JANGAN SAMPAI PERMALUKAN NU DENGAN ULahmu! Ketika Ambisi, Kekuasaan dan Kepentingan Pribadi Mulai Mengusik Marwah Jam’iyyah

Catatan Kritis dari Akar Rumput untuk PBNU dan Para Pengambil Keputusan

baca juga 

NU bukan warisan kekuasaan

Ada sesuatu yang akhir-akhir ini terasa semakin mengganggu hati sebagian warga Nahdlatul Ulama.

Bukan karena NU kekurangan ulama.

Bukan pula karena NU tidak memiliki kiai yang alim, tawadhu, berintegritas, sederhana, dan mempunyai keluasan ilmu serta keteladanan.

Justru karena NU memiliki terlalu banyak ulama dan kiai yang layak, sehingga wajar apabila warga NU bertanya:

Mengapa kepemimpinan tertinggi NU harus selalu membuat kami bertanya-tanya tentang prosesnya?

Dan ketika pertanyaan itu muncul dari bawah, jangan buru-buru menyebut mereka pembangkang.

Jangan pula mengatakan bahwa warga NU tidak mengerti organisasi.

Sebab NU bukan milik PBNU.

NU adalah milik umat.

PBNU adalah pengurus yang menerima amanah dari umat, bukan pemilik NU yang boleh diperlakukan seperti milik pribadi.

Baca juga 

Islam ala Prabowo ketika agama bertemu penguasa

KETIKA LEGALITAS BELUM TENTU BERARTI KEBAIKAN

Kita harus berani membedakan antara sah secara administratif dengan baik secara moral.

Sebuah keputusan mungkin saja memenuhi tata tertib.

Sebuah proses mungkin saja mempunyai berita acara.

Sebuah keputusan mungkin saja diketok secara resmi.

Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apakah prosesnya jujur?

Apakah prosesnya bersih?

Apakah tidak ada kepentingan tersembunyi?

Apakah tidak ada transaksi kepentingan?

Apakah suara para pengurus benar-benar lahir dari hati nurani dan pertimbangan keulamaan?

Sebab dalam tradisi NU, kita tidak hanya mengenal hukum sah dan tidak sah.

Kita juga mengenal halal dan haram, amanah dan khianat, ikhlas dan ambisi, taqwa dan hawa nafsu.

Jangan sampai kita pandai mencari celah agar sebuah tindakan tampak legal secara lahiriah, tetapi lupa bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi di baliknya.

Aturan organisasi bukan alat untuk melegalkan permainan kekuasaan.

Baca juga 

NU bukan warisan kekuasaan

AHWA BUKAN ALAT UNTUK MENGESAHKAN KEHENDAK SESEORANG

AHWA adalah salah satu kekayaan tradisi organisasi NU.

Tetapi AHWA harus menjadi representasi hikmah, ketakwaan, keilmuan, dan kejernihan hati.

Bukan sekadar instrumen untuk menghasilkan nama yang sudah dikehendaki sebelumnya.

Karena itu, apabila benar ada praktik pengondisian nama-nama tertentu, pengaturan suara, pendekatan kepada pengurus wilayah dan cabang dengan imbalan tertentu, atau pemberian uang yang dimaksudkan untuk memengaruhi pilihan—maka persoalannya bukan lagi sekadar politik organisasi.

Itu sudah menjadi persoalan moral.

Dan kalau memang tidak pernah terjadi, maka sangat sederhana:

Buka semuanya.

Buka mekanismenya.

Buka sumber pembiayaannya.

Buka siapa yang mendekati siapa.

Buka apa yang diberikan.

Buka untuk apa pemberian itu.

Buka seluruh prosesnya.

Sebab organisasi sebesar NU tidak seharusnya takut terhadap transparansi.

Orang yang bersih tidak perlu takut diperiksa.

Baca juga 

Rois Aam terburuk sepanjang perjalanan

JANGAN SEMUA UANG DISEBUT “UANG BENSIN”

Kita juga perlu belajar jujur kepada diri sendiri.

Jangan sampai sebuah pemberian yang dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan kemudian diberi nama yang lebih halus:

“uang bensin.”

“uang perjalanan.”

“uang transport.”

“uang pengganti lelah.”

Nama boleh berbeda.

Tetapi substansi tetap harus diperiksa.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tahu: ketika seseorang memberikan sesuatu karena mengharapkan keputusan tertentu, maka persoalannya tidak selesai hanya dengan mengganti nama pemberian tersebut.

Apalagi jika penerimanya sedang mempunyai kewenangan menentukan sesuatu yang menyangkut masa depan organisasi.

NU harus jauh lebih bersih daripada sekadar mampu memenuhi persyaratan hukum.

Sebab NU bukan hanya organisasi sosial.

NU membawa nama agama.

Baca juga 

ketika AHWA memilih kembali enam suara menang tiga kalah

RAIS AAM BUKAN SEKADAR JABATAN

Kepada siapa pun yang memperoleh amanah sebagai Rais Aam, termasuk KH Miftachul Akhyar yang kini kembali ditetapkan untuk masa khidmat 2026–2031, kita harus memberikan penghormatan sebagaimana mestinya. (Antara News)

Tetapi penghormatan tidak berarti membungkam kritik.

Justru semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin tinggi pula standar yang harus dikenakan kepadanya.

Rais Aam bukan jabatan untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.

Bukan panggung untuk mempertontonkan siapa yang paling pandai mengatur.

Bukan tempat untuk memuaskan ambisi pribadi.

Rais Aam adalah tempat orang menaruh harapan tentang keteladanan.

Warga NU di desa-desa tidak membutuhkan pemimpin yang hebat dalam permainan politik.

Mereka membutuhkan pemimpin yang ketika berbicara tentang zuhud, kehidupannya mencerminkan kezuhudan.

Ketika berbicara tentang amanah, ia paling takut mengkhianatinya.

Ketika berbicara tentang takwa, ia paling takut kepada Allah.

Dan ketika mendapat kekuasaan, ia justru semakin merendahkan dirinya.

Itulah yang dirindukan warga NU.

Baca juga 

akikah untuk orang yang sudah meninggal

JANGAN SAMPAI JABATAN MENJADI JALAN MENUJU KEMEWAHAN

Ada kegelisahan lain yang tidak boleh kita pura-pura tidak dengar.

Ketika NU memperoleh akses terhadap sumber-sumber ekonomi besar, termasuk konsesi pertambangan, wajar jika warga NU bertanya:

Untuk siapa semua itu?

PBNU memang telah memperoleh IUPK pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. Bahkan PBNU pernah menyatakan bahwa pengelolaan tambang harus dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel serta manfaatnya harus dapat disalurkan kepada masyarakat. (Antara News)

Maka pertanyaan warga NU bukan pertanyaan yang harus dimusuhi.

Justru harus dijawab.

Berapa hasilnya?

Ke mana alirannya?

Siapa yang mengelola?

Berapa biaya operasionalnya?

Berapa manfaat yang sampai kepada pesantren?

Berapa yang sampai kepada madrasah?

Berapa yang sampai kepada guru ngaji?

Berapa yang sampai kepada warga NU miskin?

Berapa yang dipakai untuk membangun rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, koperasi, dan ekonomi warga?

Dan yang paling penting:

Apakah seluruhnya diaudit secara independen dan dapat diketahui oleh warga NU?

Itulah pertanyaan yang sehat.

Bukan fitnah.

JANGAN SAMPAI WARGA NU HANYA MENDAPAT CERITA

Jangan sampai yang di atas memperoleh akses ekonomi, fasilitas, jaringan kekuasaan dan berbagai kemudahan,

sementara yang di bawah hanya mendapatkan:

ceramah tentang kesabaran.

Jangan sampai pengurus berbicara tentang pemberdayaan umat,

tetapi warga NU tetap kesulitan membayar sekolah anaknya.

Jangan sampai NU mempunyai bisnis besar,

tetapi pesantren kecil masih mencari dana untuk memperbaiki kamar mandi santri.

Jangan sampai ada pengurus yang kehidupannya berubah luar biasa cepat,

sementara masyarakat bawah diminta percaya begitu saja bahwa semuanya berasal dari sumber yang halal.

Kalau memang halal,

jelaskan.

Kalau memang bersih,

audit.

Kalau memang untuk umat,

tunjukkan manfaatnya.

Tidak perlu marah.

Tidak perlu mengintimidasi.

Tidak perlu menyingkirkan orang yang bertanya.

Baca juga 

peristiwa manusia setelah kematian

JANGAN SINGKIRKAN ORANG HANYA KARENA BERBEDA PENDAPAT

Inilah penyakit organisasi yang paling berbahaya.

Ketika kritik dianggap permusuhan.

Ketika orang yang berbeda pendapat dianggap pengkhianat.

Ketika orang yang bertanya dianggap tidak loyal.

Ketika orang yang mengingatkan justru disingkirkan.

Padahal sejarah NU dibangun oleh para kiai yang tidak takut mengatakan tidak ketika melihat sesuatu yang tidak benar.

NU bukan organisasi yang dibangun oleh budaya:

“pokoknya manut kepada atasan.”

NU dibangun oleh tradisi:

ta’dzim kepada ulama, tetapi tetap menjaga amar ma’ruf nahi munkar.

Kita hormat kepada kiai.

Tetapi kita juga punya kewajiban moral untuk mengingatkan kiai.

Sebab kiai juga manusia.

Yang maksum hanya Rasulullah ﷺ.

UNTUK PARA PENGURUS PW DAN PCNU

Saudara-saudaraku para pengurus PWNU dan PCNU,

jangan pernah merasa suara kalian murah.

Jangan menjual amanah hanya karena sebuah amplop.

Jangan menggadaikan masa depan NU hanya karena ongkos perjalanan.

Jangan menukar masa depan generasi NU dengan keuntungan sesaat.

Kalian dipilih bukan untuk menjadi kepanjangan tangan seseorang.

Kalian dipilih untuk menjadi penjaga amanah umat.

Kalau suatu hari ada yang bertanya:

“Mengapa dulu kamu memilih orang itu?”

Jangan sampai jawabannya:

“Karena saya diberi sesuatu.”

Tetapi jawablah:

“Karena setelah saya mempertimbangkan ilmu, akhlak, kapasitas, ketakwaan dan kemaslahatan NU, hati nurani saya mengatakan demikian.”

Itulah jawaban yang masih bisa dibawa menghadap Allah.

DARI JAWA TENGAH, DARI SUMATRA, DAN DARI MANA PUN WARGA NU BERADA

Suara seperti ini bukan suara Jawa Tengah.

Bukan suara Sumatra.

Bukan suara Jawa Timur.

Bukan suara satu kelompok.

Ini adalah suara warga NU yang sedang gelisah melihat rumah besarnya.

Di warung kopi.

Di serambi masjid.

Di pesantren.

Di majelis taklim.

Di rumah-rumah warga.

Di berbagai daerah.

Orang-orang NU sedang bertanya:

“NU kita akan dibawa ke mana?”

Pertanyaan itu jangan dimatikan.

Dengarkan.

Sebab mungkin saja di balik suara orang-orang kecil itu terdapat peringatan Allah kepada para pemegang amanah.

KEPADA RAIS AAM DAN PBNU: BUKTIKAN, BUKAN MARAH

Kepada KH Miftachul Akhyar dan seluruh jajaran PBNU,

kami tidak meminta kesempurnaan.

Kami hanya meminta keteladanan.

Kami tidak meminta pemimpin yang tidak pernah salah.

Kami meminta pemimpin yang ketika salah berani mengakui.

Kami tidak meminta organisasi yang tidak mempunyai kepentingan ekonomi.

Kami meminta ekonomi yang benar-benar kembali kepada umat.

Kami tidak meminta semua orang menyukai keputusan PBNU.

Kami meminta keputusan yang bersih, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dan kami tidak meminta agar kritik dibungkam.

Kami justru meminta:

Biarkan warga NU mengkritik.

Sebab kritik yang jujur jauh lebih baik daripada pujian yang dibayar.

SEBAB YANG AKAN DIADILI BUKAN HANYA HASILNYA

Mungkin suatu hari nanti orang akan mengatakan:

“Secara hukum tidak ada masalah.”

Tetapi pertanyaan Allah bukan hanya:

“Apakah aturan organisasi telah dipenuhi?”

Allah juga akan bertanya:

Dari mana hartamu?

Untuk apa kekuasaanmu?

Bagaimana amanahmu?

Apakah engkau mengambil hak orang lain?

Apakah engkau menggunakan jabatan untuk kepentingan dirimu sendiri?

Apakah engkau telah berlaku adil?

Karena itu, jangan bermain-main dengan amanah.

Jangan menggunakan nama ulama untuk membungkus ambisi.

Jangan menggunakan nama NU untuk kepentingan segelintir orang.

Jangan menggunakan agama untuk melegitimasi permainan kekuasaan.

Dan jangan mengira bahwa sesuatu yang lolos dari pemeriksaan manusia otomatis lolos dari pemeriksaan Allah.

Baca juga 

sejarah perkembangan ilmu falak

NU TIDAK MEMBUTUHKAN PEMIMPIN YANG PALING BERKUASA

NU membutuhkan pemimpin yang paling takut menyalahgunakan kekuasaan.

NU tidak membutuhkan orang yang paling pandai mempertahankan kursi.

NU membutuhkan orang yang siap kehilangan kursi demi kebenaran.

NU tidak membutuhkan orang yang paling banyak memiliki akses kepada penguasa.

NU membutuhkan orang yang berani mengingatkan penguasa ketika penguasa salah.

NU tidak membutuhkan pemimpin yang hidupnya semakin mewah karena jabatan.

NU membutuhkan pemimpin yang semakin tinggi kedudukannya,

semakin sederhana hidupnya, semakin luas manfaatnya, semakin rendah hatinya, dan semakin takut kepada Allah.

Karena pada akhirnya:

Rais Aam akan berganti.

Ketua Umum akan berganti.

Pengurus akan berganti.

Muktamar akan berlalu.

Tetapi nama baik NU harus tetap hidup.

Dan amanah itu akan kita pertanggungjawabkan,

bukan kepada manusia,

melainkan kepada:

Allah Subhanahu wa Ta’ala.

PENUTUP

Wahai warga NU,

jangan tinggalkan NU hanya karena kecewa kepada pengurusnya.

Jangan pula membela pengurus hanya karena takut dianggap tidak loyal.

Cintailah NU dengan cara yang lebih dewasa:

hormati ulamanya,

kritisi pengurusnya,

jaga marwah organisasinya,

awasi hartanya,

pertanyakan kebijakannya,

dan doakan para pemimpinnya.

Karena mencintai NU bukan berarti membenarkan semua yang dilakukan orang yang sedang memegang jabatan di NU.

Kadang-kadang,

kritik yang paling keras justru lahir dari kecintaan yang paling dalam.

Dan mungkin inilah saatnya kita semua bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah kita sedang menjaga NU untuk generasi berikutnya, atau sedang menggunakan NU untuk kepentingan kita sendiri?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi kalau dijawab dengan jujur,

mungkin akan membuat banyak orang tidak bisa tidur.

Baca juga 

ketika lidah tajam namun tangan tak mampu mengobati

ketika kebencian menutup pintu ilmu

langkah tergesa -gesa sang Kiai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN ILMIAHTERHADAP KLAIM PEMBATASAN KAIFIYAH WITIR TIGA RAKAAT(Telaah Hadits Shahih, Atsar Salaf, dan Kaidah Istidlāl)

Part 1 PANITIA KURBAN DAN BATAS KEWENANGANNYA MENURUT FIKIH SYAFI’I

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS