilai-nilainya dalam kehidupan bermasyarakat.

Wallahua'lam bishawab 

Baca juga 

langkah Kiyai yang tergesa-gesa

Hukum menyebut Allah dengan sebutan Gusti


Daftar Referensi 
1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah [2]: 185.
2. Al-Qur’an al-Karim, QS. Asy-Syura [42]: 51.
3. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-A‘la [87]: 18–19.
4. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Ma’idah [5]: 44.
5. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Isra’ [17]: 55.
6. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Ma’idah [5]: 46.
7. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Isra’ [17]: 106.
8. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Hijr [15]: 9.
9. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah [2]: 79.
10. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Juz 1–8, Dar Thayyibah.
11. Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, Juz 1–20, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
12. As-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz 1–2, Dar al-Fikr.
13. Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Juz 1, Dar al-Ma‘rifah.
14. KH. Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, hlm. 23–25.
15. KH. Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqh Sosial, hlm. 45–47.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN ILMIAHTERHADAP KLAIM PEMBATASAN KAIFIYAH WITIR TIGA RAKAAT(Telaah Hadits Shahih, Atsar Salaf, dan Kaidah Istidlāl)

Penjelasan singkat perbedaan waktu Maghrib antara jadwal edaran Purbalingga (PCNU atau Kemenag yang di jadikan pedoman Masjid, Mushola, Radio/TV) dan aplikasi ASR berpedoman BMKG

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS