Postingan

Menampilkan postingan dengan label NU

JANGAN SAMPAI PERMALUKAN NU DENGAN ULahmu! Ketika Ambisi, Kekuasaan dan Kepentingan Pribadi Mulai Mengusik Marwah Jam’iyyah

Gambar
​ Catatan Kritis dari Akar Rumput untuk PBNU dan Para Pengambil Keputusan baca juga  NU bukan warisan kekuasaan Ada sesuatu yang akhir-akhir ini terasa semakin mengganggu hati sebagian warga Nahdlatul Ulama. Bukan karena NU kekurangan ulama. Bukan pula karena NU tidak memiliki kiai yang alim, tawadhu, berintegritas, sederhana, dan mempunyai keluasan ilmu serta keteladanan. Justru karena NU memiliki terlalu banyak ulama dan kiai yang layak , sehingga wajar apabila warga NU bertanya: Mengapa kepemimpinan tertinggi NU harus selalu membuat kami bertanya-tanya tentang prosesnya? Dan ketika pertanyaan itu muncul dari bawah, jangan buru-buru menyebut mereka pembangkang. Jangan pula mengatakan bahwa warga NU tidak mengerti organisasi. Sebab NU bukan milik PBNU. NU adalah milik umat. PBNU adalah pengurus yang menerima amanah dari umat, bukan pemilik NU yang boleh diperlakukan seperti milik pribadi. Baca juga  Islam ala Prabowo ketika agama bertemu penguasa KETIK...

KETIKA AHWA MEMILIH KEMBALI: ENAM SUARA MENANG, TIGA SUARA KALAH—LALU BAGAIMANA NASIB SUARA WARGA NU?

Gambar
Sebuah catatan tentang AHWA, perbedaan pandangan, rekam kepemimpinan, dan kegelisahan warga Nahdliyyin Baca juga  ketika AHWA memilih kembali:apakah akal sehat dan hati nurani telah dikaramkan? Ada keputusan yang cukup kita terima. Ada keputusan yang perlu kita hormati. Tetapi ada pula keputusan yang, meskipun sudah diketuk, tetap menyisakan pertanyaan. Bukan karena kita tidak menghormati para kiai. Bukan karena kita merasa lebih alim daripada mereka. Bukan pula karena kita ingin menggugat keputusan Muktamar. Tetapi karena kita adalah warga Nahdliyyin. Dan NU bukan sekadar organisasi yang mengajarkan kita untuk patuh. NU juga mewarisi tradisi bermusyawarah, berpikir, berbeda pendapat, mencari maslahat, dan mempertanggungjawabkan amanah. Maka ketika seorang Rais Aam yang sebelumnya telah memimpin satu periode kemudian kembali dipilih untuk masa khidmah berikutnya, sementara di tengah warga masih terdengar banyak kegelisahan, bertanya bukanlah dosa. Bertanya ad...

KETIKA AHWA MEMILIH KEMBALI: APAKAH AKAL SEHAT DAN HATI NURANI TELAH DIKARAMKAN?

Gambar
Baca juga  Rois Aam terburuk sepanjang perjalanan Catatan getir dari seorang Nahdliyyin yang masih mencintai NU Ada keputusan yang membuat kita bahagia. Ada keputusan yang membuat kita biasa saja. Dan ada pula keputusan yang membuat kita terdiam cukup lama, lalu bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?” Bukan karena kita tidak menghormati ulama. Bukan karena kita anti kepada kiai. Bukan pula karena kita ingin merendahkan orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk jam'iyyah. Justru karena kita masih mencintai Nahdlatul Ulama, kita merasa perlu bertanya. Ketika seseorang yang telah selesai menjalani satu periode kepemimpinan dengan begitu banyak kekecewaan di tengah warga NU, kemudian dipilih kembali untuk menduduki posisi yang sama, sebenarnya apa yang sedang kita pertimbangkan? Ilmu? Keteladanan? Prestasi? Akhlak? Kemampuan memimpin? Ataukah sekadar karena nama besar, senioritas, dan legitimasi sebuah forum? Pertanyaan ini menj...