KETIKA MAULID BERBAUR SIMBOL SATANIK: ANTARA KARNAVAL, SENI, DAN BATAS-BATAS SYARIAT
Ketika ingin membuat sesuatu yang “unik”, jangan sampai simbol yang dipilih justru bertabrakan dengan ruh Maulid Nabi
Baca juga
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang barangkali perlu kita renungkan bersama:
Apakah setiap sesuatu yang unik layak ditampilkan dalam acara Maulid Nabi?
Pertanyaan ini muncul setelah masyarakat ramai membicarakan Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Maulid Nabi dan khitanan massal.
Karnaval tersebut kemudian menjadi sorotan setelah beredar video yang memperlihatkan penampilan dengan kostum menyeramkan, wajah tengkorak, peti mati, simbol-simbol yang oleh banyak orang diasosiasikan dengan satanisme, serta adegan yang berkaitan dengan penyembelihan kambing.
MUI kemudian menyatakan bahwa pertunjukan tersebut bertentangan dengan esensi ajaran Islam dan nilai-nilai Maulid Nabi. MUI
Pihak peserta memberikan penjelasan berbeda. Mereka mengatakan pertunjukan tersebut hanyalah bagian dari atraksi dan bukan ritual satanik. Mereka juga menyatakan bahwa kambing disembelih sesuai syariat, sedangkan kepala kambing yang berada di dalam peti telah dipersiapkan sebelumnya. detiknews
Karena itu, tulisan ini tidak hendak menghakimi niat pribadi para pelaku.
Namun ada persoalan yang jauh lebih penting:
Bolehkah sebuah acara yang membawa nama Maulid Nabi menggunakan simbol-simbol yang sangat dekat dengan gambaran ritual satanik hanya demi tampil unik dan menarik perhatian?
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan berpikir.
Satanic Itu Apa?
Istilah satanic atau satanisme sering dipakai secara sembarangan.
Semua kostum hitam, tengkorak, peti mati, darah, atau pertunjukan horor belum tentu merupakan ritual satanik. Jangan sampai kita menyamakan seni horor dengan ritual keagamaan satanis.
Secara historis, istilah Satanisme sendiri memiliki berbagai bentuk dan tidak semuanya memiliki konsep yang sama.
Misalnya, Church of Satan, yang didirikan Anton LaVey pada 1966, secara resmi menjelaskan dirinya sebagai gerakan yang bersifat ateistik-materialistik dan menjadikan Satan terutama sebagai simbol. Mereka juga menjelaskan bahwa ritual mereka dipandang sebagai bentuk psychodrama atau sarana pelepasan emosi, bukan penyembahan kepada makhluk gaib. (Church of Satan)
Baca juga
Ini penting kita ketahui supaya kita tidak membuat kesimpulan yang salah.
Jadi apakah semua ritual yang memakai simbol setan pasti Satanisme?
Tidak.
Tetapi sebaliknya, apakah seorang Muslim bebas menggunakan simbol-simbol satanik karena merasa itu hanya seni?
Juga tidak sesederhana itu.
Sebab dalam Islam, simbol bukan sesuatu yang selalu netral.
Ada simbol yang mempunyai makna tertentu dalam agama atau ideologi tertentu. Ketika seorang Muslim sengaja menampilkan simbol tersebut, ia harus mempertimbangkan makna, konteks, tujuan, dan dampak yang ditimbulkannya.
Masalah Besarnya Bukan Hanya “Satanic atau Bukan”
Menurut saya, di sinilah diskusi kita harus dinaikkan satu tingkat.
Jangan berhenti pada pertanyaan:
“Apakah itu benar-benar ritual Satanic?”
Ada pertanyaan yang lebih mendasar:
“Apakah pantas simbol seperti itu dibawa ke dalam acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ?”
Sebab sekalipun pelakunya berkata:
“Kami tidak bermaksud melakukan ritual Satanic.”
Kita masih boleh bertanya:
Lalu mengapa harus menggunakan simbol dan suasana yang menyerupai ritual tersebut?
Kalau tujuannya hanya membuat pertunjukan unik, bukankah masih ada ribuan bentuk kreativitas lain?
Bisa membuat drama tentang kelahiran Nabi.
Bisa membuat teatrikal perjalanan dakwah Rasulullah.
Bisa membuat kisah perjuangan Bilal bin Rabah.
Bisa menampilkan kisah hijrah.
Bisa membuat pertunjukan tentang akhlak Rasulullah.
Bisa mengangkat kisah para sahabat.
Bisa membuat karnaval budaya yang indah.
Bahkan bisa membuat pertunjukan modern dengan teknologi cahaya, musik, teatrikal, dan seni visual.
Mengapa justru memilih simbol yang membuat masyarakat menghubungkannya dengan satanisme?
Di sinilah kreativitas perlu ditemani oleh hikmah.
Baca juga
Maulid Nabi Bukan Sekadar “Nama Acara”
Ini bagian yang sangat penting.
Ketika sebuah acara diberi nama:
Maulid Nabi Muhammad ﷺ
maka nama tersebut membawa konsekuensi moral.
Maulid pada hakikatnya dimaksudkan untuk mengingat kelahiran, perjuangan, akhlak dan keteladanan Rasulullah ﷺ.
Memang, para ulama berbeda pendapat tentang status hukum peringatan Maulid sebagai sebuah bentuk perayaan khusus. Ada ulama yang membolehkan bahkan menganjurkannya karena di dalamnya terdapat pembacaan Al-Qur'an, shalawat, sirah, sedekah dan nasihat agama; sementara sebagian ulama lain mempersoalkan bentuk perayaannya karena tidak dilakukan oleh Nabi dan para sahabat.
Namun ada satu titik yang sangat mudah dipahami:
Kalau Maulid diselenggarakan, isinya semestinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang hendak kita hidupkan melalui kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
NU Online sendiri menjelaskan bahwa peringatan Maulid yang diisi dengan zikir, shalawat, membaca Al-Qur'an, taushiyah, silaturahmi dan sedekah merupakan bentuk kegiatan yang baik.
Maka pertanyaannya bukan semata:
“Apakah karnaval boleh?”
Karnaval sebagai bentuk budaya dan hiburan pada dasarnya tidak otomatis haram.
Pertanyaannya:
“Karnavalnya diisi dengan apa?”
Karena sesuatu yang pada asalnya mubah dapat berubah hukumnya ketika di dalamnya terdapat unsur yang dilarang.
“Kami Tidak Tahu Artinya” — Apakah Itu Cukup?
Ini juga pelajaran penting.
Misalnya seseorang berkata:
“Kami tidak tahu simbol itu artinya apa.”
Atau:
“Kami hanya ingin membuat pertunjukan unik.”
Kalau memang benar demikian, kita tidak perlu buru-buru menuduh mereka mempunyai keyakinan satanik.
Baca juga
Niat adalah perkara yang sangat penting.
Tetapi ketidaktahuan juga bukan alasan untuk berhenti belajar.
Bayangkan seseorang memakai simbol organisasi tertentu tanpa mengetahui maknanya.
Apakah ketidaktahuannya otomatis mengubah makna simbol tersebut?
Belum tentu.
Begitu pula dalam agama.
Sebuah simbol bisa memiliki makna sosial yang lebih luas daripada niat orang yang memakainya.
Karena itu, orang yang hendak membuat pertunjukan seharusnya melakukan riset terlebih dahulu.
Apalagi ketika pertunjukan itu dimasukkan ke dalam acara keagamaan.
Bagaimana Hukum Muslim Meniru Simbol atau Ritual Agama Lain?
Dalam persoalan ini ada kaidah penting yang sering dibahas dalam fikih:
التَّشَبُّهُ بِأَهْلِ الْبَاطِلِ
yakni persoalan menyerupai kelompok lain dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”
Hadis ini diriwayatkan Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban sebagaimana dicantumkan dalam sejumlah kitab hadis.
Namun hadis ini juga tidak boleh digunakan secara serampangan.
Tidak setiap kesamaan bentuk otomatis berarti haram.
Contohnya, memakai kendaraan, menggunakan teknologi, memakai model pakaian tertentu, atau menggunakan alat yang juga digunakan non-Muslim tidak otomatis masuk kategori tasyabbuh.
Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang sengaja menyerupai ciri khas keagamaan atau simbol yang menjadi identitas kelompok tertentu, khususnya apabila terdapat unsur pengagungan, pembenaran, atau kebanggaan terhadap simbol tersebut.
Karena itu, dalam kasus Pekalongan, kita perlu membedakan:
1. Menjalankan ritual Satanic karena percaya atau mengagungkannya.
Ini persoalan akidah yang sangat serius.
2. Sengaja meniru ritual atau simbol keagamaan/ideologis tertentu untuk hiburan.
Ini tetap bermasalah dari sisi tasyabbuh, kehormatan simbol dan kepantasan acara.
3. Menggunakan simbol secara tidak sengaja karena tidak memahami maknanya.
Ini tidak sama dengan dua keadaan sebelumnya. Ada unsur ketidaktahuan yang harus diperhitungkan.
Tetapi setelah maknanya diketahui, tentu sikap yang lebih bijaksana adalah meninggalkannya.
Apalagi Kalau Dibawa ke Acara Maulid
Di sinilah persoalannya menjadi semakin sensitif.
Bayangkan ada sebuah acara bertuliskan:
“Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ.”
Kemudian masyarakat melihat:
wajah tengkorak,
kostum menyeramkan,
peti mati,
simbol yang diasosiasikan dengan satanisme,
suasana ritual mistik,
dan adegan penyembelihan hewan.
Walaupun panitia mengatakan:
“Itu hanya seni.”
Tetap saja masyarakat berhak bertanya:
“Seni apa yang sedang kita tampilkan dalam rangka Maulid Nabi?”
Sebab tidak semua seni cocok untuk semua tempat dan semua momentum.
Film horor boleh saja dibuat.
Teater horor bisa saja dibuat.
Pertunjukan mistik mungkin saja menjadi bagian dari karya seni tertentu.
Tetapi ketika semuanya dimasukkan ke dalam perayaan Maulid Nabi, konteksnya berubah.
Baca juga
Persoalan Penyembelihan Kambing Juga Tidak Sederhana
Ada satu aspek yang menurut saya jangan dilewatkan.
Islam tidak mengharamkan penyembelihan hewan.
Bahkan penyembelihan hewan secara syar'i adalah sesuatu yang dikenal dalam fikih.
Tetapi Islam juga mengajarkan ihsan kepada hewan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan dalam segala sesuatu. Jika kalian menyembelih, maka lakukanlah penyembelihan dengan baik. Hendaknya salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan membuat hewan sembelihannya merasa nyaman.”
(HR. Muslim).
Maka penyembelihan bukanlah tontonan untuk mempertontonkan penderitaan hewan.
Ada adabnya.
Bahkan kalau penyembelihan tersebut secara teknis memenuhi syarat sah, kita tetap perlu bertanya:
Apakah tepat menjadikan proses penyembelihan hewan sebagai bagian dari teatrikal horor di tengah kerumunan masyarakat?
Ini dua pembahasan yang berbeda:
Sah atau tidaknya penyembelihan secara fikih adalah satu persoalan.
Etis atau tidaknya menjadikan penyembelihan sebagai atraksi pertunjukan adalah persoalan lain.
Jangan dicampur.
Islam Tidak Mengajarkan Kekejaman sebagai Hiburan
Ini justru yang sangat indah dari ajaran Rasulullah ﷺ.
Beliau tidak hanya mengatur manusia ketika beribadah kepada Allah.
Beliau bahkan mengajarkan manusia bagaimana memperlakukan seekor hewan ketika hendak disembelih.
Pisau ditajamkan.
Hewan tidak disiksa.
Penyembelihan dilakukan dengan cara yang baik.
Jadi kalau ada sebuah pertunjukan yang sengaja menampilkan darah, kematian dan penyembelihan sebagai efek untuk menakut-nakuti penonton, maka seorang Muslim layak bertanya:
Apakah ini mencerminkan rahmah yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ?
Allah sendiri menyebut Rasulullah ﷺ sebagai:
رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya': 107)
Baca juga
Maka semangat Maulid mestinya semakin mendekatkan kita kepada rahmah, bukan sekadar mengejar efek kejut.
Jangan Sampai “Unik” Mengalahkan “Baik”
Inilah penyakit zaman sekarang.
Kadang-kadang kita berpikir:
“Kalau biasa, tidak viral.”
Akhirnya segala sesuatu dibuat semakin ekstrem.
Yang biasa dianggap kurang menarik.
Yang sopan dianggap kurang keren.
Yang mendidik dianggap kurang ramai.
Maka muncullah pertunjukan yang semakin menyeramkan, semakin kontroversial dan semakin mengejutkan.
Padahal:
viral belum tentu bernilai.
Sesuatu yang membuat ribuan orang menonton belum tentu membuat satu orang menjadi lebih baik.
Dan sesuatu yang membuat media sosial ramai belum tentu membuat hati menjadi dekat kepada Allah.
Kita Perlu Membedakan Kreativitas dan Kebebasan Tanpa Batas
Islam tidak anti-kreativitas.
Islam juga tidak melarang budaya lokal.
Karnaval boleh menjadi media dakwah.
Seni boleh menjadi sarana pendidikan.
Budaya boleh menjadi sarana mempererat masyarakat.
Tetapi semuanya memiliki batas.
Kreativitas tidak berarti bebas dari nilai.
Seorang seniman boleh bertanya:
“Apa yang belum pernah ditampilkan?”
Tetapi seorang Muslim juga harus bertanya:
“Apakah sesuatu yang belum pernah ditampilkan itu layak ditampilkan?”
Itulah bedanya kreativitas dengan kebijaksanaan.
Maulid Seharusnya Membuat Kita Bertanya: Sudahkah Kita Meneladani Nabi?
Jangan sampai kita sibuk membuat karnaval tentang Nabi, tetapi lupa akhlak Nabi.
Kita membuat panggung tentang Rasulullah, tetapi masih mudah mencaci.
Kita membaca shalawat, tetapi masih senang merendahkan orang.
Kita mengadakan pengajian Maulid, tetapi tetangga masih kesulitan.
Kita mengarak berbagai simbol, tetapi kejujuran dalam berdagang masih kita tinggalkan.
Padahal inti mengenal Rasulullah ﷺ bukan hanya mengetahui kapan beliau lahir.
Tetapi belajar bagaimana beliau hidup.
Beliau adalah manusia yang penuh kasih sayang.
Pemaaf.
Jujur.
Amanah.
Rendah hati.
Menghormati manusia.
Menyayangi makhluk.
Maka Maulid yang paling indah adalah Maulid yang membuat akhlak Rasulullah hidup kembali dalam diri kita.
Bukan Membenci Pelakunya, Tetapi Mengkritik Pilihannya
Tulisan ini juga jangan dipahami sebagai ajakan untuk menghujat orang-orang yang terlibat.
Kita tidak mengetahui isi hati mereka.
Kita tidak boleh sembarangan mengatakan:
“Mereka penyembah setan.”
“Mereka Satanis.”
“Mereka menghina Nabi.”
Kalimat-kalimat seperti itu memerlukan bukti tentang niat dan keyakinan seseorang.
Yang dapat kita kritik adalah:
pilihan simbol, konsep pertunjukan, konteks acara dan kesesuaiannya dengan nilai Islam.
Ini jauh lebih adil.
Kalau memang mereka tidak bermaksud melakukan ritual Satanic, maka kita terima klarifikasi itu.
Tetapi kita juga boleh mengatakan:
“Kalau memang tidak bermaksud demikian, justru ke depan jangan gunakan simbol-simbol yang menimbulkan kesan demikian, apalagi dalam acara Maulid Nabi.”
Ini kritik yang mendidik.
Bukan penghukuman.
Pelajaran Terbesar dari Peristiwa Ini
Menurut saya ada setidaknya lima pelajaran penting.
Pertama: Kreativitas membutuhkan pengetahuan
Sebelum menggunakan simbol tertentu, pelajari dahulu sejarah dan maknanya.
Jangan sampai karena ingin terlihat unik, justru menggunakan simbol yang bertentangan dengan nilai yang kita bawa.
Kedua: Panitia harus memahami seluruh isi acara
Kalau sebuah acara memakai nama Maulid Nabi, panitia tidak cukup hanya mengurus panggung, konsumsi dan keamanan.
Panitia juga harus memahami:
“Apa sebenarnya yang sedang kami tampilkan?”
Ketiga: Tidak semua yang viral itu layak ditiru
Media sosial memberi penghargaan pada sesuatu yang menarik perhatian.
Islam memberi ukuran yang berbeda:
halal-haram, manfaat-mudarat, adab dan maslahat.
Keempat: Seni Islam tidak harus selalu kaku
Kita boleh kreatif.
Kita boleh modern.
Kita boleh menggunakan teknologi.
Kita boleh membuat karnaval.
Tetapi kreativitas tersebut harus tetap membawa ruh Islam.
Kelima: Maulid harus kembali kepada akhlak Rasulullah ﷺ
Kalau setelah acara Maulid kita menjadi lebih lembut, lebih jujur, lebih peduli kepada tetangga dan lebih cinta kepada Rasulullah, maka di situlah ruh Maulid mulai terasa.
Penutup: Jangan Sampai Kita Salah Memahami Arti “Memeriahkan”
Memeriahkan Maulid Nabi tidak harus dengan sesuatu yang paling gaduh.
Tidak harus dengan sesuatu yang paling aneh.
Tidak harus dengan sesuatu yang paling viral.
Tidak harus dengan sesuatu yang membuat orang ketakutan.
Dan tidak harus dengan sesuatu yang membuat masyarakat bertanya:
“Ini sebenarnya acara Maulid atau ritual apa?”
Justru semakin kita mencintai Rasulullah ﷺ, semakin kita seharusnya berhati-hati memilih apa yang kita tampilkan atas nama beliau.
Sebab nama Muhammad ﷺ bukan sekadar tulisan di spanduk.
Bukan sekadar judul acara.
Bukan sekadar alasan mengadakan keramaian.
Nama itu adalah nama manusia yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Maka kalau kita ingin membuat karnaval, buatlah karnaval yang mengingatkan orang kepada beliau.
Kalau ingin membuat teatrikal, tampilkan perjuangan beliau.
Kalau ingin membuat pertunjukan seni, tampilkan keindahan akhlaknya.
Kalau ingin membuat acara yang viral, biarlah yang viral adalah shalawatnya, sedekahnya, santun bahasanya, dan manfaatnya.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting dalam Maulid bukan:
“Seberapa unik acara kita?”
Tetapi:
“Setelah acara ini selesai, seberapa dekat kita dengan akhlak Rasulullah ﷺ?”
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Baca juga
Komentar
Posting Komentar