NU BUKAN WARISAN KEKUASAAN Ketika Amanah Diperebutkan, Marwah Dipertaruhkan

Sebuah Catatan Kritis dari Akar Rumput untuk Para Pemegang Amanah NU

baca juga 
Rois aam terburuk sepanjang perjalanan

ketika AHWA memilih kembali enam suara dan tiga suara

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada saatnya seorang nahdliyin harus berhenti hanya menjadi orang yang manut.

Ada saatnya kita harus bertanya.

Ada saatnya kita harus mengingatkan.

Dan ada saatnya kita harus berkata:

“Mohon maaf, ini bukan soal siapa yang kita sukai dan siapa yang tidak kita sukai. Ini soal masa depan NU.”

Sebab kecintaan kepada NU tidak boleh membuat akal sehat kita mati.

Ketaatan kepada ulama tidak boleh berubah menjadi kultus individu.

Dan penghormatan kepada pengurus tidak boleh berarti menyerahkan seluruh kewarasan kita kepada keputusan manusia.

NU adalah jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah.

Di dalamnya ada agama, ada umat, ada amanah, ada ilmu, ada akhlak, dan ada tanggung jawab di hadapan Allah.

Maka ketika urusan kepemimpinan mulai menimbulkan kegelisahan di akar rumput, suara kegelisahan itu tidak semestinya dibungkam.

Dengarkan!

JABATAN DALAM NU BUKAN HADIAH

Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat keras tentang kecintaan terhadap kepemimpinan.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan.”

Mengapa?

Karena jabatan bukan kemuliaan yang boleh dikejar dengan segala cara.

Jabatan adalah amanah.

Dan amanah akan menjadi kehormatan apabila dijalankan dengan benar.

Tetapi jabatan dapat berubah menjadi fitnah dan penyesalan apabila dikejar karena hawa nafsu.

Maka kita perlu bertanya dengan jujur:

Apakah kita sedang mencari jabatan untuk mengabdi kepada NU, atau sedang mencari NU untuk mendapatkan jabatan?

Pertanyaan ini harus ditujukan kepada semua.

Termasuk kepada diri kita sendiri.

Baca juga 

ketika AHWA memilih kembali

HUBBUL JAH: PENYAKIT YANG LEBIH HALUS DARIPADA RASA LAPAR

Para ulama tasawuf telah lama mengingatkan bahaya hubb al-jah—cinta kedudukan dan kehormatan di mata manusia.

Seseorang bisa saja terlihat sangat alim.

Jubahnya rapi.

Sorbannya indah.

Bicaranya penuh ayat dan hadis.

Tetapi hati manusia bukan milik manusia.

Allah yang mengetahui apa yang ada di dalam dada.

Karena itu jangan sampai simbol kealiman menjadi kendaraan menuju kekuasaan.

Sebab orang yang benar-benar takut kepada Allah biasanya justru takut ketika diberi amanah.

Ia tidak sibuk berkata:

“Saya pantas.”

Ia lebih sering bertanya:

“Apakah saya mampu mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah?”

Itulah perbedaan antara orang yang mengejar amanah dengan orang yang dikejar amanah.

AHWA JANGAN BERUBAH MENJADI “ALAT PEMBENAR”

Kita menghormati sistem AHWA.

Kita menghormati para masyayikh.

Kita menghormati keputusan organisasi.

Tetapi jangan pernah menganggap bahwa setiap keputusan yang lahir dari mekanisme organisasi otomatis bebas dari pertanyaan moral.

Legalitas organisatoris bukan jaminan kesucian niat.

Kalau prosesnya bersih, tunjukkan kebersihannya.

Kalau tidak ada transaksi, katakan tidak ada transaksi.

Kalau tidak ada pengondisian, buka prosesnya.

Kalau tidak ada permainan, jangan takut diaudit.

Karena yang kita bicarakan bukan pemilihan ketua RT.

Yang sedang dipertaruhkan adalah marwah jam’iyyah terbesar umat Islam Indonesia.

DAN KALAU ADA UANG?

Di sinilah kita harus berhenti bermain-main dengan istilah.

Jika benar ada uang yang diberikan kepada pengurus untuk memengaruhi usulan atau pilihan politik organisasi, maka jangan buru-buru menyebutnya:

“uang bensin.”

“uang transport.”

“uang jalan.”

“uang lelah.”

Nama bukan ukuran halal-haram.

Substansi dan niatlah yang harus diperiksa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

“Allah melaknat pemberi suap dan penerima suap.”

Karena itu, kalau ada tuduhan semacam ini, jangan diselesaikan dengan marah kepada orang yang bertanya.

Selidiki.

Audit.

Periksa.

Konfrontasikan dengan bukti.

Dan kalau ternyata tidak benar, bersihkan nama orang yang dituduh.

Tetapi kalau benar?

Jangan lindungi hanya karena dia kiai.

Jangan lindungi karena dia pejabat NU.

Jangan lindungi karena dia orang dekat penguasa.

Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena pelakunya orang yang kita hormat

Baca juga 

akikah bagi orang yang sudah meninggal

KARENA ULAMA PUN HARUS DIAWASI DENGAN AMANAH

Ada kalimat yang kadang terasa pahit tetapi perlu kita ingat:

“Kita menghormati kiai bukan berarti menganggap kiai tidak mungkin salah.”

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, tidak ada manusia biasa yang maksum.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang maksum.

Selain beliau?

Bisa benar, bisa salah.

Karena itu, kritik terhadap pengurus NU bukan berarti kritik terhadap Islam.

Kritik terhadap PBNU bukan berarti anti-NU.

Kritik terhadap seorang kiai bukan berarti membenci ulama.

Yang harus kita lihat adalah:

Apakah kritik tersebut benar atau tidak?

Jika benar, perbaiki.

Jika salah, bantah dengan ilmu.

Bukan dengan intimidasi.

NU JANGAN MENJADI TANGGA MENUJU KEKUASAAN

Inilah kegelisahan terbesar warga NU hari ini.

Jangan sampai NU menjadi tangga.

Ketika membutuhkan suara umat, NU dipanggil.

Ketika membutuhkan legitimasi, NU dicari.

Ketika membutuhkan massa, warga NU dikerahkan.

Tetapi ketika keputusan dibuat?

Warga NU hanya diminta diam.

Tidak!

NU bukan kendaraan pribadi.

NU bukan perusahaan keluarga.

NU bukan tangga menuju kekuasaan.

Dan NU bukan mesin untuk memperkaya segelintir orang.

NU adalah amanah umat.

Baca juga 

ngidam dan demarenen warisan budaya

TAMBANG: KALAU MEMANG UNTUK UMAT, TUNJUKKAN MANFAATNYA

Ketika negara memberikan ruang kepada NU untuk mengelola sumber daya ekonomi, termasuk pertambangan, maka pertanyaan warga NU adalah pertanyaan yang sangat wajar:

“Apa manfaatnya untuk umat?”

Jangan marah ketika warga bertanya.

Justru jawablah.

Berapa pemasukan?

Berapa biaya?

Berapa keuntungan bersih?

Siapa pengelolanya?

Siapa pengawasnya?

Berapa yang diberikan kepada pesantren?

Berapa untuk pendidikan?

Berapa untuk kesehatan?

Berapa untuk pemberdayaan ekonomi warga miskin?

Berapa untuk madrasah?

Berapa untuk guru ngaji?

Berapa untuk fakir miskin?

Dan berapa yang masuk ke lembaga?

Semua harus jelas.

Karena ketika aset yang dikelola membawa nama NU, maka secara moral masyarakat NU berhak mendapatkan penjelasan.

Transparansi bukan penghinaan terhadap pengurus.

Transparansi adalah penghormatan terhadap amanah.

JANGAN SAMPAI KEHIDUPAN ELIT BERUBAH, SEMENTARA WARGA TETAP SAMA

Ini memang harus disampaikan dengan hati-hati.

Kalau ada warga yang melihat perubahan gaya hidup sebagian elite NU setelah memperoleh akses terhadap kekuasaan dan sumber ekonomi, jangan langsung kita tuduh bahwa kekayaan tersebut haram.

Itu tidak adil.

Bisa saja sumbernya halal.

Bisa saja berasal dari usaha pribadi.

Bisa saja warisan.

Bisa saja bisnis.

Tetapi justru karena itu:

jelaskan.

Sebab seorang pemimpin yang hidupnya sederhana tidak perlu banyak menjelaskan.

Tetapi ketika perubahan kekayaan terlihat sangat mencolok, transparansi justru menjadi kebutuhan moral.

Bukan karena kita iri.

Tetapi karena kita menjaga husnuzhan sekaligus kehati-hatian.

JANGAN BUNUH ORANG YANG MENGKRITIK

Ada penyakit lain yang jauh lebih berbahaya:

menyingkirkan orang yang tidak sejalan.

Hari ini dia dianggap tidak loyal.

Besok dijauhkan.

Lusa tidak diberi ruang.

Akhirnya orang-orang yang kritis pergi.

Yang tersisa hanyalah orang-orang yang berkata:

“Siap, Kiai.”

“Betul, Kiai.”

“Laksanakan, Kiai.”

“Tidak ada masalah, Kiai.”

Hati-hati!

Organisasi yang hanya mendengar pujian sedang menuju kematian intelektual.

Karena ketika semua orang takut berbicara,

kesalahan akan tumbuh tanpa koreksi.

JAWA TENGAH BERTANYA, SUMATRA PUN BERTANYA

Menariknya, kegelisahan tentang arah NU tidak hanya terdengar di satu daerah.

Dari Jawa Tengah, tempat pesantren dan tradisi NU mengakar kuat,

hingga Sumatra, tempat warga NU juga terus tumbuh dan berkembang,

pertanyaan yang muncul memiliki nada yang hampir sama:

“NU kita mau dibawa ke mana?”

Ini bukan soal Jawa versus luar Jawa.

Bukan soal kelompok versus kelompok.

Ini soal NU versus penyakit yang selalu mengancam setiap organisasi ketika kekuasaan mulai lebih menarik daripada pengabdian.

Baca juga 

ketika anak menjual' harta orang tuanya

JANGAN TUNGGU SAMPAI WARGA NU KEHILANGAN RASA BANGGA

Ada rasa malu yang sulit dijelaskan.

Bukan malu karena NU memiliki kekurangan.

Tidak.

Kekurangan adalah manusiawi.

Yang membuat malu adalah ketika sebuah organisasi keagamaan besar justru terlihat sibuk dengan perebutan pengaruh, jabatan, fasilitas dan kekuasaan.

Sementara para kiai kampung tetap mengajar ngaji dengan honor seadanya.

Guru madrasah tetap berjuang dengan penghasilan kecil.

Santri tetap membutuhkan beasiswa.

Pesantren kecil tetap mencari biaya pembangunan.

Petani NU tetap bergelut dengan kemiskinan.

Pedagang kecil tetap kesulitan modal.

Kalau begitu,

di mana manfaat kebesaran NU?

Baca juga 

menunggu kehancuran perusak NU

KEPADA KH MIFTACHUL AKHYAR

Kepada beliau yang kini mendapat amanah sebagai Rais Aam PBNU, saya tidak ingin menghina.

Saya juga tidak ingin merendahkan.

Saya justru ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin lebih penting daripada pujian:

Tunjukkan bahwa semua kegelisahan warga itu keliru.

Tidak perlu membalas kritik dengan kemarahan.

Tidak perlu mencari siapa yang menulis.

Tidak perlu mencari siapa yang menyebarkan.

Tidak perlu menyingkirkan orang yang berbeda.

Jawablah dengan keteladanan.

Jika orang mengatakan Anda mengejar jabatan,

tunjukkan bahwa Anda mengejar kemaslahatan.

Jika orang mengatakan ada permainan kekuasaan,

tunjukkan proses yang transparan.

Jika orang mengatakan ada kepentingan ekonomi,

tunjukkan laporan yang terbuka.

Jika orang mengatakan NU sedang dikuasai segelintir elite,

bukalah ruang selebar-lebarnya bagi warga NU.

Jika orang mengatakan para pengurus hanya sibuk dengan kekuasaan,

turunlah kepada pesantren, madrasah, masjid, guru ngaji dan warga miskin.

Bantahlah kritik bukan dengan kata-kata, tetapi dengan karya.

KEPADA PARA PENGURUS PBNU

Jangan takut terhadap warga NU yang kritis.

Takutlah kepada saat ketika tidak ada lagi warga NU yang peduli.

Karena orang yang masih marah berarti masih mencintai.

Orang yang masih mengkritik berarti masih berharap.

Yang lebih berbahaya adalah ketika warga NU sudah tidak peduli.

Ketika mereka berkata:

“Terserah PBNU.”

Itulah tanda cinta mulai hilang.

DAN KEPADA WARGA NU

Jangan pula kita menjadi hakim tanpa bukti.

Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas.

Jangan mencaci.

Jangan memfitnah.

Jangan menjadikan kritik sebagai alasan untuk menghina ulama.

Kita harus menjaga adab.

Tetapi adab tidak berarti diam terhadap ketidakadilan.

Santun bukan berarti bungkam.

Tawadhu bukan berarti bodoh.

Ta’dzim bukan berarti kehilangan daya kritis.

Tabayyun bukan berarti menerima semua keputusan tanpa pertanyaan.

Justru inilah akhlak nahdliyin:

berilmu sebelum berbicara, bertabayyun sebelum menuduh, tetapi berani berkata benar ketika kebenaran membutuhkan suara.

KARENA KITA SEMUA AKAN MATI

Pada akhirnya,

Rais Aam akan selesai masa khidmahnya.

Ketua Umum akan berganti.

PBNU akan berganti.

PWNU akan berganti.

PCNU akan berganti.

Nama-nama yang hari ini begitu besar suatu saat hanya akan menjadi catatan sejarah.

Rumah mewah akan ditinggalkan.

Mobil akan ditinggalkan.

Jabatan akan ditinggalkan.

Kekuasaan akan ditinggalkan.

Yang ikut ke kubur hanya amal.

Maka jangan terlalu bangga dengan jabatan.

Jangan terlalu senang dengan fasilitas.

Jangan terlalu sibuk mengumpulkan harta.

Jangan terlalu bernafsu mempertahankan kekuasaan.

Karena suatu hari nanti kita semua akan berdiri sendirian di hadapan Allah.

Tanpa PBNU.

Tanpa PWNU.

Tanpa PCNU.

Tanpa pengawal.

Tanpa kolega.

Tanpa penguasa.

Tanpa uang.

Tanpa jabatan.

Yang ada hanya:

amal dan pertanggungjawaban.

NU HARUS KEMBALI MENJADI RUMAH UMAT

NU tidak membutuhkan pemimpin yang paling pandai memainkan kekuasaan.

NU membutuhkan pemimpin yang paling takut menyalahgunakan kekuasaan.

NU tidak membutuhkan orang yang paling kuat mempertahankan kursinya.

NU membutuhkan orang yang siap meninggalkan kursi ketika amanah tidak lagi mampu dijalankan.

NU tidak membutuhkan pemimpin yang semakin tinggi semakin jauh dari rakyat.

NU membutuhkan pemimpin yang semakin tinggi jabatannya,

semakin rendah hatinya.

Semakin besar fasilitasnya,

semakin besar manfaatnya.

Semakin luas kekuasaannya,

semakin takut kepada Allah.

PESAN TERAKHIR

Wahai para pemegang amanah NU,

jangan gunakan nama ulama untuk melindungi ambisi.

Jangan gunakan nama NU untuk melindungi kepentingan pribadi.

Jangan gunakan legalitas organisasi untuk membenarkan sesuatu yang secara moral tidak benar.

Dan kepada warga NU:

jangan tinggalkan NU hanya karena kecewa kepada pengurusnya.

Justru rawat NU.

Jaga NU.

Kritik NU.

Doakan NU.

Perbaiki NU.

Sebab NU terlalu besar untuk diserahkan kepada segelintir orang.

Dan terlalu mulia untuk dijadikan kendaraan ambisi pribadi.

Kalau hari ini kita masih berani berkata:

“Ini tidak benar.”

bukan berarti kita membenci NU.

Mungkin justru karena kita masih sangat mencintainya.

Sebab terkadang,

teriakan paling keras bukan lahir dari kebencian, tetapi dari kecintaan yang sedang terluka.

Dan semoga suatu hari nanti,

warga NU tidak lagi bertanya:

“Siapa yang berhasil mendapatkan jabatan?”

Tetapi bertanya:

“Siapa yang paling mampu mempertanggungjawabkan amanahnya di hadapan Allah?”

Karena itulah ukuran kepemimpinan yang sesungguhnya.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ أُمَّتِنَا وَجَمْعِيَّةَ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ، وَوَفِّقْ قَادَتَهَا لِمَا فِيهِ خَيْرُ الدِّيْنِ وَالْوَطَنِ وَالْمُسْلِمِينَ.

Ya Allah, perbaikilah keadaan umat kami dan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Berilah para pemimpinnya petunjuk untuk melakukan apa yang terbaik bagi agama, bangsa, dan umat Islam.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Baca juga 

ketika ilmu dikalahkan oleh nafsu

ketika lidah tajam namun tangan tak mampu mengobati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part 1 PANITIA KURBAN DAN BATAS KEWENANGANNYA MENURUT FIKIH SYAFI’I

BANTAHAN ILMIAHTERHADAP KLAIM PEMBATASAN KAIFIYAH WITIR TIGA RAKAAT(Telaah Hadits Shahih, Atsar Salaf, dan Kaidah Istidlāl)

RIZKI, ASAP ROKOK, DAN KETELA GORENG PANAS